Decision Fatigue, saat Terlalu Banyak Memilih Menguras Energi Mental
- 07 Agt 2026 07:46 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Memilih pakaian, menentukan menu makan, membalas pesan, hingga mengambil keputusan di tempat kerja menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Tanpa disadari, berbagai pilihan tersebut juga memerlukan energi mental. Dalam psikologi dikenal konsep decision fatigue, yaitu kondisi ketika seseorang merasa semakin sulit mengambil keputusan setelah dihadapkan pada banyak pilihan dalam waktu yang lama.
Konsep decision fatigue banyak dikaji dalam psikologi untuk menjelaskan bagaimana banyaknya keputusan yang harus diambil dapat memengaruhi kualitas pengambilan keputusan berikutnya. Sejumlah penelitian menunjukkan kondisi tersebut dapat membuat seseorang lebih mudah menunda keputusan, memilih opsi yang paling sederhana, atau menghindari pengambilan keputusan ketika energi mentalnya mulai menurun.
Kajian yang dipublikasikan dalam Journal of Health Psychology menyebutkan, decision fatigue menggambarkan menurunnya kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan dan mengendalikan perilaku setelah berulang kali melakukan proses pengambilan keputusan. "Decision fatigue menggambarkan menurunnya kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan dan mengendalikan perilaku sebagai konsekuensi dari tindakan mengambil keputusan yang dilakukan berulang kali," demikian keterangan dalam kajian Decision Fatigue: A Conceptual Analysis.
American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa kelelahan kognitif merupakan kondisi kelelahan mental yang ditandai dengan menurunnya efisiensi berpikir. Kondisi tersebut dapat muncul setelah seseorang menjalani tugas yang membutuhkan konsentrasi tinggi dalam waktu lama, sehingga perhatian, kecepatan memproses informasi, dan kemampuan mengambil keputusan ikut menurun.
"Kelelahan kognitif merupakan kondisi kelelahan mental yang ditandai dengan menurunnya efisiensi kognitif, berkurangnya perhatian, meningkatnya kesalahan, melambatnya pemrosesan informasi, serta terganggunya kemampuan mengambil keputusan," demikian keterangan American Psychological Association (APA).
Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi tersebut dapat dirasakan ketika seseorang mulai kesulitan menentukan pilihan sederhana setelah menjalani hari yang padat. Misalnya memilih menu makan malam, menentukan prioritas pekerjaan, atau mengambil keputusan penting ketika tubuh dan pikiran sudah lelah.
Karena itu, sejumlah pakar menyarankan agar keputusan-keputusan penting diambil saat kondisi fisik dan mental masih segar. Menyusun rutinitas, mengurangi pilihan yang tidak perlu, serta memberi waktu istirahat bagi otak dapat membantu menjaga kualitas pengambilan keputusan.
Pada akhirnya, setiap orang akan dihadapkan pada banyak pilihan setiap hari. Mengenali batas kemampuan mental bukan berarti menghindari tanggung jawab, tetapi menjadi langkah untuk menjaga kualitas keputusan sekaligus kesehatan psikologis di tengah aktivitas yang semakin padat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....