Rahasia Doa Berbisik: Teladan Kesabaran Nabi Zakaria AS
- 01 Agt 2026 12:23 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep – Kasi Pais Kantor Kemenag Kabupaten Sumenep, Ustadz Ahmad Said Samsuri, memaparkan hikmah mendalam di balik kisah Nabi Zakaria AS sebagaimana tertuang dalam Surat Maryam. Ia menjelaskan bagaimana Nabi Zakaria memanjatkan doa secara lirik, samar, dan sangat rahasia (nidaan khofiyan) kepada Allah SWT. Cara berdoa yang lembut dan berbisik ini menjadi simbol kesungguhan batin serta kepasrahan seorang hamba kepada Sang Pencipta tanpa perlu didengar oleh manusia lain.
Ustadz Said menerangkan bahwa permohonan yang dilangitkan Nabi Zakaria kala itu secara akal manusia tergolong mustahil. Beliau berdoa memohon keturunan yang saleh untuk meneruskan perjuangan dakwahnya saat usianya telah mencapai 120 tahun dan sang istri berusia 98 tahun dalam kondisi mandul.
"Secara fisik, tulang belulang Nabi Zakaria sudah melemah dan rambutnya telah memutih dipenuhi uban, namun beliau menegaskan tidak pernah sedikit pun berputus asa dalam berdoa kepada Allah SWT," katanya dalam Mutiara Pagi Pro 1 Sumenep, Sabtu, 1 Agustus 2026.
Kerendahan hati dan ketekunan tersebut membuah hasil manis ketika Allah SWT mengijabah doanya dan memberi kabar gembira berupa kelahiran seorang putra yang diberi nama Yahya, nama yang belum pernah ada sebelumnya. Meski sempat meragukan kondisi fisiknya sendiri, Allah menegaskan bahwa tak ada yang sulit bagi-Nya.
"Sebagai tandanya, Nabi Zakaria tidak mampu berbicara dengan manusia selama tiga malam berturut-turut meski dalam keadaan tubuh yang sehat walafiat, sebelum akhirnya beliau keluar dari mihrab mengajak kaumnya bertasbih," ujarnya.
Lebih lanjut, Ustadz Said menekankan bahwa kisah ini mengajarkan nilai kesabaran luar biasa, di mana Nabi Zakaria terus konsisten memanjatkan doa selama belasan dekade tanpa henti. Teladan ini menjadi teguran keras bagi umat Islam agar tidak menjadi hamba yang gampang putus asa dari rahmat Allah SWT. Tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini jika Allah SWT telah berkehendak, sehingga manusia dilarang keras membatasi keagungan dan rahmat-Nya.
Dalam penjelasannya, ia juga mengingatkan batas wilayah antara kewajiban hamba dan ketetapan Sang Pencipta. Manusia memiliki kewajiban untuk terus berdoa dan memohon sebagai bentuk ibadah serta wujud kesungguhan batin. Sementara itu, keputusan mengenai kapan dan bagaimana doa tersebut dikabulkan merupakan wewenang mutlak Allah SWT, sehingga manusia tidak boleh ikut campur atau mendikte takdir-Nya.
Mengakhiri penjelasannya, Ustadz Said mengimbau seluruh umat untuk menjadikan doa sebagai landasan utama dalam menghadapi setiap persoalan hidup. Memohon dengan penuh kerendahan hati dan tidak pernah berhenti berharap adalah wujud keimanan yang sejati. Selama hamba terus mengetuk pintu langit dengan kesabaran, rahmat dan pertolongan Allah SWT akan selalu hadir tepat pada waktu yang terbaik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....