HUT Ke-81 RRI: Menjaga Radio Tetap Dekat dengan Masyarakat

  • 10 Sep 2026 14:28 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep – “Sekali di udara, tetap di udara.” Bagi saya, kalimat ini bukan sekadar jargon yang melekat pada Radio Republik Indonesia (RRI). Lebih dari itu, kalimat tersebut mengandung sebuah spirit: bagaimana RRI dan radio secara umum harus terus hadir, tumbuh, dan memberikan manfaat di tengah masyarakat, meski zaman dan cara orang mengonsumsi informasi terus berubah.

Di era digital seperti sekarang, radio bukan lagi satu-satunya pilihan masyarakat untuk mendapatkan informasi dan hiburan. Kehadiran media sosial, platform streaming, podcast, YouTube hingga berbagai aplikasi digital telah mengubah pola konsumsi media secara drastis.

Karena itu, tidak mengherankan jika jumlah pendengar radio dalam beberapa tahun terakhir cenderung menurun. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pada 2025 sekitar 9,48 persen penduduk berusia 5 tahun ke atas masih mendengarkan siaran radio.

Angka tersebut memang sedikit meningkat dibandingkan dengan 2024 yang berada di angka 8,67 persen. Namun, jika dibandingkan dengan periode sebelum pandemi Covid-19, khususnya 2018–2020, jumlahnya mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Ada satu fakta menarik yang patut menjadi perhatian. Kelompok usia 60 tahun ke atas justru tercatat sebagai kelompok dengan persentase pendengar radio tertinggi, yakni mencapai 14,65 persen.

Data ini tentu menjadi alarm bagi dunia radio. Jika radio tidak mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku audiens dan bersaing dengan berbagai platform digital, bukan tidak mungkin jumlah pendengarnya akan semakin menyusut, terutama dari kelompok usia produktif dan generasi muda.

Sukriyanto, penyiar dan jurnalis radio KARIMATA Pamekasan. (Foto: Dok. Sukriyanto)

Namun, saya tetap optimistis.

Radio memiliki sesuatu yang tidak sepenuhnya dimiliki platform digital lainnya, yakni kedekatan emosional dengan pendengarnya. Suara penyiar, interaksi langsung, informasi lokal, musik, dan cerita yang hadir menemani aktivitas sehari-hari membuat radio memiliki hubungan yang personal dengan masyarakat.

Kuncinya adalah konvergensi.

Apa yang dilakukan RRI melalui konsep RRI Digital merupakan salah satu bentuk adaptasi terhadap perubahan zaman. Radio tidak boleh berhenti hanya pada frekuensi dan perangkat radio konvensional. Produk siaran harus hadir di berbagai platform agar dapat menjangkau masyarakat dengan kebiasaan konsumsi media yang berbeda-beda.

Karena itu, produk siaran juga harus mampu menyentuh semua lapisan masyarakat. Radio harus tetap menjadi sumber informasi yang kredibel, ruang interaksi publik, sekaligus teman yang hadir di tengah aktivitas masyarakat, baik melalui gelombang udara maupun platform digital.

Pada akhirnya, “sekali di udara, tetap di udara” bukan berarti radio harus bertahan dengan cara-cara lama. Justru sebaliknya, kalimat tersebut harus menjadi semangat untuk terus beradaptasi.

Radio boleh berubah bentuk. Cara distribusinya boleh berubah. Teknologinya boleh berkembang. Namun, semangat untuk hadir dan dekat dengan masyarakat tidak boleh hilang.

Kita harus tetap optimistis.

Sebab, selama manusia masih memiliki telinga untuk mendengar dan membutuhkan suara untuk menemani kehidupannya, radio akan selalu memiliki tempat.

Selamat Hari Radio Nasional.

Ditulis oleh: Sukriyanto – Penyiar dan Jurnalis Radio KARIMATA Pamekasan

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....