Ketika Perut Masih Berpesta di tengah Malam
- 04 Sep 2026 07:27 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Malam hari kini tidak selalu identik dengan waktu untuk tidur. Di sejumlah tempat, aktivitas kuliner justru masih berlangsung hingga tengah malam, bahkan dini hari. Warung makan, kedai kopi, hingga gerai makanan cepat saji tetap ramai didatangi masyarakat.
Bagi sebagian orang, makan tengah malam menjadi bagian dari kebiasaan. Ada yang sengaja mencari makanan setelah pulang bekerja, berkumpul bersama teman, atau sekadar mengikuti rasa lapar yang muncul menjelang tidur.
Namun, pernahkah terpikir apa yang terjadi pada tubuh ketika makanan masuk pada saat tubuh seharusnya mulai beristirahat? Tubuh memiliki ritme sirkadian, yaitu sistem biologis yang mengikuti siklus sekitar 24 jam dan mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk tidur, bangun, serta metabolisme.
Dilansir dari laman National Heart, Lung, and Blood Institute atau NHLBI, penelitian mengenai hubungan antara waktu makan, ritme sirkadian, dan kesehatan berkembang dalam bidang yang disebut krononutrisi. “Waktu makan juga penting dalam menentukan hasil kesehatan, bukan hanya apa yang kita makan,” demikian tulis NHLBI dalam artikel mengenai krononutrisi.
Artinya, perhatian terhadap pola makan tidak hanya berhenti pada jenis dan jumlah makanan. Waktu ketika makanan dikonsumsi juga menjadi salah satu hal yang sedang banyak diteliti. Penelitian yang didukung National Institutes of Health atau NIH menunjukkan, makan pada malam hari dapat memengaruhi kemampuan tubuh mengatur kadar gula darah. Penelitian tersebut melibatkan 19 orang dewasa sehat dalam kondisi kerja malam yang disimulasikan.
Pada penelitian itu, peserta yang makan pada malam hari mengalami peningkatan rata-rata kadar glukosa sebesar 6,4 persen. Sementara peserta yang hanya makan pada siang hari tidak mengalami peningkatan kadar glukosa yang signifikan.
“Penelitian ini memperkuat gagasan bahwa kapan seseorang makan berpengaruh terhadap kondisi kesehatan, termasuk kadar gula darah,” demikian keterangan peneliti yang dikutip laman National Institutes of Health.
Selain kadar gula darah, sejumlah penelitian juga mengaitkan kebiasaan makan pada waktu yang tidak sesuai dengan ritme biologis dengan pengaturan berat badan dan kesehatan metabolik. Namun, makan larut malam tidak bisa langsung dianggap sebagai penyebab tunggal obesitas atau penyakit tertentu. Jenis makanan, jumlah kalori, aktivitas fisik, kualitas tidur, serta pola hidup secara keseluruhan juga turut menentukan kondisi kesehatan seseorang.
Laman National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases menjelaskan, hubungan antara waktu makan, tidur, dan obesitas telah banyak diketahui, meski mekanisme yang mendasarinya masih terus diteliti. Penelitian pada hewan menunjukkan, pemberian makanan pada periode ketika tubuh seharusnya tidak aktif dapat mengganggu jam biologis internal dan memengaruhi sejumlah proses fisiologis. Namun, penelitian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memahami penerapannya pada manusia.
| Baca juga: Mengenal Vertigo dan Cara Mencegahnya |
Karena itu, bagi masyarakat yang terbiasa makan tengah malam, bukan berarti harus langsung menghilangkan seluruh kebiasaan tersebut. Yang perlu diperhatikan adalah apakah makan larut malam sudah menjadi rutinitas, terutama jika disertai pilihan makanan tinggi kalori dan waktu tidur yang tidak teratur.
Jika rasa lapar muncul menjelang tidur, pilihan makanan dan porsinya juga perlu diperhatikan. Sementara bagi pekerja malam atau mereka yang memiliki jadwal kerja bergilir, pengaturan waktu makan tentu membutuhkan penyesuaian dengan pola kerja dan tidur.
Pada akhirnya, menjamurnya kuliner yang buka hingga dini hari memang membuat pilihan makanan semakin mudah ditemukan kapan saja. Tetapi tubuh tetap memiliki jam biologisnya sendiri. Jadi, sebelum kembali berburu kuliner tengah malam, mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang layak dipikirkan: apakah tubuh benar-benar lapar, atau hanya terbiasa makan karena malam belum berakhir?
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....