Tim Kesenian RRI Surabaya Menggelar Rekaman Ludruk Lakon "Sekongkol Jahat"

  • 18 Agt 2026 14:23 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Tim Kesenian Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya kembali menunjukkan komitmennya dalam melestarikan seni tradisi khas Jawa Timur. Pada Selasa, 18 Agustus 2026, jajaran seniman dan kerabat kerja memadati Ruang Kesenian Mahameru RRI Surabaya untuk melangsungkan proses rekam pementasan ludruk terbaru yang bertajuk "Sekongkol Jahat".

Pementasan ini dirancang untuk menyajikan hiburan yang mengocok perut sekaligus memberikan pesan moral yang mendalam bagi para pendengar setianya.

Lakon "Sekongkol Jahat" diawali dengan dinamika asmara anak muda yang rumit. Cindi secara sepihak memutuskan hubungannya dengan Tukimin setelah sekian lama berpacaran.

Keputusan ini diambil lantaran Cindi berpaling kepada Sandi yang dianggap lebih tampan. Ketegangan dimulai saat Badri, teman Tukimin, tidak sengaja memergoki Cindi dan Sandi sedang berduaan di jalan.

Cindi yang sempat salah tingkah akhirnya secara terang-terangan mengakui pilihannya di hadapan Badri. Namun, niat Sandi dalam menjalin hubungan ternyata jauh dari kata tulus.

Di balik kedekatannya dengan Cindi, Sandi secara diam-diam merencanakan pernikahan dengan Tantri, seorang wanita kaya raya berhati tulus yang hidup bersama pembantu setianya, Mbok Jirah. Kendati menyadari usianya lebih tua dan parasnya biasa saja, Tantri menerima pinangan Sandi dengan penuh keikhlasan.

Niat jahat Sandi ini didukung penuh oleh sang ibu, yang menyusun rencana licik untuk menguasai seluruh harta kekayaan Tantri demi dinikmati bersama Sandi dan Cindi. Setelah pernikahan berlangsung, Sandi berpura-pura menunjukkan rasa sayang dan perhatian yang berlebihan hingga membuat Tantri terbuai.

Kecurigaan Mbok Jirah mulai memuncak tatkala melihat gelagat yang tidak wajar dari Sandi dan ibunya. Puncak kejahatan terjadi saat ibu Sandi menyiapkan kopi yang telah dicampur racun untuk mencelakai Tantri.

Beruntung, Mbok Jirah berhasil menggagalkan aksi keji tersebut dan melaporkan seluruh kecurigannya kepada sang majikan. Menyadari bahaya yang mengintai, Tantri dan Mbok Jirah tidak tinggal diam.

Mereka berkoordinasi dengan Ketua RT setempat serta Indri untuk bersiaga di rumah. Ketika malam tiba, Sandi dan ibunya pulang ke rumah dengan niat melancarkan aksi pembunuhan.

Naas bagi keduanya, petugas RT bersama warga dan Tantri telah bersiap melakukan penggerebekan. Aksi permufakatan jahat tersebut akhirnya terbongkar, dan Sandi beserta ibunya berhasil ditangkap sebelum sempat melukai korban.

Sutradara sekaligus penggagas ide cerita, Sabil Lestari, mengungkapkan bahwa lakon ini sengaja diangkat untuk menyentil fenomena sosial yang kerap terjadi di masyarakat modern. Penggarapan cerita difokuskan pada penguatan karakter serta pesan moral tanpa menghilangkan ciri khas humor khas Suroboyoan yang menjadi nyawa pementasan ludruk.

Menurutnya, alur cerita yang dihadirkan tidak hanya mengejar gelak tawa, tetapi juga memberikan edukasi spiritual bagi para pendengar RRI Surabaya.

"Lakon ini memberikan pelajaran berharga agar kita tidak pernah memanfaatkan kepercayaan dan kebaikan orang lain. Cinta yang didasari atas rasa serakah terhadap harta benda hanya akan melahirkan niat serta tindakan jahat yang merugikan. Namun, lewat lakon ini kita juga belajar bahwa keikhlasan dan ketulusan hati akan selalu mendapat perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa," tutur Sabil Lestari di sela-sela proses rekaman di Ruang Kesenian Mahameru.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....