Akademisi ITPLN: Target PLTS 100 GW Perlu Dilakukan Bertahap
- 08 Agt 2026 22:27 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Akademisi Institut Teknologi PLN (ITPLN) Zulfikar Manggau menilai target PLTS 100 GW merupakan langkah besar. Target tersebut berpotensi memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Menurut Zulfikar, pembangunan PLTS 100 GW membutuhkan kesiapan menyeluruh, mulai pendanaan hingga teknologi penyimpanan energi. Karena itu, target tersebut dinilai lebih realistis ditempuh bertahap dengan mengutamakan proyek yang paling siap.
Hal itu disampaikan Zulfikar dalam Focus Group Discussion (FGD) Pemetaan Potensi dan Peningkatan Kesiapan Proyek PLTS 100 GW. FGD tersebut digelar bersama Bappenas dan GIZ, membahas kesiapan pengembangan energi surya dalam skala besar.
"Adanya proyek PLTS 100 GW bisa menjadi platform pembangunan nasional yang mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Zulfikar, Sabtu, 8 Agustus 2026. Menurutnya, program tersebut juga dapat memperkuat ketahanan energi, industrialisasi hijau, lapangan kerja, dan fiskal negara.
Namun, Zulfikar mengingatkan sedikitnya terdapat tiga persoalan besar yang harus diselesaikan sejak awal. Persoalan pertama adalah pendanaan karena pembangunan PLTS 100 GW membutuhkan investasi sangat besar.
"Investasi yang dibutuhkan sangat besar, bahkan dapat mencapai ratusan miliar dolar AS," katanya. Persoalan kedua berkaitan dengan lahan, terutama karena ketersediaannya semakin terbatas dan mahal di Pulau Jawa.
Sementara itu, potensi lahan di luar Jawa lebih besar, tetapi jaringan listriknya belum memadai. Salah satu opsi pengembangan adalah PLTS terapung di waduk atau perairan.
Namun, Zulfikar menilai opsi tersebut tetap membutuhkan perhitungan keekonomian karena biaya infrastrukturnya tidak murah. Persoalan ketiga adalah sifat intermiten energi surya yang bergantung pada kondisi matahari.
Produksi listrik menurun malam hari atau ketika mendung sehingga membutuhkan teknologi penyimpanan energi. "Kalau malam atau siang tapi mendung mendadak mati. Jadi butuh baterai yang harganya masih mahal," kata Zulfikar.
Expert Lembaga Terapan ITPLN tersebut mengatakan teknologi penyimpanan menjadi salah satu kunci keberhasilan pengembangan PLTS. Mantan EVP Energi Baru Terbarukan PT PLN (Persero) itu menyebut rencana 100 GW telah dipetakan.
Pemetaan tersebut dilakukan dalam lingkungan PLN Group untuk periode 2025-2034. Rencana tersebut mencakup PLTS utilitas sekitar 22 GW dan konversi PLTD serta PLTG sekitar 20 GW.
Selain itu, terdapat PLTS atap dan penciptaan permintaan industri sekitar 14 GW. Kemudian, pengembangan hybrid dengan PLTS mencapai sekitar 35 GW serta wilayah non-PLN sekitar 8,2 GW.
Meski demikian, Zulfikar menyarankan target 100 GW tidak dipaksakan selesai dalam satu dekade. Menurutnya, pembangunan harus mengikuti kesiapan teknologi, regulasi, jaringan, pembiayaan, dan proyek.
Tahap pertama dapat dilakukan pada 2025-2029 dengan target sekitar 25 GW. Fokusnya meliputi PLTS atap pabrik dan perkantoran, PLTS terapung, serta pemanfaatan lahan kritis.
Lokasinya antara lain Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi. Pemerintah juga perlu membenahi regulasi yang mendukung pengembangan PLTS, termasuk aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri.
Tahap kedua berlangsung pada 2030-2034 dengan tambahan sekitar 25 GW untuk memenuhi kebutuhan industri. Pada fase tersebut, sistem penyimpanan energi menjadi penting agar pasokan listrik lebih stabil.
Tahap ketiga diarahkan mengejar sisa sekitar 50 GW mulai 2035. Menurut Zulfikar, pencapaiannya sangat bergantung pada perkembangan harga baterai dan pembiayaan hijau.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....