Eco-Anxiety: Cemas Lihat Bumi, tapi Tidak Tahu Mulai dari Mana
- 08 Jun 2026 16:45 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Kekhawatiran terhadap kondisi lingkungan yang semakin memburuk kini tidak hanya berdampak pada alam, tetapi juga kesehatan mental masyarakat. Fenomena ini dikenal sebagai eco-anxiety atau kecemasan ekologis.
Dalam dialog Beranda Asta Cita, Green Radio Pro 1 RRI Surabaya, Minggu, 7 Juni 2026, dosen STIAMAK Barunawati Surabaya, Dr. Meyti Hanna Ester Kalangi, S.Sos., M.M., menjelaskan bahwa eco-anxiety merupakan respons emosional yang wajar ketika seseorang menyaksikan berbagai persoalan lingkungan yang terjadi di sekitarnya, mulai dari pencemaran, krisis sampah, banjir, hingga perubahan iklim yang semakin nyata. "Saat ini banyak masyarakat, terutama generasi muda, yang merasa khawatir terhadap masa depan Bumi. Mereka melihat begitu banyak permasalahan lingkungan, tetapi sering kali tidak mengetahui langkah apa yang harus dilakukan. Kondisi inilah yang kemudian memunculkan perasaan cemas, takut, bahkan tidak berdaya," ujarnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial membuat masyarakat semakin mudah mengakses informasi tentang bencana dan kerusakan lingkungan. Namun di sisi lain, derasnya arus informasi tersebut dapat memicu tekanan psikologis apabila tidak diimbangi dengan edukasi dan solusi yang tepat.
"Kita setiap hari disuguhi berita tentang banjir, suhu bumi yang meningkat, pencemaran laut, hingga masalah sampah. Jika hanya menerima informasi tanpa mengetahui cara berkontribusi, seseorang bisa merasa terbebani dan kehilangan harapan," ujarnya.
Ia menilai permasalahan utama dalam isu lingkungan saat ini bukan hanya kurangnya kesadaran, tetapi juga minimnya pemahaman masyarakat mengenai tindakan sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, banyak orang yang peduli terhadap lingkungan, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana.
"Kesadaran lingkungan sebenarnya sudah mulai tumbuh. Tantangannya adalah bagaimana mengubah rasa cemas menjadi tindakan nyata. Mulailah dari hal-hal kecil seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, menghemat energi, dan mendukung kegiatan pelestarian lingkungan di sekitar kita," ujarnya.
Lebih lanjut, Dr. Meyti menekankan bahwa eco-anxiety tidak seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Sebaliknya, rasa khawatir terhadap masa depan bumi dapat menjadi energi positif untuk membangun perubahan apabila dikelola dengan baik.
"Kecemasan itu menunjukkan bahwa kita masih peduli. Yang perlu dilakukan adalah mengubah kepedulian tersebut menjadi aksi. Jangan merasa harus menyelesaikan seluruh persoalan lingkungan sendirian. Setiap langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak yang besar jika dilakukan bersama-sama," tuturnya.
Untuk itu, Dr. Meyti mengajak masyarakat agar memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau kelompok tertentu, melainkan tugas bersama. Edukasi mengenai eco-anxiety diharapkan dapat membantu masyarakat mengenali dampak psikologis dari krisis lingkungan sekaligus menemukan cara-cara konkret untuk berkontribusi dalam menjaga kelestarian Bumi.
"Kita tidak bisa mengubah dunia dalam satu hari, tetapi kita bisa memulai perubahan dari diri sendiri hari ini. Ketika semakin banyak orang bergerak, maka harapan terhadap masa depan lingkungan akan semakin besar," katanya.
Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat tidak hanya diajak untuk peduli terhadap bumi, tetapi juga mampu mengelola kecemasan tersebut menjadi tindakan yang produktif dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....