Syukur Idulfitri Ujian Ketakwaan Pasca Ramadan

  • 22 Mar 2026 07:23 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Rasa syukur di Hari Raya Idulfitri menjadi ujian nyata bagi kualitas ketakwaan umat Islam setelah menjalani ibadah di bulan Ramadan. Hal ini disampaikan oleh Ustaz Mohammad Basirul Fuad, Direktur Wilayah Lembaga Kesehatan Masyarakat, Dewan Pengurus Wilayah Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (DPW BKPRMI) Jawa Timur, dalam tausiyahnya pada program “Mutiara Pagi” RRI Pro 1 Surabaya, Minggu, 22 Maret 2026.

Menurutnya, kesempatan untuk merayakan Idulfitri merupakan nikmat besar yang patut disyukuri. Namun, ia mengingatkan bahwa syukur tidak cukup hanya diucapkan, melainkan harus benar-benar dirasakan dalam hati dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita bersyukur karena masih diberi kesempatan merayakan Idulfitri. Tapi pertanyaannya, apakah hati kita benar-benar ikut bahagia dan bersyukur, atau sama seperti hari biasanya?” ujarnya Ustaz Fuad sapaan akrabnya.

Ia menekankan bahwa Ramadan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk membentuk pribadi yang bertakwa. Oleh karena itu, Idulfitri menjadi momen evaluasi apakah seseorang semakin dekat kepada Allah SWT atau justru kembali pada kebiasaan lama.

“Ramadan itu bukan tujuan, tapi jalan. Tujuan akhirnya adalah menjadi manusia yang bermanfaat dan hamba yang muttaqin,” ujarnya.

Ustaz Fuad juga mengajak umat Islam untuk jujur dalam menilai diri setelah Ramadan. Ia menilai, tidak semua orang yang berpuasa benar-benar meraih makna kemenangan yang hakiki di hari raya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa syukur memiliki tiga dimensi, yaitu dalam hati, lisan, dan perbuatan. Implementasinya dapat diwujudkan melalui berbagai kebaikan sosial, seperti meningkatnya ibadah, sedekah dan kepedulian terhadap sesama.

Mengutip firman Allah dalam Surah Ibrahim, ia menegaskan, “Jika kalian bersyukur, maka Aku akan menambah nikmat kepada kalian.”

Selain syukur, tafakkur atau refleksi diri juga menjadi kunci menjaga kualitas ibadah pasca Ramadan. Ia mengingatkan pentingnya mempertahankan kebiasaan baik yang telah dibangun selama bulan suci, seperti membaca Al-Qur’an, memperbanyak ibadah, dan menjaga kelembutan hati.

“Jangan lihat seberapa banyak amal kita saat Ramadan, tapi lihat bagaimana kita setelah Ramadan. Apakah kebiasaan baik itu masih kita jaga atau mulai pudar,”ucapnya.

Ia menambahkan, indikator keberhasilan Ramadan dapat dilihat dari perubahan sikap, seperti hati yang lebih lembut, lisan yang lebih terjaga, serta meningkatnya kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

Di akhir tausiyahnya, Ustaz Fuad mengingatkan agar Ramadan tidak dipahami sebagai ibadah musiman semata, melainkan proses berkelanjutan menuju ketakwaan.

“Ramadan adalah proses, bukan sekadar momentum. Jangan sampai ibadah kita hanya bersifat musiman,” tuturnya mengakhiri tausiyah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....