Bangga Berbatik, saat Anak Muda Jadikan Batik Bagian dari Gaya Hidup

  • 08 Agt 2026 12:54 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Batik dan kain Nusantara kini semakin jauh dari kesan kuno atau “jadul” di kalangan anak muda. Perkembangan fashion dan kreativitas generasi muda membuat batik mudah dipadukan dengan sneakers, streetwear, hingga jeans.

Pengurus Perkumpulan Bangga Berkain Nusantara, Antonio Carlos, menilai perubahan tersebut positif untuk memperluas kecintaan generasi muda. Menurut Carlos, batik kini tidak lagi dipandang sebagai pakaian yang hanya cocok untuk acara resmi.

“Sekarang anak muda sudah tidak melihat batik dan kain sebagai sesuatu yang jadul atau kuno. Mereka bisa memadukan batik dengan sneakers, jeans, streetwear, dan berbagai gaya yang memang menjadi identitas mereka,” ujar Antonio Carlos.

Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan batik memiliki ruang luas untuk terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Batik dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan tanpa kehilangan identitas sebagai bagian kekayaan budaya Indonesia.

Carlos menilai, hal terpenting adalah membuat anak muda mau terlebih dahulu mengenakan batik dan kain Nusantara. Setelah tumbuh rasa suka, filosofi, sejarah, motif, dan makna batik dapat dipelajari secara bertahap.

“Yang penting anak muda pakai dulu. Filosofi dan maknanya bisa dipelajari dan diikuti seiring dengan tumbuhnya kecintaan mereka untuk mengenakan batik,” katanya.

Ia menilai pendekatan kepada generasi muda tidak perlu disertai banyak batasan mengenai cara mengenakan batik. “Kalau dari awal anak muda sudah dibatasi dalam hal kreasi, mereka bisa pergi dan akhirnya tidak mau dengan batik. Jadi biarkan mereka berkreasi, memadupadankan, dan menemukan gaya mereka sendiri,” ujarnya.

Fenomena tersebut terlihat dari semakin beragamnya cara anak muda mengenakan batik dalam kehidupan sehari-hari. Kemeja batik dapat dipadukan dengan jeans dan sneakers, sedangkan kain Nusantara dikreasikan menjadi pakaian modern.

Dengan demikian, batik tidak lagi identik dengan pernikahan, pertemuan resmi, atau kegiatan seremonial. Batik kini dapat menjadi bagian gaya hidup yang menyesuaikan karakter dan kreativitas penggunanya.

Di sisi lain, harga kerap menjadi alasan sebagian masyarakat, khususnya anak muda, untuk tidak mengenakan batik. Carlos mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa batik memiliki segmen dan pasar yang beragam.

Menurutnya, batik berlabel atau bermerek memiliki pasar tersendiri dengan harga dipengaruhi proses produksi, bahan, desain, dan kualitas. Namun, masyarakat tetap dapat memperoleh batik terjangkau melalui UMKM dan pembatik yang memproduksi langsung.

“Batik yang sudah ada pelabelan mereknya memang punya pasarnya sendiri. Tetapi kalau ingin batik dengan harga yang wajar, bisa membeli langsung kepada UMKM. Yang juga merupakan pembuat batik, para perajin canting,” kata Carlos.

Carlos berharap masyarakat tidak menjadikan persoalan harga sebagai alasan menjauh dari batik. Dengan banyaknya pilihan produk dan produsen, masyarakat dapat menyesuaikan batik dengan kemampuan dan kebutuhan.

Bagi Carlos, semakin banyak anak muda mengenakan batik sehari-hari, semakin besar peluang batik terus hidup dan berkembang. Batik tidak harus selalu hadir secara konvensional selama generasi muda tetap mengenakan dan mengapresiasinya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....