Persiapkan Diri Hadapi Kiamat lewat Istikamah dan Introspeksi
- 06 Sep 2026 06:47 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Program siaran Kuliah Subuh Pro 4 RRI Surabaya edisi Minggu, 6 September 2026, menghadirkan pembahasan spiritual mendalam bersama narasumber Efi Mas'ufah. Tokoh yang aktif di Kantor Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, serta Pimpinan Daerah Aisyiyah Surabaya ini mengajak umat Islam mencermati fenomena alam dan sosial akhir-akhir ini sebagai bentuk peringatan akan makin dekatnya hari kiamat.
Dalam pemaparannya, Efi menekankan “Pentingnya memanfaatkan nikmat kesehatan dan waktu yang diberikan Allah Swt. untuk terus memperbaiki diri. Manusia diajak menyadari hakikat keberadaannya dari mana asal penciptaannya, apa tujuan hidupnya, dan ke mana kelak akan kembali agar mampu memelihara serta meningkatkan kualitas istikamah dalam beribadah," ujar Efi.
Untuk meraih derajat istikamah tersebut, Efi membagikan tiga langkah utama. Langkah pertama adalah murakabah, yaitu menanamkan rasa senantiasa diawasi oleh Allah SWT. dalam setiap ucapan, perbuatan, maupun tingkah laku. Rasa pengawasan ini menjadi fondasi utama agar seorang hamba tetap bertakwa di mana saja dan kapan saja berada (ittaqillaha haitsuma kunta).
Langkah kedua adalah muhasabah atau introspeksi diri secara konsisten. Dengan menyadari segala kekurangan pribadi, seorang Muslim tidak akan mudah mencela, meremehkan orang lain, atau berbangga diri atas amal ibadah yang telah dikerjakan. Muhasabah membentengi hati dari penyakit sombong dan takabur yang dapat menghapuskan pahala amalan.
Selanjutnya, langkah ketiga yang tidak kalah krusial adalah mujahadah, yakni sungguh-sungguh memerangi hawa nafsu dan godaan setan. Efi mengingatkan bahaya penyakit malas yang sering menghinggapi manusia, terutama saat memasuki usia 40 atau 50 tahun ke atas. Ia mengimbau umat untuk merutinkan doa perlindungan agar terhindar dari sifat malas dan keburukan di masa tua.
Mengenai porsi amalan, Efi mengingatkan bahwa “Allah Swt. sangat menyukai amal yang dikerjakan secara berkelanjutan (mudawamah) meskipun sedikit. Berbagai tindakan sederhana sehari-hari seperti mencuci piring, menyiapkan kebutuhan keluarga, memindahkan paku dari jalanan, hingga bertutur kata baik dapat bernilai sedekah di sisi Allah Swt. selama dilakukan dengan niat yang ikhlas.” Jelas Efi.
Menjelaskan tentang kiamat, Efi membaginya menjadi dua kategori, yakni kiamat sughra (kecil) dan kiamat kubra (besar). Persiapan menghadapi kiamat sughra dapat dimulai dari kebiasaan sederhana sebelum tidur, seperti berwudu, membaca taawuz, surah-surah perlindungan (Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas), Ayat Kursi, serta berzikir saat terbangun untuk memohon ampunan Allah Swt.
Sementara itu, gambaran kiamat kubra diilustrasikan secara rinci melalui firman Allah Swt. dalam Surah Al-Qari'ah dan Al-Ghasyiyah. Pada hari dahsyat tersebut, manusia digambarkan berhamburan seperti anai-anai dan gunung-gunung hancur bak bulu yang dihempaskan. Setiap individu akan sibuk memikirkan nasib pertanggungjawaban amalnya masing-masing di hadapan Allah Swt.
Mengakhiri tausiahnya, Efi berpesan agar umat Islam mengamalkan prinsip ibda' bi nafsik (memulai dari diri sendiri) sebelum mengajak orang lain pada kebaikan. Ia mengingatkan bahaya sifat sombong yang pernah membuat iblis diusir dari surga, sekaligus mengajak pendengar RRI untuk terus membasahi lidah dengan istigfar dan zikir agar selamat di dunia hingga akhirat kelak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....