Samawa Tak Hanya Bergantung pada Harta
- 25 Agt 2026 14:42 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya — Kebahagiaan rumah tangga tidak semata-mata ditentukan oleh harta, ketampanan, maupun kecantikan, tetapi berakar pada kebersihan hati dan ketulusan niat pasangan. Pesan tersebut mengemuka dalam siaran Cahaya Pagi RRI Surabaya, Senin 24 Agustus 2026, yang mengangkat tema “Samawa dalam Perspektif Tembang Asmarandana dan Islam” bersama Ustadz Eko Purwanto, S.Ag., Penyuluh Agama Islam dari KUA Kecamatan Simokerto Kemenag Kota Surabaya.
Ustadz Eko menjelaskan, konsep sakinah mawaddah wa rahmah dalam Islam memiliki makna yang erat dengan cita-cita setiap pasangan dalam membangun keluarga. Sakinah dapat dimaknai sebagai ketenangan atau kebahagiaan, mawaddah berarti cinta, sedangkan rahmah bermakna kasih sayang.
Menurutnya, hakikat kebahagiaan rumah tangga berada di dalam hati masing-masing pasangan. Karena itu, kehidupan pernikahan perlu dibangun dengan hati yang bersih serta niat tulus untuk menjalankan ibadah kepada Allah SWT.
“Dalam Islam pernikahan adalah ibadah. Oleh karenanya hati ditata, disiapkan dan diniatkan untuk beribadah kepada Allah,” ujar Ustadz Eko dalam siaran tersebut. Ia menambahkan, pernikahan yang diawali dengan ketulusan dalam menjalankan ibadah diharapkan mampu menghadirkan kebahagiaan lahir dan batin atau sakinah mawaddah wa rahmah.
Pesan mengenai fondasi rumah tangga tersebut juga tercermin dalam tembang Macapat Asmarandana yang dikenal masyarakat Jawa. Tembang yang menggambarkan perjalanan asmara manusia bersama pasangan hidup itu memiliki filosofi tentang kehidupan cinta, kasih sayang, hingga berbagai dinamika dalam hubungan.
Salah satu bait Asmarandana yang dibahas berbunyi, “Gegaraning wong akrami, dudu bandha dudu rupa, among ati pawitane.” Maknanya, bekal membangun rumah tangga bukanlah harta maupun rupa, melainkan hati sebagai modal utama.
| Baca juga: Zakat Produktif Dorong Mustahik Jadi Muzakki |
Ustadz Eko menerangkan, pesan tersebut mengingatkan pasangan agar tidak hanya menjadikan kecantikan, ketampanan, kekayaan, jabatan, atau faktor materi sebagai dasar memilih pasangan hidup. “Amung ati pawitane,” menurutnya, menegaskan pentingnya hati yang bersih, niat yang tulus, motivasi yang lurus, dan tekad yang kuat dalam membangun keluarga.
Tembang Asmarandana juga menggambarkan dinamika rumah tangga melalui ungkapan yen gampang luwih gampang, yen angel angel kalangkung. Kehidupan rumah tangga dapat terasa mudah ketika pasangan memiliki hati yang bersih, mudah mengalah dan memaafkan, sementara kebencian, dendam, dan emosi dapat membuat persoalan semakin sulit diselesaikan.
Keterkaitan antara filosofi Asmarandana dan ajaran Islam terlihat pada penekanan terhadap hati sebagai sumber ketenangan dan kebahagiaan. Dalam Al-Qur’an Surat Al-Fath juga disebutkan bahwa Allah menurunkan ketenangan atau sakinah ke dalam hati orang-orang yang beriman.
Pada akhirnya, pesan Asmarandana dan ajaran Islam bertemu pada pentingnya membangun rumah tangga dengan kerja sama, pengertian, kesabaran, iman, dan ketulusan. Sebagaimana pesan dalam tembang tersebut, “Tan kena tinumbas arta,” kebahagiaan rumah tangga tidak dapat dibeli dengan uang atau harta, sehingga pasangan perlu bersama-sama menjaga hati dan mendekatkan diri kepada Allah SWT untuk mewujudkan keluarga yang bahagia lahir dan batin.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....