Menggapai Makna Lailatul Qadar.

  • 07 Mar 2026 23:04 WIB
  •  Surabaya

RRI. CO. ID, Surabaya - Umat Islam dianjurkan untuk memaksimalkan ibadah pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan guna meraih keberkahan Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Hal tersebut disampaikan oleh Nyai Dr. Puspita Handayani, M.Pd.I, Anggota Majelis Tabligh dan Tarjih Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Timur, dalam dialog “Cahaya Pagi” di RRI dengan tema “Menggapai Makna Lailatul Qadar.”

Dalam pemaparannya, Puspita Handayani mengajak umat Islam untuk senantiasa bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT, terutama nikmat kesehatan dan kesempatan. Ia mengingatkan bahwa Allah telah menjanjikan tambahan nikmat bagi hamba yang bersyukur, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 7 yang menyebutkan bahwa siapa yang bersyukur akan ditambah nikmatnya, namun siapa yang mengingkari maka azab Allah sangat pedih.

Menurutnya, memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan menjadi momentum yang sangat dinantikan oleh umat Islam karena di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar. Malam tersebut disebut sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al-Qadr. Pada malam itu pula Al-Qur’an pertama kali diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia.

Ia menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur’an terjadi melalui dua tahapan. Pertama, Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan dari Lauhul Mahfuz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadar. Kemudian tahap kedua, Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril selama kurang lebih 23 tahun.

Puspita menambahkan, para ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar berada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Namun malam tersebut sengaja dirahasiakan oleh Allah SWT agar umat Islam bersungguh-sungguh meningkatkan ibadah sepanjang Ramadhan, bukan hanya pada malam tertentu saja.

Ia juga menjelaskan salah satu tanda Lailatul Qadar sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim dari Ubay bin Ka’ab, yaitu pada pagi harinya matahari terbit dengan cahaya putih yang lembut tanpa memancarkan sinar yang menyilaukan. Meski demikian, umat Islam diingatkan untuk tidak hanya berfokus mencari tanda tersebut, melainkan lebih utama menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah.

Untuk meraih keberkahan malam tersebut, Puspita mengajak umat Islam memperbanyak amalan seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, serta melaksanakan i’tikaf di masjid. Salah satu doa yang dianjurkan dibaca pada malam Lailatul Qadar adalah doa yang diajarkan Rasulullah SAW:

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni,”

Yang berarti: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”

Menurutnya, doa tersebut mengandung makna permohonan ampun atas segala dosa, sekaligus harapan agar Allah melimpahkan keberkahan dan pahala berlipat ganda atas setiap amal kebaikan yang dilakukan.

Melalui momentum Ramadhan, khususnya pada sepuluh malam terakhir, umat Islam diharapkan mampu meningkatkan kualitas ibadah, menjauhi perbuatan yang tidak bermanfaat, serta memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dialog ini menjadi pengingat bagi umat Islam untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan meraih kemuliaan malam Lailatul Qadar, sebagai momentum memperkuat keimanan dan meningkatkan kualitas spiritual di bulan suci Ramadan.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....