Mukmin Cerdas Selalu Ingat Kematian dan Akhirat
- 11 Jun 2026 10:25 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Anggapan bahwa kecerdasan diukur dari tingginya pendidikan, banyaknya gelar, jabatan, atau kesuksesan duniawi ternyata berbeda dengan ukuran kecerdasan menurut ajaran Islam. Hal itu disampaikan Ketua Departemen Humas PW Salimah Jawa Timur, Ustazah Rachma Ayunintyas yang akrab disapa Ustazah Yuyun, dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Surabaya, Kamis, 11 Juni 2026.
Dalam tausiyah bertema "Siapakah Mukmin yang Paling Cerdas?", Ustazah Yuyun menjelaskan bahwa Rasulullah SAW memiliki kriteria tersendiri dalam menilai kecerdasan seorang mukmin.
"Ketika mendengar kata cerdas, bayangan kita biasanya adalah orang yang memiliki pendidikan tinggi, banyak gelar, jabatan tinggi, dan berbagai pencapaian duniawi lainnya. Namun menurut Rasulullah SAW, ukuran kecerdasan seorang mukmin bukanlah itu," ujarnya.
Ia mengutip hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Umar RA. Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa seorang laki-laki dari kaum Anshar bertanya kepada Rasulullah SAW tentang mukmin yang paling baik dan paling cerdas.
Rasulullah SAW menjawab bahwa mukmin yang paling baik adalah yang paling baik akhlaknya. Sedangkan mukmin yang paling cerdas adalah mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian.
"Jadi menurut Rasulullah SAW, mukmin yang paling cerdas bukanlah yang paling banyak gelarnya atau paling tinggi jabatannya, melainkan yang paling sering mengingat kematian dan mempersiapkan kehidupan akhirat," kata Ustazah Yuyun.
| Baca juga: Waspada Tanda Hati yang Mati dalam Diri |
Menurutnya, mengingat kematian merupakan salah satu cara efektif untuk menjaga diri dari perbuatan maksiat dan kelalaian terhadap Allah SWT. Kesadaran bahwa setiap manusia akan kembali kepada-Nya membuat seseorang lebih berhati-hati dalam bertindak dan lebih bersemangat melakukan amal saleh.
Hal tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah SAW, "Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian." (HR Tirmidzi).
"Mengingat kematian akan membuat kita lebih semangat beramal saleh dan takut berbuat dosa. Kita sadar bahwa semua yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT," tuturnya.
Ustazah Yuyun menjelaskan, mengingat kematian bukan berarti seseorang menjadi pesimis atau berharap segera meninggal dunia. Sebaliknya, kesadaran bahwa kehidupan dunia bersifat sementara akan membantu seseorang menghadapi berbagai ujian hidup dengan lebih ikhlas dan lapang dada.
Ketika menghadapi kesulitan, kata dia, seseorang akan lebih mudah menerima keadaan karena memahami bahwa setiap ujian memiliki hikmah dan dapat menjadi sarana peningkatan derajat di sisi Allah SWT.
Selain itu, mengingat kematian juga dapat memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Seseorang akan lebih mudah memaafkan, menghindari menyakiti orang lain, serta berusaha menyelesaikan persoalan yang masih menjadi beban sebelum ajal menjemput.
"Kalau kita menyadari bahwa hidup ini bisa berakhir kapan saja, kita akan lebih mudah memaafkan dan meminta maaf. Jangan sampai kita meninggalkan dunia sementara masih memiliki urusan yang belum diselesaikan dengan sesama manusia," ujarnya.
Ia juga mengingatkan firman Allah SWT dalam Surah Ali Imran ayat 185 yang menyatakan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Melalui tausiyah tersebut, Ustazah Yuyun mengajak umat Islam untuk menjadikan ingat kematian sebagai sarana muhasabah diri, memperbaiki kualitas ibadah, memperbanyak amal saleh, serta mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan yang kekal di akhirat.
"Mukmin yang paling cerdas bukanlah yang paling tinggi jabatan atau paling banyak hartanya, tetapi mereka yang selalu mengingat kematian dan mempersiapkan bekal terbaik untuk bertemu Allah SWT," tuturnya mengakhiri tausiyahnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....