Amankah Sarapan dengan Menu Gorengan Setiap Pagi?
- 10 Jun 2026 11:46 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Di tengah hiruk-pikuk aktivitas pagi hari, gorengan kerap menjadi pilihan sarapan paling praktis karena mudah didapat dan mengenyangkan. Mulai dari tempe goreng, tahu isi, bakwan, hingga pisang goreng, semua tersedia di penjual kaki lima dekat rumah atau kantor.
Namun, di balik kelezatannya, kebiasaan menyantap gorengan setiap pagi menyimpan ancaman serius bagi kesehatan jika tidak dikendalikan dengan bijak. Berdasarkan artikel di ayosehat.kemkes.go.id, gorengan dan junkfood memang terlihat praktis, namun bila dibiasakan dari waktu ke waktu dapat memicu penyakit kardiovaskular.
Kandungan gula, garam, dan lemak jenuh dalam gorengan dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan menyempitkan aliran darah ke jantung. Padahal, penyakit jantung menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia, sehingga memilih sarapan sehat menjadi langkah preventif yang sangat dianjurkan.
Proses penggorengan sendiri menyebabkan makanan menyerap banyak minyak, sehingga kandungan kalorinya melonjak drastis dibandingkan sebelum digoreng. Jika minyak yang digunakan berasal dari lemak hewani, kolesterol dalam gorengan akan semakin tinggi.
Terlebih lagi, minyak yang dipakai berulang kali di pedagang kaki lima akan terurai dan menyebabkan makanan menyerap lebih banyak lemak trans, yang merupakan lemak paling berbahaya bagi kesehatan jantung. Beberapa penelitian ilmiah telah membuktikan dampak buruk konsumsi gorengan secara rutin terhadap kesehatan.
Sebuah studi dalam jurnal Heart menemukan bahwa orang yang paling banyak mengonsumsi gorengan memiliki risiko 28 persen lebih tinggi terkena stroke dan serangan jantung, serta 37 persen lebih tinggi terkena gagal jantung dibandingkan mereka yang paling sedikit mengonsumsinya. Selain itu, gorengan juga mengandung zat akrilamida yang terbentuk saat makanan bertepung digoreng pada suhu tinggi, yang diduga berkaitan dengan peningkatan risiko kanker ginjal, endometrium, dan ovarium.
Kebiasaan sarapan gorengan setiap pagi juga berkontribusi signifikan terhadap obesitas dan diabetes tipe 2. Sebuah penelitian di Harvard School of Public Health yang melibatkan lebih dari 100.000 pria dan wanita selama 25 tahun menemukan bahwa mereka yang makan gorengan empat hingga enam kali seminggu memiliki risiko diabetes 39 persen lebih tinggi.
Bagi yang mengonsumsi gorengan tujuh kali atau lebih per minggu, risikonya melonjak hingga 55 persen, karena makanan bertepung yang digoreng mengandung karbohidrat sederhana dan lemak tidak sehat yang mengganggu metabolisme gula darah. Tak hanya itu, lemak berlebih dalam gorengan juga dapat merusak sistem pencernaan dan kesehatan kulit.
Lemak dicerna lebih lambat oleh tubuh, menyebabkan rasa kembung, sakit perut, serta gangguan keteraturan buang air besar. Pada kulit, konsumsi lemak tidak sehat dalam jangka panjang dapat mengganggu keseimbangan bakteri di usus dan keseimbangan hormon, yang berujung pada munculnya jerawat dan masalah kulit lainnya.
Masyarakat tidak harus sepenuhnya menghindari gorengan, namun dianjurkan untuk membatasi frekuensi dan porsinya secara signifikan. Sebagai alternatif sarapan yang lebih sehat, Kementerian Kesehatan merekomendasikan menu seperti salad atau gado-gado, roti isi gandum, smoothies, overnight oats, hingga ubi jalar panggang yang hanya membutuhkan waktu lima menit untuk disiapkan.
Jika tetap ingin menikmati gorengan, buatlah sendiri di rumah dengan minyak yang lebih sehat seperti minyak zaitun, minyak kelapa, atau minyak alpukat, serta gunakan minyak hanya sekali pakai. Yang terpenting, jadikan sarapan sehat sebagai investasi jangka panjang demi kualitas hidup yang lebih baik, karena kesehatan jantung dan metabolisme tubuh sangat ditentukan oleh pilihan makanan sejak pagi hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....