Amien Widodo: Belajar dari Gempa Jogja, Pentingnya Mitigasi Gempa

  • 27 Mei 2026 10:00 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Pakar kebencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr. Amien Widodo mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan gempa bagi Kota Surabaya. Peringatan itu disampaikan saat mengenang 20 tahun gempa Yogyakarta, 27 Mei 2006.

Gempa berkekuatan M5,9 yang terjadi pukul 05.53 WIB tersebut menghancurkan ratusan ribu rumah di Yogyakarta dan Klaten. Bencana itu menewaskan 5.760 orang serta menyebabkan ribuan warga mengalami luka berat dan ringan.

Dr. Amien menyebut gempa Jogja menjadi pelajaran penting bahwa bangunan roboh dapat menjadi penyebab utama korban jiwa. Menurutnya, banyak rumah tradisional tanpa struktur tulangan runtuh dan menimbulkan korban besar.

“Selama ini sering ada anggapan gempa tidak membunuh. Faktanya, bangunan roboh dapat membunuh dan menyebabkan cacat permanen,” ujarnya, Rabu, 27 Mei 2026.

Ia menjelaskan rumah yang menggunakan struktur tulangan dan balok umumnya lebih mampu bertahan. Namun, ada pula bangunan berstruktur baik yang roboh akibat kondisi tanah yang buruk dan lunak.

Menurutnya, gempa Jogja dipicu aktivitas Sesar Opak yang berada di sepanjang Sungai Opak. Ia menegaskan sejarah gempa penting dipelajari untuk mengurangi risiko bencana di masa depan.

“Gempa di lokasi itu bukan pertama kali terjadi. Catatan sejarah menunjukkan pernah terjadi pada tahun 1860-an, 1943, dan kembali terjadi tahun 2006,” katanya.

Dr. Amien juga menyoroti hasil kajian Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN) tahun 2024 yang mencatat sekitar 400 sesar aktif di Indonesia. Sebanyak 75 sesar aktif berada di Pulau Jawa.

Ia menyebut sebagian besar penduduk Indonesia tinggal di Pulau Jawa sehingga diperlukan kajian rinci terhadap ancaman sesar aktif. Sejumlah kota besar disebut berada dekat bahkan dilalui jalur sesar aktif.

“Kota Surabaya juga dilewati sesar aktif. Yakni Sesar Kendeng segmen Surabaya dan Waru,” ucapnya.

Menurutnya, sesar aktif di Surabaya berpotensi memicu gempa hingga magnitudo 6,5. Jika terjadi, guncangan diperkirakan mempengaruhi seluruh wilayah Kota Surabaya.

Karena itu, ia menilai kesiapsiagaan bukan lagi pilihan melainkan keharusan. Mitigasi diperlukan untuk mencegah korban jiwa, kerusakan bangunan, dan kerugian ekonomi.

Dr. Amien mendorong pemerintah menyusun peta Kawasan Risiko Bencana (KRB) Gempa di Surabaya. Peta tersebut dibagi menjadi kategori risiko tinggi, sedang, dan rendah.

KRB gempa tinggi, menurutnya, berada pada kawasan dengan bangunan tidak tahan gempa serta kondisi tanah lunak. Sementara risiko rendah berada di wilayah dengan bangunan kuat dan kondisi tanah baik.

“Peta risiko dapat menjadi dasar mitigasi. Termasuk penguatan rumah, gedung, dan infrastruktur,” katanya.

Ia menambahkan pembangunan baru juga wajib memenuhi standar bangunan tahan gempa. Selain itu, perbaikan kondisi tanah dinilai penting dilakukan pada kawasan berisiko tinggi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....