Wujudkan Surabaya Ruang Kebudayaan, Dewan Kebudayaan Siapkan Strategi

  • 16 Mei 2026 08:40 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi secara resmi menyerahkan Surat Keputusan (SK) Dewan Kebudayaan Surabaya periode 2026-2029 di Rumah Dinas Wali Kota Surabaya, Jumat (15/5/2026). Pembentukan Dewan Kebudayaan ini merupakan tindak lanjut dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan serta Permendikbud Nomor 45 Tahun 2018.

Dalam sambutannya, Wali Kota Eri menegaskan bahwa keberadaan Dewan Kebudayaan Surabaya memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter masyarakat dan menjaga identitas budaya Kota Pahlawan. Menurutnya, budaya tidak hanya soal kesenian, tetapi juga berkaitan erat dengan pembentukan karakter generasi muda.

“Budaya itu luas, kesenian ada di dalamnya. Budaya berkaitan erat dengan karakter. Melalui Dewan Kebudayaan ini, kita ingin menyiapkan karakter anak cucu kita agar memiliki akar budaya yang kuat,” ujar Wali Kota Eri.

Sebagai bentuk dukungan terhadap ekosistem budaya, Wali Kota Eri meminta Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) tidak lagi menarik biaya sewa komersial bagi seniman Surabaya yang menggunakan fasilitas publik untuk berkarya. Ia memastikan ruang-ruang publik seperti Balai Pemuda, Balai Kota, taman kota, hingga Surabaya Expo Center (SUBEC) dapat dimanfaatkan sebagai panggung kreativitas warga.

“Pemerintah harus hadir memberikan perlindungan. Balai Budaya jangan disewakan komersial jika yang tampil adalah teman-teman seniman dan budayawan Surabaya. Cukup menjaga kebersihan. Dengan begitu ekonomi bergerak, pengangguran berkurang, dan kemiskinan bisa kita tekan melalui jalur budaya,” tegasnya.

Wali Kota Eri juga menekankan pentingnya menghadirkan budaya lokal agar lebih dekat dan menarik bagi generasi muda melalui kolaborasi lintas seni. Ia mencontohkan perpaduan seni Ludruk dengan format hiburan modern seperti stand up comedy agar budaya lokal tetap relevan tanpa kehilangan akar tradisinya.

“Kalau stand up comedy digabungkan dengan ilmu perludrukan Cak Kartolo, itu akan luar biasa. Tujuannya agar anak muda Surabaya tidak lupa pada identitas kesenian kotanya sendiri seperti Remo, Ludruk, dan Srimulat,” tambahnya.

Selain menjadi ruang ekspresi budaya, Dewan Kebudayaan juga diharapkan menjadi mitra strategis Pemkot Surabaya dalam merumuskan ide dan gagasan untuk memperkuat identitas Arek Suroboyo di tingkat nasional maupun internasional. Sebagai langkah awal, Wali Kota Eri meminta ruang publik mulai dihidupkan dengan pertunjukan seni rutin setiap akhir pekan.

“Saya minta minggu depan, setiap Jumat malam, Sabtu malam, dan Minggu malam, Balai Pemuda dan tempat-tempat lainnya sudah ada tampilan budaya. Kita gerakkan ini supaya budaya jalan, seni jalan, dan ekonomi warga juga ikut bergerak,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Kebudayaan Surabaya periode 2026-2029, Heti Palestina Yunani mengatakan bahwa langkah pertama yang akan dilakukan adalah memetakan seluruh potensi budaya Surabaya secara menyeluruh. Menurutnya, kebudayaan tidak hanya berkaitan dengan seni pertunjukan, tetapi juga mencakup ritus, adat istiadat, permainan rakyat, hingga teknologi tradisional.

“Selama ini sektor-sektor seperti ritus atau teknologi tradisional mungkin kurang terpikirkan. Kami akan mengidentifikasi dulu potensinya agar gerak kami dirasakan langsung oleh warga di tingkat kelurahan, bukan hanya oleh kalangan seniman,” ujar Heti.

Ia menambahkan, Dewan Kebudayaan akan mengedepankan pendekatan berbasis riset sebelum merumuskan program maupun rekomendasi kebijakan kepada Pemkot Surabaya. Penelitian tersebut diharapkan mampu memperkuat arah pengembangan budaya kota, termasuk dalam pelestarian aksara Jawa maupun pengembangan seni Ludruk agar tetap sesuai perkembangan zaman.

Terkait regenerasi, Heti menilai para seniman senior memiliki peran penting sebagai mentor dan pengarah bagi generasi muda. Karena itu, Dewan Kebudayaan akan mendorong kolaborasi lintas generasi melalui workshop, pelatihan, hingga pengembangan sekolah budaya.

“Sudah waktunya para senior memikirkan regenerasi. Budaya tidak akan lestari jika hanya berhenti di tangan mereka. Kami akan mengajak mereka berkolaborasi dalam workshop, pelatihan, hingga kemungkinan mendirikan sekolah budaya agar transfer pengetahuan tidak terputus,” jelasnya.

Menurut Heti, Dewan Kebudayaan tidak hanya berfokus pada penyelenggaraan kegiatan seni, tetapi juga pada kerja-kerja riset dan penguatan identitas budaya Surabaya secara mendalam. Dengan strategi tersebut, Dewan Kebudayaan optimistis mampu menghidupkan kembali ruang kebudayaan kota sekaligus memastikan warisan budaya Surabaya tetap relevan dan dimiliki generasi muda.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....