Dari Tiongkok ke Meja Nusantara, Jejak Sejarah Mie Goreng
- 01 Sep 2026 06:33 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Mie goreng menjadi salah satu hidangan yang begitu akrab bagi masyarakat Indonesia. Sajian ini mudah ditemukan mulai dari warung kaki lima, rumah makan, hingga dapur keluarga. Rasanya pun beragam, mulai dari gurih, manis, pedas, hingga perpaduan berbagai bumbu dan bahan yang disesuaikan dengan selera daerah. Di balik kepopulerannya, mie goreng menyimpan perjalanan sejarah yang mempertemukan pengaruh Tionghoa, Eropa, dan tradisi kuliner Nusantara.
Namun, pernahkah terpikir bagaimana mie goreng bisa menjadi bagian dari kuliner Indonesia? Menurut artikel “MIE GORENG: JEJAK SEJARAHNYA DI INDONESIA” yang ditulis The Healthy Belly dan diterbitkan pada 4 Agustus 2023, perjalanan mie goreng di Indonesia berkaitan dengan pengaruh budaya dari berbagai belahan dunia, terutama Tionghoa dan Eropa, sebelum berkembang menjadi hidangan yang dikenal luas masyarakat Indonesia.
Menurut artikel tersebut, mie diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia oleh pedagang Tionghoa sekitar abad ke-10. Para pedagang tidak hanya membawa bahan makanan, tetapi juga memperkenalkan cara mengolah dan memasaknya. Dari proses inilah tradisi kuliner berbasis mie kemudian berkembang di Nusantara.
Kehadiran mie menjadi bagian dari pertukaran budaya yang berlangsung melalui perdagangan dan perpindahan masyarakat. Dalam perjalanan waktu, mie tidak lagi hanya dikenal sebagai makanan yang dibawa dari luar, tetapi mulai mendapatkan tempat dalam kehidupan kuliner masyarakat setempat.
The Healthy Belly juga mencatat bahwa perkembangan mie goreng secara khusus memiliki perjalanan yang lebih kompleks. Pada abad ke-16, Portugis tiba di Kepulauan Maluku dan membuka jalur perdagangan rempah-rempah. Pada abad ke-17, Belanda kemudian mengambil alih kekuasaan di wilayah tersebut. Menurut sumber tersebut, perkembangan ini turut membawa pengaruh budaya dan kuliner baru, termasuk masakan berbasis mie.
Artikel itu menyebut kebiasaan menggoreng mie bersama daging, sayuran, dan rempah-rempah kemudian dikenal sebagai bakmi goreng atau mie goreng Belanda. Pengaruh tersebut selanjutnya berpadu dengan masakan lokal hingga melahirkan bentuk mie goreng yang semakin dekat dengan selera masyarakat Indonesia.
Perjalanan mie goreng tidak berhenti pada pengaruh budaya. Menurut The Healthy Belly, hidangan ini mulai semakin populer di kalangan masyarakat Indonesia pada awal abad ke-20. Pedagang kaki lima dan warung makan kecil turut membuat mie goreng lebih mudah dijangkau karena dikenal sebagai makanan yang murah dan lezat.
Dari warung-warung sederhana, popularitas mie goreng kemudian menyebar ke berbagai daerah. Resepnya pun tidak selalu sama. Masyarakat di setiap wilayah mulai menyesuaikannya dengan bahan makanan dan karakter rasa yang tersedia di daerah masing-masing.
Keragaman Indonesia membuat mie goreng berkembang menjadi berbagai versi. Artikel The Healthy Belly mencatat bahwa di Jawa, mie goreng dapat disajikan bersama tahu, telur, dan kerupuk. Di Sumatra, cita rasanya cenderung lebih pedas dengan tambahan cabai serta bumbu khas daerah. Sementara di Sulawesi, seafood seperti cumi dan udang dapat menjadi bagian dari hidangan.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa mie goreng telah mengalami proses adaptasi. Masyarakat Indonesia tidak sekadar mempertahankan bentuk awal makanan, tetapi memberikan sentuhan lokal sehingga tercipta variasi yang berbeda dari satu daerah ke daerah lainnya.
Perubahan juga terjadi pada bahan utama yang digunakan. Menurut sumber yang sama, pada awalnya mie goreng menggunakan mie telur. Seiring waktu, masyarakat mulai menggunakan berbagai jenis mie, termasuk mie kuning, kwetiau, bihun, soun, hingga mie instan.
Perkembangan tersebut membuat mie goreng semakin fleksibel. Hidangan yang awalnya memiliki akar dari tradisi kuliner luar kemudian dapat diolah menggunakan bahan yang mudah ditemukan di Indonesia.
Kini, mie goreng tidak hanya populer di dalam negeri. The Healthy Belly menyebut hidangan ini telah menjadi salah satu ikon kuliner Indonesia dan turut disajikan oleh restoran Indonesia di luar negeri. Keberagaman versinya juga mencerminkan keragaman budaya dan tradisi masyarakat Indonesia.
Menariknya, perjalanan mie goreng memperlihatkan bahwa sebuah makanan dapat berubah ketika bertemu dengan budaya baru. Mie yang diperkenalkan melalui hubungan dengan masyarakat Tionghoa kemudian mengalami berbagai pengaruh, sebelum akhirnya berkembang dengan bahan dan cita rasa yang sesuai dengan selera Nusantara.
Sepiring mie goreng yang terlihat sederhana ternyata menyimpan cerita tentang perjalanan manusia, perdagangan, pertukaran budaya, dan kreativitas dalam mengolah makanan. Dari mie yang diperkenalkan pedagang Tionghoa, kemudian melalui berbagai pengaruh budaya dan proses adaptasi, hidangan ini berkembang menjadi makanan yang sangat dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia.
Itulah yang membuat mie goreng lebih dari sekadar makanan praktis. Di balik aroma bawang, rasa gurih, manis kecap, pedas cabai, serta aneka bahan pelengkapnya, terdapat perjalanan panjang yang menunjukkan bagaimana kuliner dapat menjadi jembatan antarkebudayaan.
Hari ini, ketika sepiring mie goreng tersaji di meja makan, kita bukan hanya menikmati makanan yang lezat. Kita juga sedang menikmati hasil dari perjalanan budaya yang panjang—sebuah hidangan yang telah beradaptasi dan menemukan tempatnya sendiri di tengah kekayaan kuliner Nusantara.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....