Menghidupkan Al-Qur'an Berarti Mengamalkan Nilai-Nilainya dalam Kehidupan Sehari-
- 18 Jul 2026 08:00 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Menghidupkan Al-Qur'an tidak hanya dilakukan dengan membacanya, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu disampaikan Ustazah Anny Syukriya, Creator Of Daily Thoughts, Bidang Dakwah PCNA Lowokwaru, dalam tausiah program Mutiara Pagi PRO 1 RRI Surabaya, Sabtu, 18 Juli 2026.
Menurut Ustazah Anny, kebiasaan berinteraksi dengan Al-Qur'an perlu terus dibangun di tengah kesibukan masyarakat. Ia mengajak umat Islam untuk mulai bertanya kepada diri sendiri, kapan terakhir kali membaca Al-Qur'an.
"Menghidupkan Al-Qur'an sebenarnya adalah menghidupkan pesan-pesan Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaannya, kapan terakhir kita membaca Al-Qur'an? Ini menjadi pengingat bagi kita. Terkadang kita memiliki Al-Qur'an, tetapi tidak lagi membacanya atau keinginan untuk berinteraksi dengannya mulai hilang," ujarnya.
Ia menjelaskan, ajakan untuk membaca Al-Qur'an telah ditegaskan Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 121. "Orang-orang yang telah Kami berikan Kitab kepada mereka, mereka membacanya sebagaimana mestinya. Mereka itulah yang beriman kepadanya."(QS. Al-Baqarah: 121).
Menurut Ustazah Anny, frasa haqqa tilawatih atau membacanya sebagaimana mestinya tidak hanya berarti melafalkan ayat-ayat Al-Qur'an. Tilawah juga mengandung makna melibatkan lisan, hati, dan pikiran sehingga setiap ayat dipahami, dihayati, kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Saat kita berinteraksi dengan Al-Qur'an, lisan membaca ayat-ayatnya, hati meresapi maknanya, dan pikiran mendorong kita untuk mengamalkannya. Jadi Al-Qur'an tidak berhenti sebagai bacaan, tetapi menjadi pedoman hidup," katanya.
Ia mengimbau umat Islam agar tidak membiarkan satu hari berlalu tanpa berinteraksi dengan Al-Qur'an. Menurutnya, interaksi tersebut dapat dilakukan dengan membaca satu halaman, beberapa ayat, atau sekadar mendengarkan lantunan ayat suci.
"Kalau benar-benar tidak sempat karena kesibukan, perbanyaklah istigfar. Bisa jadi hati kita mulai jauh dari Al-Qur'an karena dosa dan maksiat yang belum kita taubati," ujarnya.
Anjuran tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah SAW: "Bacalah Al-Qur'an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya."(HR Muslim No. 804).
| Baca juga: Merawat Sejarah, Meneguhkan Jati Diri Bangsa |
Dalam tausiahnya, Ustazah Anny juga mengingatkan bahwa Allah SWT telah memberikan kemudahan kepada siapa pun yang ingin mempelajari Al-Qur'an. Hal itu sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Qamar ayat 17: "Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk menjadi pelajaran. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?"(QS. Al-Qamar: 17).
Mengutip pandangan Syekh Yusuf al-Qaradawi, Ustazah Anny mengatakan bahwa setiap Muslim memiliki kewajiban memenuhi hak-hak Al-Qur'an. Di antaranya membaca dan mengamalkan isi kandungannya, menghafal serta menjaganya, mentadabburi atau merenungkan pesan-pesannya, mempelajari makna dan tafsirnya, serta mengajarkan Al-Qur'an kepada orang lain sesuai kemampuan.
Hal itu juga sejalan dengan sabda Rasulullah SAW: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya."(HR Bukhari No. 5027).
Menutup tausiahnya, Ustazah Anny menegaskan bahwa tidak ada waktu yang paling tepat untuk mulai mendekat kepada Al-Qur'an selain saat ini. Menurutnya, Al-Qur'an hendaknya menjadi pedoman dalam setiap keadaan, baik saat menghadapi ujian, memperoleh nikmat, maupun menjalani aktivitas sehari-hari.
"Kapan waktunya mendekat kepada Al-Qur'an? Jawabannya tergantung kapan kita mau memulainya. Saat mendapat ujian, memperoleh rezeki, atau dalam kondisi apa pun, Al-Qur'an harus menjadi pedoman hidup," tuturnya mengakhiri tausiyah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....