Diujung Sidoarjo, Anak-Anak Pucukan Menantang Keterbatasan

  • 21 Jun 2026 10:34 WIB
  •  Surabaya

‎‎RRI.CO.ID, Sidoarjo - Jalan sempit yang membelah tambak, lumpur saat hujan, serta minimnya sarana transportasi menjadi pemandangan sehari-hari warga Dusun Pucukan, Kelurahan Gebang, Kecamatan Sidoarjo. Di wilayah pesisir yang terisolasi itu, pendidikan masih menjadi kemewahan yang harus diperjuangkan.

‎Dusun Pucukan merupakan salah satu kawasan terpencil di Kabupaten Sidoarjo. Berdasarkan data monografi dan penelitian di Kelurahan Gebang, dusun ini berjarak sekitar 12 kilometer dari kantor kelurahan dan 20 kilometer dari pusat Kecamatan Sidoarjo. Pada 2017, jumlah penduduknya tercatat 178 jiwa yang terdiri dari 91 laki-laki dan 87 perempuan.

Letaknya yang dikelilingi tambak dan perairan membuat akses menuju dusun tersebut jauh lebih sulit dibanding wilayah lain di Sidoarjo. ‎Kondisi keterisolasian itu berdampak langsung pada pendidikan anak-anak. Ketua RT Dusun Pucukan, Roni, mengatakan hingga kini belum tersedia pendidikan usia dini seperti TKA maupun TKB di dusunnya.

Anak-anak yang memasuki usia sekolah umumnya langsung masuk kelas satu sekolah dasar tanpa mendapatkan pendidikan dasar sebelumnya. ‎"Di sini itu kalau menurut saya pribadi pendidikannya kurang. Anak kecil-kecil itu TKA, TKB enggak ada. Sebenarnya perlu guru ngaji sama guru TK, tapi di sini belum ada. Kemarin waktu Bu Bupati ke sini saya sudah menyampaikan kalau bisa ada guru yang ditempatkan untuk mengajar anak-anak di sini," ujar Roni, Minggu 21 Juni 2026.

‎Menurut dia, keterbatasan akses juga memengaruhi aktivitas belajar mengajar. Guru yang datang dari kota harus menempuh perjalanan panjang sehingga sering tiba pada pagi menjelang siang. Akibatnya, waktu belajar anak-anak menjadi terbatas.

‎"Biasanya guru datang sampai sini jam delapan atau setengah sembilan. Warga sudah maklum karena perjalanannya jauh. Tapi akhirnya waktu mengajarnya juga sedikit, kadang cuma sekitar satu jam," katanya.

‎Bukan hanya pendidikan dasar yang menjadi persoalan. Biaya pendidikan juga masih menjadi hambatan bagi sebagian keluarga untuk menyekolahkan anak hingga jenjang lebih tinggi. Di tengah kondisi ekonomi yang bergantung pada hasil tambak dan pekerjaan serabutan, banyak orang tua harus menyesuaikan mimpi dengan kemampuan mereka.

‎Surti Ningsih, salah satu warga Dusun Pucukan, mengaku ingin anaknya memiliki masa depan yang lebih baik melalui pendidikan. Namun, keterbatasan biaya masih menjadi tantangan yang tidak mudah dihadapi.

‎"Pengen banget sekolah tinggi, cuma biayanya enggak ada. Di sini yang punya biaya bisa sampai SMA, yang tidak punya kadang hanya sampai SMP. Pendidikan di sini masih minim," ujar Surti dengan suara lirih.

‎Harapan Surti mewakili banyak orang tua di Dusun Pucukan. Mereka sadar pendidikan merupakan jalan keluar dari lingkaran keterbatasan yang selama ini membayangi kehidupan masyarakat pesisir. Namun jalan menuju cita-cita itu tidak semudah yang dibayangkan.

‎Data berbagai lembaga sosial yang melakukan pendampingan di wilayah tersebut juga menunjukkan Dusun Pucukan masih menghadapi persoalan khas daerah tertinggal, mulai dari sarana dan prasarana yang minim, akses transportasi yang terbatas, hingga kekurangan tenaga pendidik. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya kualitas layanan pendidikan yang diterima warga.

‎Di tengah hamparan tambak dan jalan yang belum sepenuhnya memadai, anak-anak Dusun Pucukan terus berangkat sekolah dengan segala keterbatasannya. Mereka mungkin tinggal jauh dari pusat kota, tetapi mimpi-mimpi mereka tetap tumbuh tinggi. Kini, harapan itu menunggu satu hal yang sama: hadirnya perhatian dan kesempatan yang setara untuk belajar dan meraih masa depan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....