Asa di Lapangan Hijau: Riuh Nobar Semifinal Piala Presiden di Sudut Kota Pahlawan

  • 05 Agt 2026 11:07 WIB
  •  Surabaya
Poin Utama
  • Persebaya Surabaya melawan Arema FC dalam babak semifinal Piala Presiden 2026 pada malam Selasa, 4 Agustus 2026 digelar di Bali.
  • Pertandingan semifinal Piala Presiden 2026 digelar tanpa memperbolehkan kehadiran suporter langsung di stadion.
  • Antusiasme Bonek Mania tetap tinggi meskipun tidak bisa hadir di stadion, dengan menyaksikan pertandingan dari warung-warung kopi di Surabaya.

RRI.CO.ID, Surabaya - Malam di Surabaya tak pernah benar-benar hening, terlebih ketika sang kebanggaan, Persebaya Surabaya, tengah berlaga. Udara panas khas Kota Pahlawan berpadu erat dengan gelombang antusiasme warga memadati warung-warung kopi di hampir setiap sudut kota menyaksikan laga babak semifinal Piala Presiden 2026, Selasa, 4 Agustus 2026 malam.

Seluruh laga babak semifinal Piala Presiden 2026, termasuk Persebaya melawan Arema FC, diputus digelar di Bali tanpa adanya satupun suporter yang boleh hadir. Namun, keputusan itu tak mengurangi antusiasme suporter Persebaya, Bonek Mania memberikan dukungan bagi tim kebanggaan.

Di babak semifinal Piala Presiden 2026 ini, atmosfer sepak bola tak hanya hidup di dalam stadion, tetapi juga membakar layar-layar kaca tempat para suporter berkumpul, bersatu dalam degup jantung yang sama. Area seluas 8 x 5 meter pun tak mampu menampun seluruhnya, sebagian bahkan membawa kursi tambahan duduk di luar.

Nyanyian yel-yel tak terdengar seperti di stadion, membuat suasana menjadi tegang dan jantung berdetak kencang. Sesekali teriakan terdengar melihat berbagai momen yang ada dalam pertandingan tersebut.

"Kartu merah iku sakjane," teriakan seorang penonton yang terdengar saat Wasit Candra membatalkan kartu merah bagi pemain Arema FC.

Puncak histeria pecah, suasana menjadi penuh gembira ketika Yuran Fernades mampu membobol gawang Arema FC pada menit ke-45+7 meneruskan umpan Francisco Rivera. "Goooollll," teriak seluruh pengunjung warung kopi diiringi tepuk tangan.

Di balik riuhnya sorak-sorai dan ketegangan laga, ada pemandangan lain yang tak kalah sibuk di balik meja racik warkop. Pegawai warung tampak lalu lalang dengan napas terengah-engah, kewalahan melayani aliran pesanan yang tak kunjung putus. Dari es teh manis, kopi hitam, hingga kudapan terus berpindah tangan dalam hitungan detik.

Geliat Piala Presiden 2026: Stadion Penuh, Dompet UMKM Ikut Tebal

Geliat Piala Presiden tahun ini benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Baik dari elemen suporter, warga, hingga para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menenangah (UMKM) yang terlibat maupun tidak dalam turnamem ini.

Sejak babak penyisihan, Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, selalu dihadiri oleh begitu banyak suporter. Tak hanya Bonek Mania selaku tuan rumah, The Jakmania suporter Persija Jakarta, dan Smeck Hooligan suporter PSMS Medan turut hadir memberikan dukungan secara langsung.

Bonek Mania saat memberikan dukungan bagi Persebaya dalam laga melawan Persija Jakarta pada babak penyisihan Piala Presiden 2026 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya. (Foto: RRI/Fariz Yarbo)

Meski saling berhadapan dan saling lempar psy war melalui berbagai nyanyian, namun masing-masing suporter begitu tertib dan menjaga perdamaian satu sama lain. Sambutan dan apresiasi pun berkali-kali dinyanyikan membuat stadion yang panas akibat tensi di lapangan menjadi dingin oleh sikap suporter.

Data dari kepanitiaan, setiap laga selalu kedatangan suporter. Pada dua laga pembukaan, total ada 39.231 orang supprter, pada dua laga berikut di pertandingan kedua 6.803 orang suporter dan laga terakhir total 30.718 orang suporter.

Animo tinggi masyarakat tidak hanya membuat stadion penuh, namun juga membuat dompet para pelaku UMKM yang ada menjadi lebih tebal. Bertambahnya omzet turut dirasakan oleh Uswatun Hasanah pedagang pecel semanggi.

Biasanya ia berjualan di sentra wisata kuliner (SWK) yang ada di sekitar Stadion Gelora Bung Tomo. Dengan hadirnya Piala Presiden, ia mengaku omzetnya bertambah hampir 50 persen dari biasanya.

"Alhamdulillah agak ramai di sini, (omzetnya) hampir 50 persen," kata Uswatun.

Oleh karena itu, ia berterima kasih atas dukungan panitia penyelenggara Piala Presiden telah memberikan tempat gratis sehingga menambah pendapatan pemasukan. Ia berharap ke depan pelaku UMKM tetap mendapat tempat gratis saat ada event serupa.

Uswatun Hasanah salah seorang pelaku UMKM yang terlibat pada Piala Presiden 2026 di Surabaya. (Foto: RRI/Fariz Yarbo)

Sementara itu, Tsamara Amany selaku Ketua Organizing Commitee (OC) Piala Presiden menyampaikan bahwa turnamen ini digelar untuk memberi hiburan kepada masyarakat di tengah kekosongan jadwal pertandingan akibat pergantian musim. Oleh karena itu, pertandingan dibuat semenarik mungkin dengan harga tiket yang murah, tontotan gratis melalui layar kaca televisi, hingga stand UMKM gratis.

"Memang harapannya berdampak buat mereka, keuntungannya memang 100 persen buat para pelaku usaha, kita tidak mengambil keuntungan apa pun karena niatnya adalah memberikan dampak ekonomi untuk masyarakat yang di mana turnamen Piala Presiden bermain di Bandung dengan masyarakat Bandung, di Surabaya untuk masyarakat Surabaya, di semifinal dan final juga kayak gitu," kata Tsamara.

Selain itu, ia menyebut dalam Piala Presiden 2026 ini juga terlibat para pelaku UMKM dari kalangan disabilitas. Mereka ikut terjaring dalam proses kurasi berdasar produk olahan hingga memang sudah banyak dikenal oleh masyarakat.

Hadirnya penyandang disabilitas, kata Tsamara, jadi bukti inklusivitas yang diwujudkan oleh pemerintah melalui pemberian akses yang setara. "Kita libatkan disabilitas salah satu alasannya karena inklusivitas. Piala Presiden ini kan nomor satu hiburan untuk rakyat, memberikan dampak ekonomi, tentunya juga kita ingin kasih dong untuk masyarakat-masyarakat itu secara inklusif, bukan hanya masyarakat tertentu. Tentu kita lihat bahwa masyarakat disabilitas ini sekarang sudah makin luar biasa. UMKM mereka pun tidak kalah dengan orang-orang yang sempurna," tuturnya.

Secara pendapatan, ia mengungkapkan ada peningkatan perputaran ekonomi. Pada gelaran tahun ini selama babak penyisihan saja sudah mencapai Rp1,3 miliar naik dari tahun sebelumnya Rp1,1 miliar, angka tersebut masih bisa bertambah pada pelaksanaan semifinal dan final.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....