Alumni Pertanyakan Tanggung Jawab SPPG Kalitengah
- 04 Sep 2026 11:30 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID,Sidoarjo - Kasus dugaan keracunan setelah konsumsi makanan program pemerintah di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, memasuki babak baru. Selain penanganan terhadap para santri yang mengalami gangguan kesehatan, sikap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah kini menjadi sorotan para alumni.
Perwakilan Alumni Ponpes Manbaul Hikam, Nahwan Masudi, mengatakan kekecewaan muncul karena pihak SPPG Kalitengah dinilai belum menunjukkan tanggung jawab secara langsung kepada pihak pesantren maupun keluarga santri yang terdampak. Menurut dia, hingga Jumat 4 September 2026, belum ada kedatangan pihak SPPG ke pesantren untuk menyampaikan permintaan maaf.
"Kami para alumni sangat kecewa. Pihak yang terkait sumber makanan itu tidak mengakui kesalahan dan sampai hari ini tidak pernah datang ke pesantren untuk meminta maaf. Ini bisa menimbulkan spekulasi di masyarakat seolah-olah pihak pondok yang salah. Di mana rasa tanggung jawabnya?" kata Nahwan.
Menurut Nahwan, persoalan tersebut tidak semata berkaitan dengan permintaan maaf. Para alumni juga meminta adanya kejelasan mengenai penyebab kejadian, bentuk pertanggungjawaban, serta langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali dialami para santri.
Ia menyebut kondisi para santri yang terdampak juga masih menjadi perhatian. Sebagian santri, kata dia, disebut masih mengalami kekhawatiran untuk kembali mengikuti aktivitas di pondok karena trauma setelah mengalami mual, muntah, pusing, dan gangguan kesehatan lainnya.
"Anak-anak itu sekarang takut. Mereka bertanya-tanya, kalau kembali ke pondok apakah akan terjadi hal yang sama lagi? Kecemasan itu wajar karena mereka baru mengalami kejadian seperti ini," ujarnya.
Nahwan menilai persoalan tersebut juga berpotensi memengaruhi citra Ponpes Manbaul Hikam. Menurut dia, pesantren tidak seharusnya menjadi pihak yang menanggung dampak reputasi apabila persoalan yang berkaitan dengan penyediaan makanan MBG belum mendapat penjelasan secara terbuka dan berdasarkan hasil pemeriksaan.
Karena itu, alumni meminta seluruh pihak terkait, termasuk SPPG dan instansi yang berwenang, melakukan penelusuran secara menyeluruh terhadap kejadian tersebut. Hasil pemeriksaan dinilai penting untuk memastikan sumber masalah sekaligus memberikan kepastian kepada santri, keluarga, dan pihak pesantren.
"Kami berharap kasus ini ditindaklanjuti secara serius dan terbuka. Jangan sampai persoalan ini menimbulkan keraguan yang berkepanjangan terhadap pesantren. Yang paling penting, para santri bisa kembali belajar dengan tenang dan merasa aman," tegas Nahwan, yang juga aktivis GP Ansor Sidoarjo.
Sementara itu, dugaan penyebab gangguan kesehatan para santri masih perlu menunggu hasil pemeriksaan dan investigasi dari pihak berwenang. Penetapan pihak yang bertanggung jawab semestinya didasarkan pada hasil pemeriksaan, termasuk terhadap makanan dan faktor lain yang berkaitan dengan kejadian tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....