Pak Ahmad dan Rumput Pagi untuk Rusa Timor
- 04 Okt 2026 17:44 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Tuban - Pukul 05.30 WIB, saat deru mesin truk tangki di Fuel Terminal Tuban belum pecah, seorang pria dan karung goni di punggung sudah berjalan pelan menuju sudut paling hijau saat musim hujan tiba, namun sekarang terlihat kering karena kemarau panjang di kompleks itu. Tanah di bawahnya juga kering kerontang. Di seragamnya, nama itu tertulis jelas, Ahmad Mundir.
Ia warga Dusun Remen Jenu, Desa Remen, Kecamatan Jenu, Tuban, warga ring 1 Fuel Terminal Tuban. Tujuannya bukan ke ladang atau sawah, melainkan sebuah kandang berpagar kawat yang berdiri di antara bayang-bayang tangki-tangki BBM raksasa.
Atributnya lengkap, wearpack biru Pertamina dengan helm kuning proyek, sepatu boot karet kuning, dan strip reflektor. Di lengan ada patch bendera Merah Putih.
Saat ia masuk kandang, puluhan pasang mata muncul dari balik peneduh. Rusa-rusa Jawa dengan bulu cokelat kemerahan itu hafal betul suara langkah itu. Mereka tahu, karung yang dipikul Ahmad berisi makanan yang baru ia arit, rumput segar dan kangkung yang sudah ia siapkan sejak subuh.
Dulu, Ahmad adalah petugas kebersihan taman - gardener. Kini, bersama rekannya Abdul Salam, ia adalah 1 dari 2 orang khusus yang merawat kandang ini.
"Ndak pernah mimpi, Mbak," kata Ahmad- sapaan akrabnya di lapangan - sambil mengelus rusa betina yang paling jinak.

Bukan Rusa Biasa
Rusa yang dirawat Ahmad bukan rusa biasa. Ia adalah Rusa timorensis atau Rusa Jawa - Rusa Timor.
Secara fisik ia unik. Berambut cokelat kemerahan di punggung dengan perut lebih terang, tinggi bahu 100-110 cm, bobot jantan bisa mencapai 73 kg. Pembeda paling kentara ada di tanduknya. Jika rusa lain cabang tanduknya tumbuh ke dalam, cabang kedua tanduk Rusa Jawa yang disebut Bez justru tumbuh ke arah luar. Demikian dijelaskan dalam penelitian Yudha et al. (2019).
Satwa ini secara alami hanya ada di Jawa dan Bali. Namun kini di habitat aslinya ia terdesak. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan LHK melalui Permen P.20/2018 menetapkannya sebagai satwa dilindungi, dan IUCN Redlist memasukkannya dalam kategori Vulnerable atau rentan punah.
Bagi Ahmad, rumput dan kangkung bukan sekadar pakan. "Sehari saya butuh karung rumput. Ngaritnya di dekat sini saja, sudah banyak. Makanannya rumput ya mau, daun-daunan seperti mangga ya mau, seperti jambu ya mau. Disupport juga kangkung seminggu tiga kali," tuturnya.
Rutinitas itu ajek. Pakan utama berupa rumput dari dalam area perusahaan yang diambil tim outdoor, diberikan 2 kali sehari. Di luar itu juga disediakan kangkung seminggu 2-3 kali. Kalau musim kemarau, tantangannya berat.
"Kalau musim kemarau ini kebanyakan kan kering. Jadinya ngasih makannya gak stabil kayak musim penghujan. Sudah sulit ngambilnya, karena pada kering semua," kata Ahmad.
Pertamina melibatkannya bukan sebagai pekerja lepas, melainkan sebagai perawat tetap. Ia dan Abdussalam jaga dari jam 07.00 / 08.00 sampai jam 16.00. Tugasnya memberi makan, bersih-bersih kandang, rumput-rumput liar ditebang dikeluarkan.
Ia sudah hafal betul karakter masing-masing rusa. Rusa-rusa itu kalau ada orang asing biasanya lari. Kecuali kalau dikasih makanan baru mendekat. Usia tertua di sini sudah sekitar 5 tahun. Rusa-rusa ini tahan penyakit, gak rentan. Kalau ada yang sakit, langsung dipanggilkan teman-teman dokter hewan. Tapi selama ini belum pernah ada yang kelihatan sakit. Setiap ada kelahiran atau kematian selalu dilaporkan dan dibikin BAP.

Dari Empat Menjadi Tiga Puluh Lima
Di Fuel Terminal Tuban, nasib satwa rentan itu coba dilawan. Fuel Terminal Tuban berperan sebagai terminal transit strategis yang menerima produk bahan bakar minyak (BBM) melalui kapal tanker maupun jaringan pipa. Fasilitas tersebut didukung belasan tangki penyimpanan dengan kapasitas total 305.192 kiloliter yang dirancang sesuai karakteristik masing-masing jenis BBM.
"Penangkaran rusa sendiri dimulai dari tahun 2017. Dari satu pasang, istilahnya di rusa itu ada satu jantan dan tiga betina, jadi total empat ekor. Bibitnya diambil dari Kudus. Izinnya itu selama lima tahun, jadi sebenarnya habis di tahun 2022. Saat ini kita sedang pengurusan izin ke BKSDA," ujar Lingga Gayuh Kinara, CDO Fuel Terminal Tuban.
Dari 4 ekor itu, sekarang sudah menjadi 35 ekor. Menurutnya, pemilihan lokasi kandang tidak sembarangan. Kandang awalnya sekitar 1.000 m2 dan baru kemarin diperluas ke belakang menjadi sekitar 3.000 sampai 5.000 m2 atau hampir 1 hektare, sengaja ditempatkan di luar area inti operasional, dekat perkantoran, jauh dari pipa dan bongkar muat BBM.
"Aspeknya untuk menunjang program keanekaragaman hayati. Kita diminta untuk ada perlindungan kepada flora atau fauna yang dilindungi. Jadi kita pilih rusa karena mungkin lebih mudah ya, paling mudah untuk ditangkarkan," lanjutnya.
"Ini bukan pajangan, ini konservasi ex-situ yang serius," tambahnya.
Keseriusan itu terlihat dari angka. Setiap hari, Ahmad harus menyediakan 75 kilogram pakan berupa rumput dan daun-daunan. Kalau minumnya sudah tersedia sendiri di dalam kandang. Setiap tahun dana CSR Rp. 30 Juta digelontorkan untuk mendukung kehidupan mereka.
Lalu, apakah ada rencana rusa-rusa ini dilepasliarkan ke hutan seperti yang dilakukan Fuel Terminal Rewulu di Yogyakarta?
"Kalau rencananya kita sudah ada, sudah koordinasi dengan BKSDA Bojonegoro. Jadi kita mau ada rencana untuk pelepasan. Rencananya mungkin lebih dari 10 ekor yang sudah dewasa yang sudah siap untuk dilepasliarkan. Karena kita juga harus ada penilaian dari dokter hewan, apakah setiap individunya sudah siap. Pelepasannya nanti kita harus ada studi dulu, menilai rusanya apakah sudah siap, kemudian daerahnya juga apakah cocok. Biasanya kalau pelepasan itu di daerah paling dekat itu daerah Pacet atau Baluran," jawabnya pelan.
Alasan pelepasliaran karena populasi sudah melebihi kapasitas. Rumput di dalam kandang mulai berkurang karena dimakan terus. Setiap tahun peningkatan populasinya cukup pesat.
Apa yang dilakukan Ahmad dan Abdusalam di Tuban ternyata adalah satu keping dari mozaik besar.
Pertamina tercatat memiliki setidaknya 7 benteng konservasi Rusa Jawa: dari PEP Field Cepu di Bojonegoro yang merintis sejak 2013 bersama Perhutani, Taman Rusa di Kilang Cilacap dan Balongan yang rutin mencatatkan kelahiran, hingga Wana Wisata Maliran di Blitar yang sudah berjalan sejak 1999.
Fuel Terminal Tuban dengan 35 ekornya menjadi simpul terbaru yang menegaskan bahwa terminal energi juga bisa menjadi terminal kehidupan.

Regulasi, Kesejahteraan, dan Perpanjangan Izin
Empat ekor Rusa Timor menjadi awal perjalanan konservasi di Fuel Terminal Tuban. Kini, jumlahnya telah berkembang menjadi 35 ekor. BKSDA Jatim berharap kegiatan penangkaran seperti ini terus berkembang, dengan tetap mengikuti regulasi dan mengutamakan kesejahteraan satwa.
Bagi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur, konservasi bukan hanya tentang seberapa banyak satwa berkembang biak.
Ada kesejahteraan satwa, kelayakan kandang, kondisi lingkungan, hingga proses perizinan yang harus dipastikan. Apalagi penangkaran berada di kawasan objek vital yang setiap hari dipenuhi aktivitas distribusi energi.
Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Madya BBKSDA Jawa Timur, Bugiono, mengatakan kegiatan penangkaran nonkomersial memiliki dasar hukum yang jelas.
Menurutnya, Permen LHK Nomor 18 Tahun 2024 mengatur kegiatan penangkaran nonkomersial. Sementara penangkaran komersial diatur dalam Permen LHK Nomor 15 Tahun 2023.
"Karena Pertamina ini merupakan statusnya BUMN, jadi diperbolehkan untuk kegiatan penangkaran nonkomersial," kata Bugiono.
Namun, bertambahnya populasi rusa tidak serta-merta membuat satwa bisa langsung dilepasliarkan. Ada tahapan yang harus dilalui untuk memastikan rusa benar-benar siap kembali ke habitatnya.
Bugiono menjelaskan, rusa yang akan dilepasliarkan harus dalam kondisi sehat. Pemeriksaan kesehatan harus dilakukan dokter hewan penangkaran atau dokter hewan yang ditugaskan.
Selain itu, pelepasliaran membutuhkan persetujuan Kementerian Kehutanan. Satwa juga harus menjalani proses adaptasi di habitat tujuan selama minimal tujuh hingga 14 hari.
"Sehingga satwa tersebut tidak stres apabila dilepas ke alam," ujarnya.
Untuk Fuel Terminal Tuban, proses tersebut belum dapat dilakukan. Izin penangkaran yang diterbitkan pada 2017 telah berakhir pada 2022 dan kini masih dalam proses pengurusan izin baru.
BBKSDA Jawa Timur telah menerbitkan pertimbangan teknis untuk persetujuan penangkaran. Selanjutnya, proses persetujuan diteruskan kepada Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem di Kementerian Kehutanan.
Selama proses perizinan berlangsung, Pertamina belum diperbolehkan melakukan pelepasliaran rusa dari unit penangkarannya.

Di sisi lain, keberadaan penangkaran di kawasan objek vital juga menjadi perhatian. Bugiono menegaskan, lokasi penangkaran harus memperhatikan kesejahteraan satwa.
"Jangan sampai lokasi penangkarannya ditaruh di tengah-tengah mesin," katanya.
Menurut Bugiono, pemeriksaan teknis tidak hanya melihat kondisi kandang. Tingkat kebisingan dan gangguan dari lingkungan sekitar juga menjadi bagian yang diperhatikan.
Sebab, tujuan utama penangkaran adalah perkembangbiakan. Rusa tidak ditangkarkan sekadar untuk diperagakan atau dipertontonkan.
"Sehingga pada saat dia breeding, gangguan dari luar itu memang diperhatikan sehingga keberhasilan penangkaran reproduksinya bisa terjamin," jelasnya.
Bugiono mengaku belum pernah datang langsung ke Fuel Terminal Tuban. Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan teknis, lokasi tersebut dinilai telah memenuhi syarat minimal untuk kegiatan penangkaran Rusa Timor.
| Baca juga: Film Pendek Siswa SMKN 12 Bikin Haru |
Pertimbangan teknis dan kesesuaian lokasi itu kemudian menjadi dasar rekomendasi penerbitan izin penangkaran.
Bagi BBKSDA Jawa Timur, keberhasilan penangkaran juga harus diikuti kepatuhan terhadap kewajiban administrasi dan teknis. Penangkar wajib membuat laporan tahunan dan laporan triwulan mengenai kegiatan penangkaran.
Setiap kelahiran maupun kematian rusa juga harus dilaporkan. Legalitas satwa yang ditangkarkan pun harus disertifikasi.
Di balik angka 35 ekor itu, ada pekerjaan konservasi yang belum selesai. Bertambahnya populasi baru menjadi satu bagian dari perjalanan panjang untuk memastikan Rusa Timor tetap sehat dan memiliki habitat yang layak. Sebab, bagi konservasi, ukuran keberhasilan bukan hanya ketika empat ekor rusa berubah menjadi 35. Yang lebih penting, setiap ekor yang lahir memiliki kesempatan untuk tumbuh sehat dan, ketika waktunya tiba, kembali ke alam.

Terminal Kehidupan
Bagi karyawan Fuel Terminal Tuban sendiri, keberadaan rusa ini mengubah ritme kerja. Menurut Mailal Badir, keberadaan penangkaran rusa di Fuel Terminal Tuban memberikan pengalaman berbeda bagi para pekerja.
"Menurut saya, adanya penangkaran rusa ini cukup menarik, apalagi bisa menjadi tempat singgah sebentar di sela-sela kesibukan kerja," ujarnya.
Menurutnya, setelah seharian bekerja, melihat rusa atau sekadar memberi makan menjadi hiburan sederhana untuk melepas penat.
"Kadang setelah seharian bekerja, melihat rusa atau sekadar memberi makan bisa jadi hiburan sederhana untuk melepas penat," katanya.
Keberadaan rusa juga membuat suasana lingkungan kerja terasa lebih asri dan tidak monoton. Bagi pekerja, penangkaran tersebut bukan hanya menjadi bagian dari upaya pelestarian satwa, tetapi juga menghadirkan suasana positif di tengah rutinitas pekerjaan.
"Jadi, selain bermanfaat untuk pelestarian satwa, penangkaran ini juga memberikan suasana positif bagi kami sebagai pekerja di FT Tuban," kata Mailal.
Kawasan ini adalah objek vital, tidak terbuka untuk umum. Hanya untuk intern saja. Paling kalau ada kunjungan sifatnya resmi, kadang menerima kunjungan dari SD di sekitar ring 1 yang mau mengetahui lebih detail proses bisnis.
Menjelang siang, karung Ahmad sudah kosong. Rumput yang ia arit sejak subuh tadi sudah habis, berpindah ke perut 35 ekor Rusa Jawa yang sekarang berteduh diam di bawah peneduh. Kenyang semua.
Ahmad mengusap keringat di pelipisnya. Di belakangnya tangki-tangki BBM raksasa masih berdiri kokoh. Di depannya, pagar kawat kandang ia cek lagi, ia kunci pakai rantai. Memastikan semuanya aman, tidak ada yang lepas.
Begitu saja setiap hari. Ia yang dulu cuma gardener taman dari Dusun Remen Jenu, kini jadi penjaga kehidupan.
Orang mungkin lihat Fuel Terminal Tuban sebagai tempat penyalur energi. Tapi buat Ahmad, setiap jam 05.30 pagi, tugasnya sederhana: memastikan rusa-rusa Jawa itu tetap hidup.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....