Mengenal Kembali "Pletekan", Keseruan Bermain Alam tanpa Gadget

  • 30 Jul 2026 16:09 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep : Di sebuah sudut komplek perumahan, seorang anak perempuan tampak asyik berjongkok di antara rerumputan dan semak hijau. Matanya fokus memperhatikan tangkai-tangkai kecil bunga kencana ungu, sesekali jarinya memetik buah kecil yang menggantung di ujung ranting. Bukan mainan elektronik atau gawai yang membuatnya betah berlama-lama di luar rumah, melainkan sebuah permainan sederhana warisan generasi terdahulu yang dikenal dengan sebutan "pletekan".

Pletekan sendiri merujuk pada buah kecil dari tanaman kencana ungu (Ruellia tuberosa), tumbuhan liar yang mudah ditemukan tumbuh di pekarangan, pinggir jalan, hingga lahan kosong. Buahnya yang berbentuk polong akan mengeluarkan bunyi "pletek" khas saat kering dan pecah, sekaligus melontarkan biji-bijinya. Suara unik inilah yang dahulu menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak sebelum era gadget merajai waktu bermain mereka.

Fenomena anak-anak yang lebih akrab dengan layar ponsel dibanding permainan luar ruangan menjadi keprihatinan banyak orang tua belakangan ini. Tak sedikit yang mulai mencari cara untuk mengenalkan kembali permainan tradisional sebagai alternatif hiburan yang lebih sehat, sekaligus mendekatkan anak dengan lingkungan sekitarnya.

Hal itu pula yang mendasari langkah seorang ayah muda yakni Rahman yang mengajak anaknya berjalan-jalan di sekitar komplek rumah. Momen sederhana tersebut justru membuka kembali ingatan masa kecilnya akan permainan yang hampir terlupakan.

"Awalnya anak saya merasa bosan cuma main di dalam rumah, saya cobalah ajak anak saya jalan-jalan di sekitar komplek rumah. Eh, liat kok ada mainan kesukaan saya dulu, kalau saya nyebutnya pletekan, atau buah dari tumbuhan bunga kencana ungu," ungkap Rahman saat ditemui di sela kegiatan bermain bersama sang anak.

Ia melanjutkan, momen tersebut menjadi kesempatan berharga untuk berbagi pengalaman masa kecil sekaligus mengajarkan nilai kesederhanaan kepada anaknya. "Saya ajak lah anak saya mengenalkan mainan saya dulu yang tetap seru tanpa gadget, bermain dengan alam, sekaligus ajak anak saya belajar dan lebih dekat lagi dengan alam. Karena alam sebenarnya menyimpan banyak keseruan yang bisa kita eksplor tanpa adanya gadget," tambah Rahman.

Kisah sederhana ini menjadi pengingat bahwa keceriaan masa kecil tak melulu harus bergantung pada layar digital. Permainan tradisional seperti pletekan membuktikan bahwa alam sekitar menyimpan kekayaan hiburan sekaligus pembelajaran yang tak lekang oleh waktu. Mengenalkan kembali permainan semacam ini kepada generasi sekarang bukan hanya soal nostalgia, melainkan juga upaya menumbuhkan kedekatan anak dengan lingkungan serta melatih kepekaan mereka terhadap alam sejak dini.(RIA)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....