Dosen UNAIR: Kebakaran Hutan Kalimantan Ancam Lingkungan

  • 29 Agt 2026 11:28 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Dosen Magister Manajemen Bencana Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Airlangga (UNAIR), Dr Hijrah Saputra S.T., M.Sc. ikut mengomentari peristiwa kebakaran hutan di Kalimantan yang hingga kini belum sepenuhnya pulih. Kondisi tersebut mengancam ekosistem dan masyarakat di wilayah terdampak.

Berdasarkan data satelit NOAA-20, terdapat sekitar 1.487 titik panas di wilayah Kalimantan. Konsentrasi titik panas terbanyak berada di Kalimantan Tengah.

“Kebakaran ini disebabkan tiga faktor, yaitu cuaca, lahan gambut, dan aktivitas manusia,” ujar Hijrah, Jumat, 28 Agustus 2026. Menurutnya, musim kemarau dan fenomena El Nino membuat kondisi cuaca semakin kering, dan meningkatkan kerentanan terjadinya kebakaran.

“Lahan di hutan Kalimantan bersifat gambut, sehingga mudah terbakar dan cepat menyebar,” katanya. Faktor manusia juga menjadi penyebab utama kebakaran melalui pembukaan lahan dan pembalakan liar.

Kebakaran hutan tersebut menimbulkan dampak besar hingga mencapai negara tetangga. Hijrah menilai kesiapan dan kecepatan pemerintah merespons kondisi tersebut belum maksimal.

“Meskipun pemerintah sudah bergerak memberikan bantuan melalui unit pemerintah,” ujar Hijrah. BNPB, BMKG, pemerintah daerah, TNI, dan Polri telah bergerak menangani kondisi lapangan.

Namun, Hijrah menyayangkan belum adanya pernyataan resmi Kementerian Kehutanan terkait kondisi terkini. “Dampaknya sudah mencapai lintas negara seperti Malaysia dan Brunei,” ujarnya.

Kebakaran hutan juga menimbulkan ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat. Asap kebakaran dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan.

“Untuk saat ini masyarakat harus waspada terhadap asap yang ditimbulkan kebakaran,” ujar Hijrah. Menurutnya, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) berpotensi meningkat.

Kelompok yang paling rentan meliputi anak-anak, remaja, ibu hamil, dan lansia. Mereka berisiko terpapar kualitas udara yang berbahaya.

Kementerian Kesehatan mencatat kasus ISPA di Indonesia menembus lebih dari 400 ribu kasus per pekan. Angka tersebut termasuk salah satu tren mingguan tertinggi beberapa tahun terakhir.

Dari sisi lingkungan, kebakaran menyebabkan hilangnya vegetasi dan fungsi ekologis hutan. Kondisi tersebut turut mengganggu penyimpanan karbon, produksi oksigen, dan keseimbangan ekosistem.

“Kalau sudah terbakar seperti ini, membutuhkan puluhan bahkan ratusan tahun untuk direstorasi,” tutur Hijrah. Pemulihan hutan membutuhkan waktu panjang agar fungsi ekologisnya kembali.

Dampak sosial ekonomi juga tidak kalah penting akibat kebakaran hutan. Aktivitas pendidikan dan perekonomian masyarakat dapat terganggu akibat asap dan jarak pandang.

“Banyak sekolah terpaksa diliburkan, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga negara tetangga,” tambahnya. Keterbatasan jarak pandang turut menghambat aktivitas perekonomian di wilayah terdampak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....