DPRD Soroti Pentingnya Kesiapan Keahlihan Pendatang ke Surabaya

  • 18 Mar 2026 10:10 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Arus urbanisasi ke Kota Surabaya, khususnya setelah momentum Lebaran, dinilai sebagai fenomena yang tidak bisa dihindari. Namun, kesiapan para pendatang menjadi faktor krusial agar perpindahan tersebut tidak memicu persoalan sosial baru di Kota Pahlawan.

Wakil Ketua DPRD Surabaya Arif Fathoni menyebut, posisi Surabaya sebagai pusat ekonomi, perdagangan, dan jasa di Jawa Timur menjadikannya tujuan utama masyarakat dari berbagai daerah untuk mencari peluang hidup yang lebih baik.

“Surabaya sebagai ibu kota Jawa Timur memang tidak bisa menolak datangnya warga dari kabupaten atau kota lain yang ingin memperbaiki nasib dibandingkan di daerah asalnya," kata Arif Fathoni.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa urbanisasi yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan berbagai dampak, mulai dari meningkatnya pengangguran hingga persoalan sosial lainnya.

Karena itu, Fathoni menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah kota, pemerintah provinsi, serta daerah asal para pendatang agar arus perpindahan penduduk tetap terkendali.

"Yang perlu dilakukan adalah bagaimana Pemkot Surabaya meminta Pemprov Jawa Timur untuk berkomunikasi dengan kabupaten dan kota asal pendatang, sehingga yang datang ke Surabaya setidaknya memiliki skill dan sudah memiliki rencana kerja,” ujarnya.

Ia menilai, tanpa kesiapan sumber daya manusia yang memadai, urbanisasi justru dapat menambah beban kota, termasuk memicu meningkatnya angka pengangguran terbuka, kriminalitas, serta mengganggu efektivitas program sosial pemerintah.

Fenomena urbanisasi sendiri tercatat terus terjadi setiap tahun, terutama setelah Hari Raya Idulfitri. Pemerintah Kota Surabaya pun rutin melakukan pendataan terhadap pendatang baru sebagai langkah antisipasi dampak sosial.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi sebelumnya juga telah menginstruksikan jajaran wilayah hingga tingkat RT dan RW untuk memperketat pengawasan terhadap pendatang, sekaligus memastikan mereka memiliki tujuan yang jelas saat datang ke Surabaya.

Berdasarkan data kependudukan, jumlah penduduk Surabaya pada awal 2024 mencapai sekitar 3,28 juta jiwa, dengan kenaikan sekitar 21 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini tidak hanya dipengaruhi faktor kelahiran dan kematian, tetapi juga perpindahan penduduk.

Gelombang pendatang umumnya berasal dari wilayah sekitar seperti Madura, Lamongan, Gresik, hingga Probolinggo yang datang dengan harapan memperoleh pekerjaan di Surabaya. Sebagai solusi jangka panjang, Fathoni menilai pemerataan pembangunan antarwilayah di Jawa Timur menjadi kunci untuk menekan laju urbanisasi.

Ia mengungkapkan bahwa sejumlah daerah yang sebelumnya menjadi penyumbang urbanisasi kini mulai mengalami pertumbuhan ekonomi, terutama dengan hadirnya kawasan industri dan manufaktur.

"Daerah-daerah yang dulunya penyumbang urbanisasi terbesar sekarang mulai tumbuh secara ekonomi, terutama dengan hadirnya industri manufaktur. Ini bisa mengurangi ledakan penduduk di Surabaya setiap habis Lebaran,” ujarnya.

Menurutnya, jika pembangunan dapat merata di seluruh daerah, maka masyarakat tidak perlu lagi berbondong-bondong datang ke kota besar untuk mencari penghidupan.

"Saya pikir pemerataan pembangunan itu kunci penting ke depan agar urbanisasi bisa berhenti dengan sendirinya dan kesejahteraan bisa merata di semua kabupaten dan kota di Jawa Timur," tegasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....