Reformasi Diri Pasca Ramadhan
- 25 Mar 2026 07:44 WIB
- Surabaya
RRI.CO.I, Surabaya - Program Cahaya Pagi di Pro 4 RRI Surabaya, Rabu 25 Maret 2026, mengangkat tema Reformasi Diri Pasca Ramadhan sebagai refleksi umat Islam setelah menjalani ibadah selama satu bulan penuh di bulan suci.
Narasumber Mochamad Ichsan S.Ag, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Kenjeran Kementerian Agama Kota Surabaya, menjelaskan bahwa Ramadhan merupakan proses tarbiyah atau pendidikan langsung dari Allah SWT bagi umat Islam.
“Romadhon kemarin kita ditarbiyah Allah selama satu bulan penuh, diberikan cobaan dan ujian mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari,” ujarnya.
Ia menambahkan, ibadah puasa melatih umat untuk menahan lapar, haus, serta hawa nafsu, yang menjadi bekal penting dalam membentuk karakter seorang muslim yang lebih baik setelah Ramadhan. Momentum Idul Fitri menjadi simbol kemenangan bagi mereka yang berhasil menjalani proses tersebut.
Menurutnya, keutamaan Ramadhan terbagi dalam tiga fase utama. “Sepuluh hari pertama adalah rahmat Allah, sepuluh hari kedua adalah ampunan, dan sepuluh hari terakhir adalah pembebasan dari api neraka bagi orang-orang yang berpuasa dengan ikhlas,” jelas Ichsan.
Ia menegaskan bahwa kemuliaan orang yang berpuasa sangat besar di sisi Allah SWT. “Rahmat diturunkan, dosa diampuni, dan dijauhkan dari api neraka. Bahkan disebutkan, orang yang bergembira dengan datangnya Ramadhan, jasadnya diharamkan tersentuh api neraka,” katanya.
Setelah Ramadhan, umat Islam memasuki bulan Syawal yang disebut sebagai bulan peningkatan. Ichsan menekankan pentingnya reformasi diri sebagai kelanjutan dari ibadah selama Ramadhan. “Setelah Romadhon, jika tidak mampu berubah menjadi lebih baik, maka termasuk orang yang merugi,” tegasnya.
Ia mengutip Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183 tentang tujuan puasa, yaitu membentuk pribadi yang bertakwa. “La’allakum tattaqun, agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa kepada Allah,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga menyampaikan hadis Rasulullah SAW tentang keutamaan puasa dan shalat malam di bulan Ramadhan. “Barang siapa berpuasa dan mendirikan shalat di bulan Ramadhan dengan iman dan ikhlas, maka Allah ampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” ujarnya.
Ichsan mengingatkan bahwa semangat ibadah yang tinggi selama Ramadhan tidak boleh menurun setelahnya. “Saat Ramadhan, masjid penuh, tadarus Al-Qur’an menggema di mana-mana. Tapi setelah itu, banyak yang mulai meninggalkannya,” katanya.
Menurutnya, bulan Syawal seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah, bukan justru menurunkannya. “Apa yang sudah baik di bulan Ramadhan harus dipertahankan dan ditingkatkan, baik shalat, sedekah, maupun membaca Al-Qur’an,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya kepedulian sosial sebagai ciri orang bertakwa. “Orang bertakwa itu adalah mereka yang mau menyisihkan hartanya, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, untuk membantu sesama,” ujarnya.
Di akhir perbincangan, Ichsan mengajak umat Islam untuk terus memperbaiki diri dan istiqomah dalam beribadah. “Mari kita tingkatkan takwa, perbanyak sedekah, dan jadilah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Itulah wujud reformasi diri pasca Ramadhan,” katanya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....