Pakar Komunikasi Ingatkan Masyarakat Jaga Nalar Kritis di tengah Fenomena Viral

  • 13 Jul 2026 18:20 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Pakar Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Radius Setiyawan mengingatkan masyarakat untuk menjaga nalar kritis di tengah derasnya arus informasi dan fenomena viralitas di media sosial. Lompatan teknologi digital dinilai tidak hanya memicu popularitas instan namun juga mengaburkan batasan privasi yang memicu kerentanan sosial.

Kehadiran media sosial, dijelaskan Radius memberi dampak positif dan negatif apabila tidak digunkan dengan bijak oleh masyarakat. Dari sisi positif informasi viral saat ini lebih cepat dan mudah didapat oleh masyarakat, pengguna juga bisa menjadi produsen informasi melalui konten yang dibuat sendiri.

Negatifnya, media sosial banyak dijadikan sarana untuk mencari popularitas yang instan. Karena instan, menurutnya orang akan kehilangan nalar reflaktif dan kewalahan akibat laju perubahan sosial yang cepat.

“Dalam konteks sosiologi itu ada namanya dromologi yaitu teori kecepatan. Jadi internet itu membuat orang hidup dalam satu arus kecepatan. Jadi siapa yang cepat bisa menyesuaikan, dia bisa populer. Tetapi kelemahannya adalah dia kehilangan nalar reflektif,” kata Radius, Senin, 13 Juli 2026.

Maka, lanjut Radius, saat ini orang sangat mudah terperdaya oleh bujukan-bujukan di dunia digital. Antara lain pinjaman online, judi online, scam, dan lainnya. “Itu salah satu faktor bahwa viralitas, bahwa ruang digital itu membuat manusia kehilangan nalar reaktif,” tuturnya.

Fenomena viral ini, lebih lanjut membuat batasan antara ruang privasi dan umum menjadi tidak jelas, orang menjadi sulit membedakan ruang privasi dan umum. Dalam konteks ini, banyak pengguna yang gagap menghadapi masa depan karena banyak hal privasi yang diungkap sehingga viral.

“Apalagi tokoh-tokoh besar itu justru yang menarik kalau kayak dikaitkan dengan yang viralitas itu ya,” ujarnya.

Dalam rangka membatasi disinformasi, pemerintah dianggap perlu membuat regulasi pembatasan algoritma digital sesuai dengan spesifikasi usia. Sehingga, informasi yang sampai ke masyarakat benar-benar nyata dan sesuai kebutuhan.

Di sisi lain, masyarakat juga diimbau untuk tidak langsung menerima informasi secara mentah-mentah. Dengan pergerakan informasi yang cepat masyarakat perlu mencari dulu kebenaran sebelum diteruskan kepada orang lain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....