Ekonomi Sulit, Mayoritas Warga Indonesia Tetap Berkurban

  • 23 Mei 2026 06:04 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Tekanan ekonomi dan naiknya biaya hidup ternyata tidak menyurutkan semangat masyarakat Indonesia untuk berkurban. Di tengah situasi serba tidak pasti, mayoritas warga justru tetap menempatkan ibadah kurban sebagai prioritas tahunan sekaligus bentuk kepedulian sosial kepada sesama.

Hal itu terungkap dalam riset terbaru ThinkLeap Indonesia bertajuk “Potret Perilaku Masyarakat Indonesia dalam Berkurban di Era Ketidakpastian Ekonomi”. Penelitian yang dilakukan pada April hingga Mei 2026 terhadap 200 responden di 23 provinsi tersebut menunjukkan sebanyak 53 persen masyarakat tetap berkurban seperti biasa. Sementara 37,5 persen lainnya tetap berkurban dengan menyesuaikan kondisi anggaran.

Direktur Eksekutif ThinkLeap Indonesia, Teguh Imami, menilai temuan ini menunjukkan masyarakat masih memandang kurban sebagai ibadah penting yang tidak mudah ditinggalkan meski kondisi ekonomi sedang berat.

“Di tengah tekanan ekonomi, masyarakat mungkin menahan konsumsi lain, tetapi tidak untuk berbagi. Kurban bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga bentuk solidaritas sosial,” ujar Teguh dalam keterangannya kepada RRI, Jumat 22 Mei 2026.

Menurutnya, alasan utama masyarakat tetap berkurban adalah karena ibadah tersebut dianggap sebagai prioritas tahunan dan adanya keinginan membantu masyarakat yang membutuhkan.

Riset itu juga menemukan perubahan perilaku masyarakat dalam pelaksanaan kurban. Sebanyak 58,5 persen responden mengaku pernah membeli hewan kurban secara online. Meski begitu, mayoritas warga masih memilih menyalurkan kurban melalui masjid atau mushola di lingkungan tempat tinggal.

Teguh menyebut pilihan tersebut menunjukkan masyarakat tetap ingin menjaga kedekatan sosial dan semangat gotong royong berbasis komunitas lokal.

Sementara itu, Kepala Divisi Riset ThinkLeap Indonesia, Agil Darmawan, mengatakan faktor kepercayaan menjadi penentu utama masyarakat dalam memilih lembaga pengelola kurban.

“Sebanyak 67 persen responden memilih lembaga berdasarkan tingkat kepercayaan. Sedangkan keraguan masyarakat umumnya dipicu persoalan transparansi dan distribusi kurban,” katanya.

Agil menilai masyarakat kini tidak hanya mencari layanan kurban yang praktis dan digital, tetapi juga menginginkan transparansi, dokumentasi, dan akuntabilitas yang jelas dari lembaga pengelola.

Penelitian tersebut turut menyoroti perubahan makna kurban di tengah masyarakat. Kurban kini tidak lagi dipandang sekadar ibadah ritual, tetapi juga menjadi instrumen sosial untuk memperkuat solidaritas dan membantu kelompok rentan di tengah tekanan ekonomi.

ThinkLeap Indonesia berharap hasil riset tersebut dapat menjadi masukan bagi lembaga filantropi dan pengambil kebijakan dalam memahami perubahan perilaku masyarakat Indonesia dalam berkurban di era digital dan ketidakpastian ekonomi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....