Senyum Arfana dan Ikhtiar 18 Tahun Bersama JAPFA for Kids Melawan Malagizi

  • 05 Agt 2026 15:09 WIB
  •  Surabaya
Poin Utama
  • Selama 18 tahun, JAPFA for Kids membangun kolaborasi bersama sekolah, tenaga kesehatan, orang tua, dan pemerintah untuk mengatasi malagizi melalui intervensi gizi, edukasi PHBS, pemantauan pertumbuhan, serta pendampingan berkelanjutan
  • Hingga 2026, JAPFA for Kids menjangkau 217.706 siswa, 14.713 guru, dan 1.308 sekolah di 106 kabupaten/kota di 28 provinsi.
  • Program ini melengkapi Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan memperkuat edukasi gizi, pelatihan guru, monitoring pertumbuhan, dan pembiasaan hidup sehat
  • Dampak program terukur menunjukkan perbaikan status gizi siswa. Pada 2025, sebanyak 646 dari 1.034 anak yang mengalami gizi kurang maupun gizi buruk berhasil mencapai status gizi baik atau setara 62,5 persen

RRI.CO.ID, Surabaya – Tawa anak-anak memecah udara pagi di halaman SDN Kemantren, Kabupaten Lamongan. Satu per satu mereka berbaris dengan wajah penuh semangat, menunggu giliran menerima sebutir telur rebus dalam kegiatan JAPFA for Kids.

Di antara deretan siswa itu, Arfana Asyam tampak tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Siswa kelas lima tersebut tersenyum lebar saat menerima telur yang memang menjadi makanan favoritnya.

"Senang dapat telur," ucapnya singkat.

Bagi Arfana, telur hanyalah makanan yang ia sukai. Namun bagi guru, tenaga kesehatan, dan para pendamping program, sebutir telur itu menyimpan harapan yang jauh lebih besar. Di balik kesederhanaannya, ada ikhtiar bersama untuk memperbaiki status gizi anak-anak sejak usia sekolah.

Saat sebagian siswa menikmati sarapan mereka, kesibukan lain berlangsung di ruang guru. Timbangan digital, alat ukur tinggi badan, hingga aplikasi pemantauan telah disiapkan. Begitu pembagian telur selesai, anak-anak bergantian mengukur tinggi dan berat badan. Hasilnya langsung diinput ke dalam sistem digital agar perkembangan setiap anak dapat dipantau dari waktu ke waktu.

Pagi itu, Rabu, 20 Mei 2026, memperlihatkan bahwa kegiatan di SDN Kemantren bukan sekadar membagikan makanan tambahan. Di balik rutinitas yang terlihat sederhana, ada kolaborasi yang terjalin rapi antara sekolah, tenaga kesehatan, orang tua, dan JAPFA untuk memastikan anak-anak tidak hanya kenyang hari ini, tetapi juga tumbuh lebih sehat pada masa mendatang

Model kolaborasi inilah yang selama 18 tahun menjadi fondasi JAPFA for Kids.

Keceriaan terpancar dari wajah anak-anak peserta JAPFA for Kids saat mengikuti kegiatan edukatif yang dirancang untuk menumbuhkan semangat belajar, rasa percaya diri, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat 11,9 persen anak usia 5–12 tahun mengalami gizi lebih, 7,8 persen mengalami obesitas, sedangkan 11 persen lainnya masih berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).

Masalah itu juga ditemukan di wilayah pelaksanaan JAPFA for Kids. Data Social Investment (SI) JAPFA bersama puskesmas di sembilan lokasi program pada 2025 menunjukkan, dari 15.498 siswa yang diperiksa, sebanyak 1.034 anak atau sekitar 6,7 persen masih mengalami gizi kurang maupun gizi buruk.

Sementara itu, Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8 persen. Namun balita dengan status gizi kurang masih mencapai 16,8 persen, prevalensi wasting sebesar 6,2 persen, dan severe wasting atau gizi buruk akut berada di angka 1,2 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan gizi bukan hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga pola konsumsi, perilaku hidup sehat, serta pendampingan yang berkelanjutan. Karena itu, perbaikannya tidak bisa diserahkan kepada satu pihak saja. Pemerintah, sekolah, tenaga kesehatan, keluarga, dunia usaha, hingga masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya.

Di titik itulah JAPFA memilih mengambil bagian.

Suasana penuh keceriaan mewarnai kegiatan JAPFA for Kids saat siswa mengikuti permainan edukatif yang mendorong kerja sama, kepercayaan diri, dan kebersamaan. Melalui aktivitas belajar yang menyenangkan, JAPFA berkomitmen mendukung tumbuh kembang anak Indonesia agar menjadi generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter.

Tantangan Gizi Belum Berakhir, Delapan Belas Tahun Mendampingi Sekolah

JAPFA for Kids telah berjalan sejak 2008, jauh sebelum isu gizi anak menjadi perhatian luas. Program ini dirancang untuk membantu menurunkan angka malagizi sekaligus membangun kebiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di kalangan siswa sekolah dasar, terutama di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Selama hampir dua dekade, program tersebut berpegang pada satu prinsip, yakni sharing contribution. Melalui pendekatan itu, JAPFA tidak sekadar menyalurkan bantuan, tetapi membangun kemitraan bersama sekolah, guru, orang tua, puskesmas, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Keberhasilan program tidak diukur dari banyaknya bantuan yang diberikan, melainkan dari kemampuan seluruh pihak mempertahankan perubahan setelah masa pendampingan berakhir.

Hingga 2025, JAPFA for Kids telah menjangkau 1.214 sekolah di 105 kabupaten dan kota yang tersebar di 28 provinsi. Sebanyak 13.541 guru dilibatkan sebagai penggerak di sekolah masing-masing, sementara jumlah siswa penerima manfaat mencapai 201.056 anak.

Dari Jawa Timur untuk Indonesia, JAPFA Soroti 18 tahun Perjalanan Japfa for
Kids melalui AKJJ 2026

Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, mengatakan pendekatan tersebut membuat program tidak berhenti pada pemberian bantuan.

"Program ini juga dilengkapi dengan edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, serta monitoring berkala guna memastikan dampak program dapat terukur secara konsisten," ujarnya.

Pada 2026, program kembali diperluas dengan target menjangkau 16.000 siswa di sembilan wilayah, yakni Padang Pariaman - Sumatera Barat, Bintan - Kepulauan Riau, Lampung Selatan - Lampung, Kecamatan Megamendung & Klapanunggal, Kabupaten Bogor - Jawa Barat, Tegal - Jawa Tengah, Karanganyar - Jawa Tengah, Lamongan - Jawa Timur, Sofifi - Maluku Utara.

"Secara nasional hingga 2026, JAPFA for Kids menjangkau 217.706 siswa, 14.713 guru, dan 1.308 sekolah di 106 kabupaten/kota pada 28 provinsi," kata dia.

Lamongan menjadi salah satu lokasi pelaksanaan dengan delapan sekolah sasaran, yaitu SDN Kemantren, SDN Sidokelar, SDN Tlogosadang, MIS Tarbiyatus Shibyan, MIS Muhammadiyah 10 Tlogosadang, MIS Muhammadiyah 07 Sidokelar, MIS Mambaul Maarif, dan MIS Muawanah.

Program JAPFA for Kids juga melibatkan guru dalam sesi diskusi dan pendampingan sebagai upaya memperkuat sinergi antara sekolah dan dunia usaha. Melalui kolaborasi ini, JAPFA mendorong terciptanya lingkungan belajar yang lebih mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, baik dari aspek pendidikan, kesehatan, maupun pembentukan karakter.

Keberadaan program tersebut juga melengkapi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah sejak Januari 2025. Jika MBG memastikan anak memperoleh makanan bergizi di sekolah, JAPFA for Kids memperkuatnya melalui pendampingan, edukasi, pemantauan pertumbuhan, dan pembentukan kebiasaan hidup sehat.

Namun, semua itu tidak berhenti pada pembagian telur setiap pagi. Ada sistem yang dirancang agar perubahan dapat bertahan dalam jangka panjang.

Sekilas, kegiatan di SDN Kemantren tampak sederhana. Anak-anak datang ke sekolah, menerima telur rebus, lalu menyantapnya bersama teman-teman. Namun di balik rutinitas itu, terdapat rangkaian intervensi yang dirancang agar perubahan tidak berhenti pada pemenuhan gizi sesaat.

Program ini dibangun melalui tiga pendekatan yang saling melengkapi. Pertama, intervensi gizi bagi siswa yang mengalami gizi kurang maupun gizi buruk. Mereka menerima satu butir telur setiap hari selama enam bulan sebagai tambahan protein hewani. Telur dipilih karena mudah diperoleh, bernilai gizi tinggi, dan diharapkan tetap menjadi bagian dari pola makan keluarga setelah program berakhir.

Pendekatan kedua adalah pemantauan pertumbuhan berbasis data. Seluruh siswa menjalani pengukuran tinggi dan berat badan setiap bulan. Hasilnya tidak lagi tersimpan di lemari administrasi sekolah, tetapi langsung masuk ke aplikasi JAPFA for Kids sehingga perkembangan setiap anak dapat dipantau secara berkala.

Sebelum program dimulai, sekolah dibekali timbangan digital, alat ukur antropometri, serta pelatihan bagi guru agar seluruh proses pengukuran dilakukan sesuai standar. Data yang terkumpul kemudian menjadi dasar evaluasi sekaligus menentukan langkah pendampingan berikutnya.

Melalui program JAPFA for Kids, anak-anak mengikuti pengukuran tinggi badan sebagai bagian dari pemantauan tumbuh kembang. Kegiatan ini menjadi upaya JAPFA dalam mendukung kesehatan anak sejak dini melalui pemantauan status gizi serta edukasi pentingnya pola hidup sehat di lingkungan sekolah.

Pendekatan ketiga menyasar perubahan perilaku melalui Hari Sehat JAPFA (HSJ). Program ini menjadi ruang belajar bersama bagi siswa, guru, tenaga kesehatan, dan orang tua untuk menerapkan Empat Pilar Gizi Seimbang serta Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari.

Di banyak sekolah jangkauan, termasuk SDN Kemantren, Hari Sehat JAPFA dimulai dengan Senam Empat Pilar Gizi Seimbang. Setelah itu, anak-anak bergantian mencuci tangan menggunakan sabun, memeriksa kebersihan kuku, lalu mengikuti edukasi mengenai gizi dan kesehatan yang disampaikan tenaga kesehatan dari puskesmas dengan bahasa sederhana.

Menjelang siang, seluruh siswa makan bersama. Anak-anak penerima manfaat menikmati telur rebus sebagai bagian dari intervensi gizi, sedangkan siswa lainnya membawa bekal dari rumah. Mereka duduk dalam lingkaran yang sama tanpa sekat. Kebiasaan sederhana itu mengajarkan bahwa makanan bergizi adalah kebutuhan semua anak.

Sebulan sekali, tinggi dan berat badan mereka kembali diukur. Anak-anak diajak memahami arti setiap hasil pengukuran sehingga mereka dapat melihat sendiri perkembangan tubuhnya. Kesadaran untuk menjaga kesehatan pun tumbuh perlahan sejak usia sekolah.

Seluruh kegiatan tersebut didukung sistem monitoring yang berjalan berlapis. Distribusi telur dicatat setiap hari, pelaksanaan Hari Sehat JAPFA didokumentasikan setiap minggu, sedangkan hasil pengukuran tinggi dan berat badan dilaporkan setiap bulan. Dengan cara itu, setiap perkembangan dapat dipantau secara berkelanjutan.

Kebersamaan saat menikmati makan siang bergizi menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan JAPFA for Kids. Melalui penyediaan makanan bergizi seimbang, JAPFA mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi anak sekolah sebagai fondasi tumbuh kembang yang sehat, aktif, dan siap belajar. (Foto: Dok. JAPFA)

Perubahan Dimulai Sebelum Program Berjalan

Bagi JAPFA for Kids, perubahan tidak dimulai ketika telur pertama dibagikan. Persiapannya telah dilakukan jauh sebelumnya melalui pemetaan sekolah, penetapan lokasi, seleksi fasilitator, hingga pelatihan bagi guru dan tenaga kesehatan.

Di Lamongan, pelatihan berlangsung pada 20–21 Mei 2026 bersama peserta dari Padang Pariaman dan Bintan. Guru dibekali materi tentang Gizi Seimbang, PHBS, hingga teknik pengukuran antropometri agar mampu menjalankan program sesuai standar.

Saat pelaksanaan dimulai, kolaborasi menjadi kunci. Orang tua menandatangani komitmen mendukung kegiatan, guru mengoordinasikan Hari Sehat JAPFA, tenaga kesehatan melakukan pemeriksaan status gizi, sementara fasilitator mendampingi pelaksanaan program di sekolah.

Pendampingan juga diberikan kepada keluarga siswa yang mengalami malagizi. Orang tua memperoleh edukasi mengenai pentingnya protein hewani, cara mengolah telur agar lebih bervariasi, hingga pengelolaan pengeluaran rumah tangga agar kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi.

Dengan demikian, perubahan yang dibangun tidak berhenti di sekolah, tetapi ikut tumbuh di lingkungan keluarga.

Sejak awal, JAPFA juga mendorong sekolah agar mampu melanjutkan program secara mandiri setelah masa pendampingan selesai melalui kerja sama dengan puskesmas, pemerintah desa, komite sekolah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Inilah wujud nyata prinsip sharing contribution, ketika keberhasilan tidak ditentukan oleh lamanya perusahaan hadir, melainkan oleh kemampuan sekolah dan masyarakat menjaga kebiasaan baik tersebut.

Perubahan itu mulai terlihat di SDN Kemantren. Guru kini rutin memantau tinggi dan berat badan siswa, sementara orang tua semakin memahami pentingnya protein hewani bagi tumbuh kembang anak.

Bagi para siswa, Hari Sehat JAPFA telah menjadi bagian dari keseharian. Mereka datang ke sekolah, berolahraga bersama, menjaga kebersihan, menikmati makanan bergizi, lalu kembali belajar seperti biasa. Dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah perubahan mulai tumbuh.

Aktivitas senam bersama menjadi bagian dari rangkaian JAPFA for Kids untuk membiasakan anak menerapkan gaya hidup sehat dan aktif sejak dini. Melalui kegiatan ini, JAPFA mendorong peningkatan kebugaran fisik sekaligus menanamkan pentingnya menjaga kesehatan sebagai bekal untuk belajar dan tumbuh secara optimal.

Perubahan yang Terlihat

Di SDN Kemantren, perubahan tidak hadir dalam semalam. Meski tidak ada seremoni besar yang menandainya, mereka menjaga rutinitas seperti guru menimbang berat badan siswa, mengukur tinggi badan, membagikan telur, mengingatkan anak-anak mencuci tangan, sementara orang tua mulai memperhatikan asupan gizi di rumah.

Kepala SDN Kemantren, Musri, mengatakan pemantauan rutin membuat sekolah lebih mudah mengikuti perkembangan tumbuh kembang siswa.

"Alhamdulillah, kondisi kesehatan anak-anak sekarang sangat baik. Karena kita dekat laut, otomatis kebutuhan protein dari ikan memang lebih tercukupi, tetapi intervensi protein tambahan seperti tahu, ayam, dan telur ini sangat membantu meningkatkan gizi mereka," ujarnya.

Saat ini SDN Kemantren memiliki 153 siswa. Sebanyak 117 siswa kelas satu hingga kelas lima menjadi sasaran JAPFA for Kids. Selain pembagian telur, sekolah secara rutin melakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan sebagai bagian dari pemantauan status gizi peserta didik.

“Program seperti ini sangat bagus dan saya sangat mendukung. Baru pertama kali ada program dari pihak luar dengan model seperti sekarang,” katanya.

Bagi anak-anak, semua kegiatan itu terasa sebagai bagian dari rutinitas sekolah. Mereka mungkin belum memahami istilah malagizi, antropometri, atau intervensi gizi spesifik. Namun setiap hari mereka belajar bergerak aktif, menjaga kebersihan, dan menikmati makanan bergizi bersama teman-temannya.

Pembagian telur sebagai sumber protein menjadi bagian dari edukasi gizi dalam program JAPFA for Kids. Melalui kegiatan ini, JAPFA mengajak anak-anak membiasakan konsumsi pangan bergizi untuk mendukung pertumbuhan, meningkatkan daya tahan tubuh, serta menunjang kemampuan belajar sejak usia dini.

Dampak yang Terukur

Perubahan yang terjadi di sekolah-sekolah dampingan tidak hanya terlihat dari keseharian siswa, tetapi juga tercermin dalam hasil evaluasi program. Pada 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa yang sebelumnya mengalami gizi kurang dan gizi buruk berhasil mencapai status gizi baik. Tingkat keberhasilannya mencapai 51,5 persen.

Hasil itu meningkat pada 2025. Dari 1.034 siswa sasaran yang mengalami gizi kurang maupun gizi buruk, sebanyak 646 siswa berhasil memperbaiki status gizinya menjadi gizi baik atau 62,5 persen. Bagi JAPFA, angka tersebut menjadi ukuran efektivitas program sekaligus dasar untuk menyempurnakan pelaksanaan di tahun-tahun berikutnya.

Direktur Corporate Affairs JAPFA, Rachmat Indrajaya, menegaskan bahwa program ini merupakan komitmen jangka panjang perusahaan dalam mendukung kualitas gizi anak Indonesia.

"Selama 18 tahun, JAPFA for Kids hadir sebagai bentuk komitmen berkelanjutan perusahaan dalam mendukung peningkatan kualitas gizi dan kesehatan anak Indonesia. Kami percaya bahwa membangun masa depan Indonesia dimulai dari memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang baik dan tumbuh dalam lingkungan yang mendukung pola hidup sehat. Melalui penyelenggaraan AKJJ untuk ketiga kalinya ini, kami juga ingin memperkuat kolaborasi bersama media dalam meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya mempersiapkan generasi penerus bangsa," katanya.

Komitmen tersebut sejalan dengan tantangan gizi yang masih dihadapi Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat 11 persen anak usia 5–12 tahun masih berada pada kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator IMT/U. Sementara data JAPFA pada 2024 menunjukkan sekitar 10,1 persen siswa di wilayah pelaksanaan program juga mengalami kondisi serupa.

Artinya, persoalan malagizi belum sepenuhnya selesai. Upaya mengatasinya membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, dunia usaha, dan masyarakat.

Telur bukan sekadar lauk, tetapi sumber protein berkualitas yang berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang anak. Melalui program JAPFA for Kids, edukasi gizi disampaikan dengan cara sederhana agar anak-anak memahami pentingnya mengonsumsi makanan bergizi seimbang sejak dini.

Melengkapi Program MBG

Pengalaman selama hampir dua dekade membuat JAPFA for Kids memiliki pendekatan yang sejalan dengan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Jika MBG berfokus menyediakan makanan bergizi di sekolah, JAPFA melengkapinya melalui edukasi, pemantauan pertumbuhan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, dan pembiasaan hidup sehat.

Guru Besar Departemen Gizi sekaligus Wakil Ketua Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. Dr. drg. Sandra Fikawati, M.P.H., menilai perhatian terhadap gizi anak merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia.

"Dulu pertumbuhan (anak-anak -red) tidak dipikirkan, makanya kita kurang kompetitif (sumber daya manusianya -red), karena saat perkembangan fisik dan otak kita tidak pernah diberikan makanan bergizi. MBG ini peluang besar, dengan program ini daya saing kita bisa lebih baik, karena SDM kita sejak kecil sudah dipupuk," ujarnya.

Menurut Prof. Sandra, manfaat program gizi tidak hanya tercermin dari bertambahnya berat badan anak, tetapi juga berdampak pada kemampuan belajar, perkembangan kognitif, dan tingkat kehadiran siswa di sekolah. Karena itu, edukasi mengenai protein hewani, pola makan seimbang, dan perilaku hidup sehat perlu terus dilakukan secara berkelanjutan.

Membiasakan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan, setelah bermain, dan usai beraktivitas merupakan langkah sederhana yang berdampak besar bagi kesehatan anak. Melalui program JAPFA for Kids, edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) terus ditanamkan sejak dini agar anak-anak tumbuh sehat, terlindungi dari penyakit, dan siap meraih masa depan yang lebih baik.

Sebutir Telur, Sebuah Harapan

Menjelang siang, suasana SDN Kemantren kembali seperti biasa. Bel berbunyi, anak-anak berlarian menuju kelas. Sebagian masih menggenggam sisa telur rebus yang baru mereka santap.

Mungkin mereka belum memahami arti stunting, indikator IMT/U, atau bagaimana data pertumbuhan mereka dipantau setiap bulan. Mereka juga belum mengerti bahwa di balik kegiatan sederhana itu ada guru, tenaga kesehatan, orang tua, pemerintah, dan perusahaan yang bekerja bersama menjaga tumbuh kembang mereka.

Yang mereka rasakan hanyalah datang ke sekolah, bermain bersama teman-teman, bergerak aktif, menikmati makanan bergizi, lalu pulang dengan tubuh yang perlahan tumbuh lebih sehat.

Selama 18 tahun, JAPFA for Kids menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari program yang besar. Kadang, perubahan lahir dari kebiasaan yang dilakukan secara konsisten, dijaga bersama, lalu tumbuh menjadi budaya.

Seperti pagi itu, ketika Arfana tersenyum sambil menggenggam sebutir telur. Bagi Arfana dan ribuan anak lainnya, sebutir telur dapat menjadi awal dari masa depan yang lebih sehat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....