Redam Konflik dengan Kedamaian: Bahas Makna 'No War'

  • 03 Apr 2026 10:02 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Menghadapi dinamika sosial yang kian kompleks, program Cahaya Pagi Pro 4 RRI Surabaya edisi Jumat, 3 April 2026 mengangkat tema bertajuk "No War". Terhubung sebagai narasumber, Saiful Islam, S. Ag., Penyuluh Agama dari KUA Kecamatan Bulak, mengajak pendengar untuk membedah makna perdamaian dari sudut pandang spiritual dan kemanusiaan.

Dalam dialog interaktif tersebut, Saiful Islam menekankan bahwa kampanye "No War" atau "Tolak Peperangan" bukan sekadar slogan politik internasional, melainkan sebuah prinsip hidup yang harus dimulai dari lingkup terkecil.

“Kita patut bersyukur karena ada di negara Indonesia yang suasananya indah dan damai. Tapi di timur tengah justru disana sedang berperang dan saling menyerang. Islam tidak menginginkan adanya pertempuran darah. Justru Islam itu agama yang penuh kedamaian.” kata Ustaz Saiful.

Berikut adalah poin-poin penting yang Anda sebutkan dan penjelasannya dalam ajaran Islam:

Berperang melawan yang memerangi. Ini sesuai dengan QS Al-Baqarah: 190, "Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) jangan melampaui batas.".

Perang dalam Islam adalah untuk pertahanan diri dan menegakkan keadilan, bukan untuk agresi.

Larangan berlebihan (melampaui batas). Allah secara tegas menyatakan dalam ayat yang sama bahwa Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Larangan membunuh wanita, anak-anak, dan orang tua.

Larangan menebang pohon/merusak alam.

Larangan bumi hangus. Islam melarang tindakan kejam seperti membakar musuh hidup-hidup atau merusak properti dan lahan secara total (bumi hangus), karena tindakan tersebut dianggap sebagai perbuatan melampaui batas.

Prinsip utamanya adalah perang harus dilakukan dengan disiplin, kemanusiaan, dan bertujuan untuk meminimalkan kerusakan, bukan menebar kehancuran.

"Peperangan besar seringkali berawal dari ego yang tidak terkendali di tingkat individu. Jika kita tidak mampu berdamai dengan diri sendiri dan tetangga sekitar, bagaimana kita bisa mengharapkan perdamaian dunia?" kata Ustaz Saiful.

Mengaitkan dengan tugasnya sebagai penyuluh di wilayah pesisir Bulak, Saiful menjelaskan bahwa harmoni di tengah perbedaan adalah kunci utama meniadakan konflik. Beliau menekankan beberapa poin penting dalam mewujudkan semangat No War dalam kehidupan sehari-hari:

Pentingnya Tabayyun (Klarifikasi): Banyak konflik terjadi karena berita bohong atau provokasi. Memastikan kebenaran informasi adalah langkah pertama mencegah perpecahan.

Moderasi Beragama: Menghargai perbedaan keyakinan sebagai rahmat, bukan alasan untuk berseteru.

Mengutamakan Dialog: Setiap permasalahan, baik di tingkat keluarga maupun masyarakat, harus diselesaikan melalui meja musyawarah, bukan adu kekuatan fisik maupun lisan.

Menutup sesi Cahaya Pagi, Saiful Islam mengajak masyarakay untuk menjaga kondusivitas lingkungan. Ia mengingatkan bahwa "perang" di era modern bukan lagi soal angkat senjata, melainkan perang melawan kebencian dan intoleransi di media sosial.

"Mari kita jadikan pagi ini sebagai momentum untuk meletakkan 'senjata' amarah kita. Ganti dengan senyuman dan kepedulian terhadap sesama. Itulah esensi sejati dari No War," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....