Perempuan Usia 30-an Belum Menikah, Bukan Masalah Besar

  • 10 Apr 2026 11:51 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - RRI.CO.ID, Surabaya - Fenomena perempuan usia 30-an yang belum menikah kini semakin umum ditemui di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia. Jika dulu dianggap terlambat, kini pandangan tersebut mulai berubah mengikuti dinamika sosial modern.

Banyak perempuan memilih menjalani hidup sesuai ritme dan tujuan pribadi tanpa terburu-buru memasuki pernikahan. Keputusan ini dipengaruhi kesadaran akan prioritas hidup serta kemandirian dalam menentukan arah masa depan.

Studi dalam Journal of Happiness Studies tahun 2018 menunjukkan hubungan pernikahan dan kebahagiaan tidak selalu linier. Kebahagiaan seseorang lebih dipengaruhi kualitas hidup serta kesejahteraan psikologis secara menyeluruh.

Artinya menikah tidak otomatis membuat seseorang lebih bahagia dibandingkan yang belum menikah. Faktor hubungan sosial dan kondisi mental justru memiliki peran yang lebih besar.

Penelitian berjudul “Happiness among Single Women and Married Women Intermediate Adults” tahun 2019 memperkuat temuan tersebut. Perempuan lajang dan menikah memiliki tingkat kebahagiaan yang bisa setara tergantung kondisi masing-masing.

Temuan ini menunjukkan status lajang bukan indikator kegagalan hidup seseorang. Melainkan menjadi salah satu pilihan fase kehidupan yang sah dan valid.

Penelitian dalam BMC Psychology tahun 2023 juga mengangkat keyakinan hidup bahagia tanpa hubungan romantis. “Belief that happiness can be achieved without a romantic relationship” semakin banyak dianut perempuan modern.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada keberadaan pasangan hidup. Banyak perempuan merasa hidup tetap utuh meski tanpa hubungan romantis.

Riset lain menunjukkan perempuan yang menunda atau tidak menikah tidak mengalami dampak negatif mental. Penundaan yang dilakukan secara sadar justru berkaitan dengan kepuasan hidup yang lebih baik.

Hal ini menegaskan keputusan personal memiliki pengaruh besar terhadap kesejahteraan individu. Pilihan hidup yang sadar cenderung membawa stabilitas emosional yang lebih kuat.

Dari sisi sosial, terjadi perubahan nilai dalam memandang pernikahan. Semakin banyak masyarakat tidak lagi menjadikannya sebagai satu-satunya syarat kebahagiaan hidup.

Perubahan ini menunjukkan adanya pergeseran cara pandang terhadap kehidupan dewasa secara global. Pernikahan kini lebih dilihat sebagai pilihan, bukan kewajiban mutlak.

Para ahli menilai fase lajang di usia 30-an penting untuk pengembangan diri. Perempuan memiliki waktu membangun karier, relasi sosial, dan pemahaman diri yang lebih matang.

Dalam konteks ini, perempuan usia 30-an yang belum menikah tidak lagi dipandang tertinggal. Mereka adalah individu yang menjalani pilihan hidup secara sadar dan bermakna.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....