Anak Lamban Belajar Butuh Cara Khusus, Ini Penjelasannya

  • 29 Mar 2026 13:59 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Pendampingan belajar bagi anak dengan kategori slow learner atau lamban belajar membutuhkan pendekatan berbeda agar materi dapat diterima secara optimal. Hal tersebut disampaikan anggota Komunitas Pelajar Mengajar Surabaya, Adam Husni, saat menjadi narasumber dalam Dialog Aspirasi RRI Pro 1 Surabaya, Sabtu, 28 Maret 2026.

Husni menegaskan, metode pembelajaran konvensional tidak selalu efektif bagi anak slow learner. “Anak-anak slow learner tidak bisa disamakan dengan metode pembelajaran biasa. Mereka membutuhkan pendekatan visual seperti alat peraga, video, serta keterlibatan aktif dalam komunikasi dan belajar bersama,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan interaktif penting karena sebagian anak mengalami hambatan dalam gaya belajar, baik visual, auditori, maupun kinestetik. Dengan cara yang lebih variatif dan bertahap, anak akan lebih mudah memahami materi yang diberikan.

Ia menjelaskan, kondisi slow learner dipengaruhi berbagai faktor. “Ada faktor genetik, kondisi saat dalam kandungan, hingga kurangnya stimulasi sejak dini. Ini yang sering kali luput dari perhatian orang tua,” katanya.

Temuan di lapangan menunjukkan persoalan tersebut masih banyak dijumpai di wilayah pesisir Surabaya, khususnya kawasan Kenjeran. Dalam pendampingan di sejumlah titik seperti Kampung pelangi Bulak, Kampung Sepeda Air, relawan menemukan masih rendahnya kesadaran sebagian orang tua terhadap pentingnya pendidikan dan tumbuh kembang anak.

Minimnya pendampingan di rumah membuat anak kesulitan mengikuti pembelajaran di sekolah, terutama dalam memahami materi yang membutuhkan konsentrasi dan pengulangan. Kondisi ini berpengaruh pada kemampuan belajar anak yang cenderung tertinggal dibandingkan teman sebayanya.

Husni menekankan pentingnya peran keluarga dalam proses belajar anak. “Pendampingan dari orang tua sangat dibutuhkan. Anak tidak cukup hanya belajar di sekolah, tetapi juga perlu didukung di rumah dengan cara yang tepat,” tuturnya.

Temuan tersebut mendorong Komunitas Pelajar Mengajar Surabaya untuk mengambil peran lebih aktif dalam pendampingan pendidikan sekaligus edukasi kepada orang tua.

Komunitas yang berdiri sejak 2017 ini awalnya berfokus pada pemerataan akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah marginal. Dalam perjalanannya, para relawan menemukan cukup banyak anak dengan kategori slow learner, sehingga menjadi perhatian khusus dalam program pendampingan.

Selain bimbingan belajar, komunitas ini juga mengembangkan edukasi parenting untuk meningkatkan pemahaman orang tua terkait pola asuh dan metode belajar yang sesuai bagi anak. Upaya ini diharapkan dapat membantu proses belajar anak tidak hanya di luar, tetapi juga berlanjut di rumah.

Sejalan dengan prinsip pembelajaran inklusif, setiap anak memiliki kecepatan dan cara belajar yang berbeda. Karena itu, pendekatan yang adaptif dan dukungan dari lingkungan sekitar menjadi kunci agar anak dapat berkembang secara optimal.

Melalui berbagai program tersebut, Komunitas Pelajar Mengajar Surabaya berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pendampingan belajar yang tepat terus meningkat, sekaligus mendorong pemerataan akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah pesisir dan kelompok rentan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....