Batik Tulis yang Terus Bertahan di tengah Gempuran Batik Print
- 21 Agt 2026 11:15 WIB
- Surabaya
Poin Utama
- Di tengah gempuran batik print, perajin batik tulis bertahan dengan menjaga kualitas, keaslian proses, dan segmen pasar sendiri.
- Batik Olive menyasar pasar eksklusif dengan harga hingga Rp4 juta, serta memperluas pemasaran hingga pameran di Amerika Serikat, Jepang, Jerman, dan Rusia
RRI. CO. ID, Batu - Canting kecil di tangan Pita bergerak perlahan di atas kain putih sepanjang dua meter. Ia menorehkan malam mengikuti pola, garis demi garis, dengan ketelitian yang tidak bisa dipercepat.
Di sampingnya, tiga pembatik perempuan melakukan pekerjaan serupa. Mereka duduk berhadapan dengan kain masing-masing, menjaga tangan tetap stabil agar setiap goresan sesuai pola.
Satu kain batik tulis tidak selesai dalam hitungan jam. Untuk motif tertentu, Pita membutuhkan waktu empat hingga lima hari hingga seluruh pola selesai ditorehkan.
“Kalau motifnya begini, bisa sampai empat hari, lima hari,” kata Pita.
Waktu yang panjang itulah yang membuat batik tulis menghadapi tantangan besar. Di pasar, batik print hadir dengan proses produksi lebih cepat dan harga yang relatif lebih murah.
Namun, Griya Batik Olive memilih tidak meninggalkan batik tulis. Mereka justru mempertahankan proses canting sebagai identitas yang membedakan produknya.
“Kalau batik print itu tantangan berat. Tapi kita tetap konsisten dengan batik tulis karena kita punya market sendiri,” ujar pemilik Griya Batik Olive, Iwan Achmad Irawan.
Bagi Iwan, bertahan bukan berarti menjual batik tulis dengan harga semurah mungkin. Produk dibuat untuk menyasar konsumen yang mencari keaslian, proses manual, dan karakter yang tidak ditemukan pada produksi massal.
Harga kain pun dibuat beragam. Produk berukuran sekitar dua meter dibanderol mulai Rp150 ribu, sementara produk tertentu dapat mencapai sekitar Rp4 juta.
Konsumen untuk produk bernilai tinggi tetap tersedia, bahkan, menurut Iwan, konsumen dari kalangan atas di Jakarta justru mencari batik dengan kualitas dan karakter eksklusif. “Kalau orang-orang kalangan atas dari Jakarta, kita kasih batik yang mahal. Justru yang mahal dicari,” katanya.
Selain mempertahankan proses tulis, Griya Batik Olive memperkuat ciri khas melalui penggunaan pewarna alam. Bahan pewarna antara lain berasal dari daun mangga, daun mahoni, dan kulit mahoni.
Produk juga tidak berhenti pada kain sebab Batik dikembangkan menjadi pakaian dan dress sehingga dapat menjangkau kebutuhan konsumen yang lebih beragam. Upaya mempertahankan pasar juga dilakukan dengan membawa produk ke berbagai pameran di Amerika Serikat, Jepang, Jerman, dan Rusia.
Dari pameran tersebut, pesanan datang dan membuka peluang pasar di luar Malang. Bagi usaha batik tulis, memperluas pasar menjadi penting karena produksi tidak bisa mengandalkan volume seperti batik print.
Perjalanan mempertahankan batik tulis juga tidak mudah karena Pandemi Covid-19 sempat membuat aktivitas usaha terhenti dan pesanan turun drastis. Sebelum pandemi, Griya Batik Olive mempekerjakan lebih dari 60 orang dengan omzet sekitar Rp200 juta hingga Rp300 juta per bulan. Kini, omzet maksimal berada di kisaran Rp150 juta per bulan.
Meski pasar belum kembali seperti sebelumnya, proses membatik tetap berjalan. Di ruang produksi, canting masih bergerak dan malam terus ditorehkan ke atas kain.
Setiap garis membutuhkan ketelitian. Setiap motif membutuhkan waktu. Dan di tengah gempuran batik print, waktu itulah yang justru dipertahankan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....