Perlukah Kita Detoks Medsos agar Bisa Mengurangi Stres?

  • 06 Mei 2026 10:00 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern, tetapi penggunaannya yang tidak terkontrol kerap memicu kecemasan dan rasa rendah diri. Istilah fear of missing out atau FOMO sering membuat orang merasa harus terus terhubung dengan dunia maya setiap saat, padahal kondisi ini dapat menguras energi mental secara perlahan.

Pertanyaan pun muncul: apakah detoksifikasi atau detoks media sosial benar-benar diperlukan untuk mengurangi stres? Merujuk pada edukasi dari Kementerian Kesehatan RI, detoks media sosial diperlukan untuk memberikan jeda bagi pikiran dari banjir informasi yang melelahkan setiap harinya.

Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, menegaskan bahwa saat ini masyarakat terlalu banyak menerima informasi sehingga perlu memiliki literasi dan kemampuan menyaring informasi yang diterima dari media sosial. Menurutnya, banyak orang mengalami stres akibat perbandingan dengan gaya hidup mewah atau prestasi yang ditampilkan di media sosial, padahal tidak semua yang terlihat di dunia maya merupakan kenyataan.

Detoks media sosial tidak berarti memusuhi teknologi, melainkan memberikan jeda pada diri agar tetap waras dan fokus. Penelitian dalam bidang psikologi menunjukkan bahwa pembatasan penggunaan media sosial dalam jangka waktu tertentu dapat berdampak positif terhadap suasana hati, menurunkan tingkat kecemasan, serta mengurangi perasaan kesepian.

Jeda dari media sosial memberikan kesempatan bagi individu untuk lebih terhubung dengan aktivitas nyata serta mengurangi ketergantungan pada validasi eksternal seperti jumlah "like" atau komentar. Dari sisi medis, penggunaan media sosial secara berlebihan dapat memicu peningkatan kadar kortisol, hormon stres, hingga 150 persen di atas normal.

Otak yang terus dipapar informasi tanpa jeda pada akhirnya akan mengalami kelelahan emosional yang luar biasa. Hal ini dapat memicu gangguan tidur, kehilangan konsentrasi, serta burnout yang mengganggu produktivitas sehari-hari.

Data dari Kementerian Kesehatan RI (2023) mengungkap bahwa sekitar 20 persen penduduk Indonesia berpotensi mengalami gangguan jiwa, mulai dari kecemasan hingga depresi berat. Meskipun tidak secara langsung menyebut media sosial sebagai penyebab tunggal, paparan terhadap konten negatif dan tekanan sosial di dunia maya menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap memburuknya kondisi mental masyarakat.

Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan terus menggalakkan edukasi tentang pentingnya literasi digital dan pengelolaan konsumsi informasi yang sehat. Langkah memulai detoks media sosial dapat dilakukan secara sederhana namun konsisten. Matikan notifikasi non-penting yang sering menarik perhatian tanpa tujuan, serta lakukan kurasi pada akun-akun yang diikuti dengan hanya menyisakan yang memberikan pengaruh positif.

Manfaatkan waktu yang biasa terbuang untuk "scrolling" dengan melakukan aktivitas fisik di luar ruangan seperti berjalan kaki atau berkebun, karena kontak langsung dengan alam terbukti mampu meningkatkan hormon kebahagiaan. Masyarakat juga disarankan untuk menetapkan aturan "bebas gadget" pada momen-momen tertentu, seperti saat di meja makan bersama keluarga.

Fokus pada interaksi tatap muka akan membantu menguatkan ikatan emosional yang sering terabaikan akibat kesibukan dengan dunia maya. Cobalah untuk menonaktifkan aplikasi media sosial selama akhir pekan agar memiliki waktu berkualitas untuk berinteraksi secara nyata dengan orang-orang terdekat.

Detoks media sosial pada dasarnya bukan tentang meninggalkan teknologi selamanya, melainkan tentang menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan perangkat digital. Dengan kesadaran sejak dini, masyarakat dapat lebih bijak dalam mengatur waktu berselancar di dunia maya dan menemukan kembali keseimbangan antara kehidupan digital dan kehidupan nyata.

Keseimbangan hidup berawal dari niat kecil untuk memberi diri sendiri izin beristirahat dari hiruk-pikuk informasi yang tak pernah berhenti.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....