Dua Wajah Lansia dalam Sorotan Kasus Kejahatan

  • 23 Mei 2026 05:57 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Program Dialog Sosial Pro 4 RRI Surabaya, Jumat, 22 Mei 2026, mengangkat tema “Lansia: Korban dan Pelaku Kejahatan dalam Konstruksi Media” bersama Dr. Drs. Sugeng Pujileksono, M.Si. Dekan FISIP UWKS. Dalam dialog tersebut, dibahas bagaimana lansia tidak hanya rentan menjadi korban kejahatan, tetapi juga dapat terlibat sebagai pelaku dalam berbagai kasus kriminalitas.

Sugeng menjelaskan bahwa lansia adalah individu yang telah berusia 60 tahun ke atas. Menurutnya, realitas sosial menunjukkan adanya dua wajah lansia dalam pemberitaan media, yakni sebagai korban sekaligus pelaku kejahatan. “Beberapa waktu terakhir ada kasus lansia yang dirampok bahkan dipukul oleh orang yang masih memiliki hubungan kerabat,” ujarnya.

Ia menambahkan, kajian mengenai lansia dan kriminalitas dilakukan bersama mahasiswa Program Studi Kesejahteraan Sosial. Penelitian tersebut mencoba membaca bagaimana media mengonstruksi citra lansia melalui berita-berita kriminal. “Ternyata lansia pun tidak luput dari kemungkinan menjadi korban maupun pelaku kejahatan,” kata Sugeng.

Dalam pandangannya, media massa terutama media online memiliki peran besar dalam membentuk persepsi publik terhadap lansia. Sugeng menilai pilihan kata atau diksi yang digunakan jurnalis dapat menciptakan citra tertentu terhadap kelompok lanjut usia. “Kalau muncul kata rentan, lemah, tak berdaya, maka media sedang mencitrakan lansia sebagai korban,” jelasnya.

Sebaliknya, ketika lansia diberitakan sebagai pelaku kriminal, media sering menggunakan istilah yang memberi kesan ancaman sosial. Sugeng mencontohkan penggunaan label seperti “kakek cabul”, “kakek bejat”, atau “kakek predator” dalam berita kriminal. “Pilihan kata itu pada akhirnya membentuk citra tertentu terhadap lansia,” ungkapnya.

Menurut Sugeng, konstruksi media tersebut muncul karena lansia identik dengan penurunan fungsi fisik dan psikis. Kondisi itu membuat lansia kerap dianggap lemah sehingga menjadi sasaran empuk pelaku kriminal. “Pelaku kejahatan melihat lansia tidak mungkin bisa melawan karena kekuatannya sudah berkurang,” katanya.

Ia menegaskan bahwa jurnalis sebenarnya hanya menjalankan tugas untuk memenuhi unsur berita. Namun, tanpa disadari, pilihan kata, metafora, hingga labelisasi dalam berita dapat membentuk makna tertentu ketika dianalisis lebih dalam. “Dalam analisis teks media, kecenderungan penggunaan diksi itu bisa dibaca maknanya,” jelas Sugeng.

Sugeng juga menyoroti pentingnya kehati-hatian media dalam menarasikan kasus kriminal yang melibatkan lansia. Ia menyarankan agar pewarta lebih fokus pada fakta kejadian dibanding memberi label berlebihan kepada pelaku maupun korban. “Cukup disebutkan inisial dan usia, tanpa harus memberi stigma tertentu,” ujarnya.

Selain menjadi korban kejahatan konvensional, lansia saat ini juga rentan menjadi sasaran hoaks dan penipuan digital. Sugeng mengatakan kemampuan literasi digital lansia umumnya masih terbatas karena mereka bukan generasi digital native. “Kadang mereka mudah percaya pada informasi sensasional yang belum tentu benar,” katanya.

Ia mencontohkan maraknya penipuan belanja online dan informasi palsu yang sering diterima lansia melalui media sosial. Karena itu, keluarga dinilai memiliki peran penting dalam mendampingi orang tua menggunakan teknologi digital. “Lansia juga harus dikawal agar tidak menjadi korban penipuan, judi online, maupun pinjaman online,” tambahnya.

Di sisi lain, Sugeng mengungkapkan bahwa lansia juga dapat menjadi pelaku kejahatan, mulai dari kekerasan seksual hingga tindak kriminal karena faktor ekonomi. Meski demikian, masyarakat sering merasa terkejut ketika mengetahui lansia melakukan tindakan kriminal. “Lansia dianggap kelompok yang lemah sehingga publik tidak menyangka mereka bisa melakukan kejahatan,” jelasnya.

Menutup dialog, Sugeng menegaskan bahwa kejahatan tidak mengenal batas usia. Menurutnya, baik anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia memiliki potensi menjadi korban maupun pelaku tindak kriminal. “Kriminalitas itu bisa terjadi pada semua rentang usia, hanya saja masyarakat sering memberi permakluman tertentu kepada lansia,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....