Pastel, Camilan Renyah dengan Jejak Sejarah dari Eropa ke Nusantara
- 03 Jun 2026 11:58 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Pastel menjadi salah satu jajanan tradisional yang akrab di lidah masyarakat Indonesia. Kudapan berbentuk setengah lingkaran dengan kulit renyah dan isian bihun, wortel, kentang, serta telur ini kerap hadir dalam berbagai acara, mulai dari arisan, rapat, hingga hajatan keluarga. Di balik cita rasanya yang gurih, pastel ternyata memiliki sejarah panjang yang berasal dari pertemuan berbagai budaya kuliner dunia.
Menurut buku Riwayat Kuliner Indonesia: Asal-usul, Tokoh, Inspirasi, dan Filosofi karya Badiatul Muchlisin Asti, banyak makanan yang kini dianggap khas Indonesia sebenarnya merupakan hasil akulturasi budaya dengan bangsa-bangsa asing yang datang ke Nusantara. Salah satu contohnya adalah pastel yang diyakini mendapat pengaruh dari tradisi kuliner Eropa, khususnya Portugis dan Spanyol.
Secara etimologis, kata "pastel" berasal dari bahasa Portugis yang merujuk pada makanan berbahan pastry atau kue berkulit tipis. Pada abad ke-16, ketika bangsa Portugis mulai menjelajahi dan berdagang ke berbagai wilayah Asia, termasuk Nusantara, mereka turut membawa tradisi kuliner yang kemudian beradaptasi dengan bahan-bahan lokal.
Dalam perkembangannya di Indonesia, pastel mengalami penyesuaian yang cukup signifikan. Jika makanan serupa di Eropa umumnya berisi daging atau ikan, masyarakat Nusantara mengombinasikannya dengan bahan yang mudah ditemukan seperti bihun, wortel, kentang, ayam, dan telur. Hasilnya adalah pastel dengan cita rasa khas Indonesia yang dikenal hingga saat ini.
Pengamat kuliner menilai keberhasilan pastel bertahan lintas generasi tidak lepas dari fleksibilitas isian dan rasanya yang dapat diterima berbagai kalangan. Kini, selain versi tradisional, hadir pula beragam inovasi seperti pastel isi tuna, keju, daging asap, hingga pastel mini yang banyak dijadikan sajian dalam kotak kudapan.
Meski telah mengalami berbagai modifikasi, bentuk khas pastel dengan pinggiran berpilin tetap dipertahankan. Bentuk tersebut bahkan menjadi identitas yang membedakannya dari kudapan sejenis seperti risoles atau kroket.
Perjalanan sejarah pastel menunjukkan bahwa kuliner tidak hanya berbicara tentang rasa, tetapi juga tentang proses pertemuan budaya. Dari pengaruh kuliner Portugis dan Spanyol hingga adaptasi kreatif masyarakat Indonesia, pastel menjadi bukti bahwa sebuah makanan dapat melintasi ruang dan waktu, lalu tumbuh menjadi bagian dari identitas kuliner bangsa.
Hingga kini, setiap gigitan pastel tidak hanya menghadirkan rasa gurih yang nikmat, tetapi juga menyimpan kisah panjang perjalanan budaya yang menyatukan berbagai tradisi dalam satu hidangan sederhana.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....