Niat karena Allah Kunci Istiqamah Berhijrah
- 09 Jul 2026 09:35 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Bulan Muharram menjadi momentum bagi umat Islam untuk memaknai hijrah sebagai upaya memperbaiki diri. Hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat, tetapi juga perubahan menuju kehidupan yang lebih baik dengan meninggalkan larangan Allah SWT dan menjalankan perintah-Nya.
Hal itu disampaikan Ketua Departemen Humas PW Salimah Jawa Timur, Rachma Ayuningtyas atau Ustazah Yuyun, dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Surabaya, Kamis, 9 Juli 2026. Menurutnya, Muharram identik dengan peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah yang menjadi tonggak berkembangnya dakwah Islam sekaligus awal penanggalan Hijriah.
"Hijrah adalah berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain atau meninggalkan sesuatu menuju sesuatu yang lain," ujar Ustazah Yuyun.
Ia menjelaskan, hijrah memiliki dua makna. Pertama, hijrah secara fisik sebagaimana dilakukan Rasulullah SAW saat berpindah dari Makkah ke Madinah untuk menyelamatkan diri dari penindasan kaum Quraisy. "Hijrah fisik yang dilakukan Rasulullah menjadi bagian penting dalam sejarah Islam karena dari peristiwa itulah dakwah Islam berkembang lebih luas," katanya.
Makna kedua adalah hijrah secara spiritual yang berlaku sepanjang masa. Setiap muslim dituntut meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah SWT dan menjalankan seluruh perintah-Nya.
"Hijrah spiritual berarti kita mulai meninggalkan apa yang dilarang Allah dan berusaha menjalankan apa yang diperintahkan-Nya. Hijrah seperti inilah yang harus terus dilakukan oleh setiap muslim," ujarnya.
| Baca juga: Ketakwaan Bekal Hadapi Rumitnya Kehidupan |
Ia mengatakan, makna tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Ar-Ra'd ayat 11 yang menegaskan Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.
Menurut Ustazah Yuyun, hijrah tidak cukup hanya dengan tekad untuk berubah. Hijrah harus disertai keistiqamahan agar seseorang tidak kembali pada kebiasaan yang telah ditinggalkan.
"Misalnya seseorang yang dahulu tidak berhijab kemudian memutuskan berhijab, tetapi setelah beberapa waktu kembali meninggalkannya. Itu menunjukkan hijrah yang dilakukan belum istiqamah," jelasnya.
Ia menilai, salah satu penyebab seseorang sulit istiqamah adalah niat berhijrah yang belum sepenuhnya karena Allah SWT, melainkan dipengaruhi pekerjaan, pendidikan, lingkungan, atau kepentingan duniawi lainnya.
"Kalau hijrah dilakukan karena pekerjaan, pendidikan, atau alasan lainnya, semangat itu bisa berubah ketika kondisi berubah. Karena itu, niat berhijrah harus benar-benar karena Allah," katanya.
Menurutnya, meluruskan niat menjadi kunci utama agar seseorang mampu bertahan dalam proses hijrah meski menghadapi berbagai ujian. Hal itu juga selaras dengan sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya setiap amal itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya." (HR Bukhari No. 1 dan Muslim No. 1907).
"Kunci istiqamah adalah mengembalikan niat kita hanya karena Allah. Dengan niat yang benar, insyaallah jalan hijrah kita tidak akan melenceng dari jalan Allah dan kita akan lebih mudah menaati perintah-Nya," ujarnya.
Di akhir tausiyahnya, Ustazah Yuyun mengingatkan sabda Rasulullah SAW, "Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah." (HR Bukhari No. 6484). Ia pun mengajak umat Islam menjadikan Muharram sebagai momentum memperbaiki diri. "Jangan sampai hijrah kita hanya karena manusia atau kepentingan dunia. Jika niat kita karena Allah, insyaallah Allah akan memudahkan kita untuk tetap istiqamah," tuturnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....