Sura Dira Jayaningrat Mengajarkan Kekuatan Dahsyat Kasih Sayang

  • 16 Sep 2026 05:52 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Dialog Obrolan Budaya RRI Surabaya, 15 September 2026, membahas makna filosofi Jawa “Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti”. Pembahasan tersebut disampaikan Cak Ries, pencinta budaya Nusantara, dengan mengangkat nilai kelembutan, kasih sayang, dan kebaikan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Cak Ries menjelaskan, kalimat “Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti” berasal dari Serat Witaradya, Pupuh Kinanthi, karya Raden Ngabehi Ranggawarsita. Ungkapan tersebut menjadi salah satu bagian dari kekayaan ungkapan budaya Jawa yang mengandung pesan moral bagi kehidupan.

Menurut Cak Ries, kata “Sura” bermakna keberanian atau keperkasaan, sedangkan “Dira” berarti kekuatan atau kekerasan. Sementara itu, “Jayaningrat” dimaknai sebagai kemenangan dan kekuasaan duniawi, sedangkan “Pangastuti” mengandung makna kasih sayang, kelembutan, kesabaran, ketulusan, serta penghambaan kepada Tuhan.

Secara keseluruhan, ungkapan tersebut dimaknai sebagai pesan bahwa keberanian, kekuatan, kemenangan, dan kekuasaan yang didasari angkara murka pada akhirnya dapat luluh oleh kelembutan dan kasih sayang. Cak Ries menyampaikan bahwa pesan tersebut menempatkan kebaikan sebagai pendekatan dalam menghadapi sikap keras maupun konflik.

“Kekerasan tidak perlu dilawan dengan kekerasan. Kelembutan dan kebaikan adalah kekuatan yang jauh lebih dahsyat untuk meluluhkan hati yang keras,” ujar Cak Ries.

Ia juga menjelaskan bahwa kekuasaan yang dibangun dengan kesombongan dan angkara murka pada akhirnya bersifat sementara. Dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari, nilai tersebut dapat diwujudkan dengan menghadapi kemarahan melalui kesabaran, kesombongan dengan kerendahan hati, serta kejahatan dengan kebaikan.

Ungkapan “Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti” juga kerap dikenang terutama ketika Tahun Baru Jawa atau 1 Suro. Menurut Cak Ries, momentum tersebut dapat menjadi pengingat untuk meninggalkan sifat angkara murka dan mengedepankan sikap yang lebih baik dalam kehidupan bermasyarakat.

Melalui pembahasan tersebut, Cak Ries menekankan bahwa kekuatan tidak selalu harus dihadapi dengan kekuatan yang sama. Nilai utama yang disampaikan adalah bahwa kasih sayang, kelembutan, kesabaran, dan kebaikan dapat menjadi kekuatan untuk membangun hubungan antar manusia yang lebih harmonis.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....