Menelusuri Jembatan Ujung Galuh: Ikon Penghubung Bersejarah di Kota Surabaya

  • 27 Jul 2026 16:15 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya — Kota Surabaya tidak hanya dikenal sebagai Kota Pahlawan, tetapi juga sebagai wilayah yang terus mempercantik diri dengan pembangunan infrastruktur publik yang fungsional dan estetis. Salah satu infrastruktur ikonik yang menyita perhatian warga dan wisatawan adalah Jembatan Ujung Galuh, yang membentang gagah menghubungkan kawasan Ngagel dan Darmo.

Jembatan Ujung Galuh bukan sekadar jalur penghubung antarwilayah untuk mengurai kemacetan lalu lintas di Surabaya Pusat dan Selatan. Pembangunannya dirancang sebagai perpaduan antara kebutuhan aksesibilitas perkotaan modern dan sentuhan seni arsitektur yang ciamik, menjadikannya salah satu landmark yang memperelok estetika Kota Surabaya.

Pemilihan nama "Ujung Galuh" tidak dilakukan secara sembarangan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Nama tersebut diambil dari catatan sejarah klasik yang merujuk pada kawasan pelabuhan kuno yang diperkirakan sebagai cikal bakal wilayah Surabaya pada masa Kerajaan Kahuripan dan Majapahit.

Secara historis, Ujung Galuh merupakan bandar pelabuhan penting di muara Sungai Kalimas tempat bertemunya para pedagang lokal dan mancanegara. Dengan menyematkan nama Ujung Galuh pada jembatan modern ini, Pemkot Surabaya berupaya merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap warisan sejarah dan akar kebudayaan lokal yang sangat berharga.

Jika dilihat dari visual infrastrukturnya, Jembatan Ujung Galuh memiliki karakteristik arsitektur yang sangat khas. Jembatan ini mengusung struktur lengkung beton melengkung ganda (arch bridge design) bergaya futuristik yang menjadi elemen estetika utamanya di sisi kiri dan kanan badan jalan.

Tidak hanya itu, di setiap pilar dan sudut jembatan berdiri ornamen tiang bermahkota patung Sura dan Baya bertema kobaran api atau keemasan yang mempertegas identitas lokal Kota Surabaya. Fasilitas pejalan kaki (pedestrian) juga dirancang ramah bagi warga, lengkap dengan pola lantai checkerboard hitam-putih, pagar pembatas bernuansa emas-perak yang melengkung elegan, serta pembatas jalan (bollard) berbentuk bundar merah-putih.

Dilansir dari laman surabaya.go.id, pembangunan Jembatan Ujung Galuh difungsikan untuk memecah kepadatan arus lalu lintas, khususnya di kawasan Jalan Ngagel, Jalan Dinoyo, hingga akses menuju Jalan Raya Darmo.

Pembangunan Jembatan Ujung Galuh ini dirancang tidak hanya untuk solusi kelancaran arus kendaraan dan rekayasa lalu lintas, tetapi juga difungsikan untuk mempercantik tata ruang Kota Surabaya. Kami ingin infrastruktur di Surabaya memiliki nilai estetika tinggi yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas serta menjadi daya tarik wisata tersendiri.

Selain memprioritaskan fungsi rekayasa lalu lintas, kawasan di sekitar Jembatan Ujung Galuh juga terintegrasi dengan penataan ruang terbuka hijau (RTH) dan tanaman hias di sepanjang bantaran sungai. Hal ini membuat area sekitar jembatan terasa asri dan sering dijadikan tempat bersantai sejenak bagi warga kota di sore hari.

Keberadaan lampu hias dan penerangan jalan umum (PJU) bertema modern di sepanjang jembatan juga semakin menambah pesona visual kawasan ini pada malam hari. Pantulan cahaya lampu di atas permukaan air sungai memberikan pemandangan khas kota metropolitan yang hangat dan menyenangkan.

Kini, Jembatan Ujung Galuh telah berdiri kokoh sebagai simbol keharmonisan antara nilai sejarah masa lalu dan kemajuan infrastruktur masa kini. Warga Kota Surabaya diharapkan dapat terus menjaga dan merawat fasilitas publik ini agar tetap bersih, indah, dan aman untuk digunakan bersama.

Dengan perpaduan nilai historis, keunggulan arsitektur, dan kemanfaatan lalu lintas yang nyata, Jembatan Ujung Galuh sukses membuktikan bahwa pembangunan infrastruktur modern di Kota Surabaya dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian identitas budaya lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....