Guru Besar ITPLN: PLTS 100 GWp Harus Terintegrasi
- 17 Sep 2026 07:54 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Guru Besar Institut Teknologi PLN (ITPLN), Prof. Syamsir Abduh, menilai PLTS 100 Gigawat Peak (GWp) perlu terintegrasi. Program tersebut harus ditempatkan sebagai transformasi sistem ketenagalistrikan nasional, bukan sekadar penambahan kapasitas pembangkit.
Menurut Syamsir, keberhasilan program membutuhkan strategi menyeluruh dalam ekosistem energi nasional. Aspek tersebut mencakup sumber daya, jaringan, pasar, pembiayaan, industri, teknologi, perizinan, dan SDM.
“100 GWp PLTS bukan proyek pembangkitan semata, tetapi transformasi ekosistem energi nasional,” ujar Syamsir, Rabu, 16 September 2026. Ia menilai pemerintah perlu memiliki peta jalan nasional dengan tahapan yang realistis.
Target 100 GWp dapat dibagi menjadi beberapa tahap hingga 2040. Target tahunan dan regional perlu mempertimbangkan potensi surya, kesiapan jaringan, serta pertumbuhan permintaan listrik.
“Pengembangan proyek harus terintegrasi agar tidak berjalan secara terfragmentasi,” katanya. Kualitas sumber daya energi dan kapasitas jaringan menjadi pertimbangan utama menentukan lokasi proyek.
Syamsir menilai jaringan listrik harus menjadi prioritas sebelum pembangunan klaster PLTS berskala besar. Studi dampak terhadap sistem kelistrikan juga perlu dilakukan sebelum proyek disetujui.
Pemerintah juga perlu menetapkan zona energi terbarukan dan kapasitas tampung jaringan. Transmisi dari wilayah berpotensi surya tinggi menuju pusat beban perlu dipercepat.
Interkoneksi antar-pulau juga perlu diperkuat untuk mendukung integrasi energi terbarukan. Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga keandalan sistem ketenagalistrikan nasional.
“Untuk menjaga keandalan sistem, pengembangan PLTS perlu didukung baterai penyimpanan energi,” ujarnya. Dukungan lainnya mencakup pumped storage, pembangkit fleksibel, dan sistem kendali jaringan yang lebih canggih.
Syamsir juga mendorong pengembangan PLTS menggunakan pendekatan portofolio. Kapasitas tersebut tidak harus mengandalkan satu model pembangkit.
Pengembangan dapat mencakup PLTS utilitas, PLTS atap, PLTS terapung, dan PLTS dengan BESS. Sistem hibrida surya-hidro serta surya-angin-penyimpanan juga dapat dikembangkan.
“PLTS juga dapat diarahkan untuk kawasan industri, wilayah terpencil dan kepulauan,” katanya. Besarnya kebutuhan modal membuat pembiayaan menjadi faktor penting dalam program PLTS 100 GWp.
Pemerintah perlu menciptakan mekanisme pengadaan yang layak secara finansial dan menarik investor. Kepastian investasi mencakup perjanjian jual beli listrik, tarif, take-or-pay, dan risiko mata uang.
Aspek lainnya meliputi curtailment, lahan, koneksi jaringan, jaminan pemerintah, dan kepastian regulasi. Sumber pembiayaan juga perlu diperluas melalui berbagai instrumen.
Pilihannya mencakup perbankan domestik, bank internasional, obligasi hijau, dan pembiayaan berkelanjutan. Pembiayaan juga dapat berasal dari bank pembangunan multilateral, dana iklim, dan blended finance. Investor negara serta investor institusional juga dapat dilibatkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....