BKKBN Soroti Keterbatasan Penyuluh KB di Sumenep

  • 22 Sep 2026 11:14 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Keterbatasan tenaga Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) menjadi salah satu perhatian dalam audiensi Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur dengan Pemerintah Kabupaten Sumenep.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur Shodiqin mengatakan, jumlah tenaga PKB/PLKB yang tersedia saat ini belum sebanding dengan luas wilayah pembinaan di Kabupaten Sumenep.

Dari 27 kecamatan, Sumenep saat ini memiliki sekitar 21 tenaga PKB/PLKB. Kondisi tersebut membuat cakupan pembinaan menjadi cukup luas, dengan rata-rata seorang penyuluh harus menangani sekitar 17 desa.

“Tujuan kami tentunya memohon dukungan dan komitmen untuk menyukseskan program-program Kemendukbangga/BKKBN di Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Sumenep,” ujar Shodiqin, Senin 21 September 2026.

Menurutnya, keterbatasan tenaga penyuluh perlu diantisipasi melalui penguatan kolaborasi dengan perangkat daerah, pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader keluarga berencana, serta unsur terkait lainnya.

Selain persoalan sumber daya manusia, BKKBN juga mendorong optimalisasi penggunaan anggaran program keluarga berencana di Kabupaten Sumenep. Dari alokasi sekitar Rp7 miliar, hingga audiensi berlangsung realisasi anggaran tercatat sekitar Rp1,6 miliar atau 27 persen.

Anggaran tersebut antara lain mendukung pelayanan KB dan program percepatan penurunan stunting, termasuk pendampingan keluarga sasaran melalui Tim Pendamping Keluarga.

“Harapan kami, realisasi anggaran tersebut dapat dioptimalkan sehingga pada akhir tahun anggaran dapat mencapai realisasi yang maksimal, dengan tetap memperhatikan ketentuan dan regulasi yang berlaku,” katanya.

Shodiqin berharap dukungan Pemkab Sumenep terhadap program kependudukan dan keluarga berencana semakin diperkuat, baik dari sisi pelaksanaan program, optimalisasi anggaran maupun kelembagaan.

Dengan penguatan koordinasi tersebut, program KB, pembangunan keluarga, serta pendampingan keluarga berisiko stunting diharapkan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....