Pakar Ekotoksikologi Soroti Dampak Ekologis 20 Tahun Lumpur Sidoarjo
- 30 Mei 2026 05:30 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Pakar ekotoksikologi dan fisiologi hewan dari Departemen Biologi Prof Dewi Hidayati ikut mengomentari peringatan 20 tahun, semburan lumpur melanda sebagian wilayah Kabupaten Sidoarjo. Penanganan lumpur terus dilakukan melalui pengaliran menuju Sungai Porong.
Dampak pengaliran lumpur memicu perubahan lingkungan, terutama pada ekosistem sekitar sungai. Kondisi tersebut menjadi perhatian peneliti lingkungan dari ITS.
Pakar ekotoksikologi mengkaji dampak ekologis melalui indikator biologis ikan. Kajian itu digunakan sebagai dasar mitigasi lingkungan jangka panjang.
Menurut Dewi, Sungai Porong menerima material lumpur dalam volume besar tanpa pengolahan. “Sedimentasi masif memicu lonjakan kekeruhan air secara ekstrem,” ujarnya, Jumat, 28 Mei 2026.
Ia menjelaskan, lumpur mengubah dasar sungai menjadi hamparan berlumpur. Perubahan tersebut memengaruhi habitat alami berbagai biota air.
Paparan lumpur menyebabkan kerusakan fungsi insang ikan secara serius. “Partikel halus menyumbat filamen insang dan memicu nekrosis sel,” katanya.
Penelitian juga menemukan kerusakan pada struktur sisik ikan menggunakan metode SEM. “Sisik menjadi abnormal dan rentan terkena infeksi mikroorganisme,” ujarnya.
Meski demikian, biomonitoring menunjukkan munculnya spesies ikan yang lebih adaptif. Jenis ikan seperti keting, belanak, dan beloso kini mendominasi wilayah hilir.
Dewi menyebut tambak udang di sekitar muara masih relatif aman dikonsumsi masyarakat. “Bentang alam alami membantu menyaring luapan material lumpur,” katanya.
Selain pencemaran air, kawasan semburan juga mengalami polusi udara akibat gas metana dan belerang. Analisis air turut menunjukkan kandungan logam berat cukup tinggi.
“Tingkat racun aluminium sangat berbahaya ketika pH air berubah menjadi asam,” ucapnya. Kondisi tersebut berpotensi mengancam keberlangsungan ekosistem perairan.
Kajian ekologis memperlihatkan perbedaan signifikan antara wilayah hulu dan hilir Sungai Porong. Wilayah hulu memiliki kualitas habitat dan kesehatan ikan lebih baik.
“Sebaliknya, wilayah hilir mengalami degradasi parah dan terbatas bagi biota tertentu,” kata Dewi. Temuan itu menunjukkan dampak serius sedimentasi lumpur terhadap ekosistem.
Dekan tersebut menilai data biologis penting sebagai peringatan dini. Hasil riset diharapkan menjadi referensi pemulihan lingkungan bagi pemerintah.
“Langkah nyata diperlukan untuk mencegah kerusakan lingkungan berkelanjutan,” ujarnya. Pemantauan kualitas air dinilai penting menjaga keberlanjutan ekosistem Sungai Porong.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....