Pletekan, Mainan Favorit Anak-Anak Zaman Dulu

  • 30 Jul 2026 16:01 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Bagi generasi yang tumbuh besar di kampung, pinggiran kota, atau dekat area persawahan, nama pletekan pasti membangkitkan kenangan masa kecil yang menyenangkan. Jauh sebelum mengenal mainan plastik buatan pabrik, anak-anak zaman dulu justru menemukan hiburan sederhana dari tanaman liar yang tumbuh begitu saja di pinggir jalan. Salah satu yang paling dikenang adalah buah dari tumbuhan berbunga ungu bernama pletekan.

Secara ilmiah, tumbuhan ini dikenal dengan nama Ruellia tuberosa, anggota famili Acanthaceae. Tumbuhan ini banyak tumbuh di pinggir-pinggir jalan, semak-semak, di padang rumput secara liar, maupun di sekitar area persawahan, sehingga mudah dijumpai anak-anak dalam keseharian mereka bermain di luar rumah. Karena tumbuh liar dan tidak sengaja dibudidayakan, tanaman ini sering dianggap sekadar gulma oleh orang dewasa, namun bagi anak-anak, keberadaannya justru menjadi sumber keseruan tersendiri.

Daya tarik utama pletekan terletak pada buahnya yang unik. Nama "pletekan" sendiri berasal dari bunyi khas yang dihasilkan buah keringnya. Bunga kencana ungu atau Ruellia tuberosa ini dikenal sebagai pletekan di Indonesia karena polong buahnya yang sudah kering akan meletup atau "meletek" saat terkena air. Anak-anak dulu biasa mengumpulkan buah-buah kering ini, lalu mencelupkannya ke dalam air atau sekadar meneteskan air ke atasnya, kemudian menunggu dengan penuh antisipasi hingga buah tersebut meletup dan biji-bijinya berhamburan.

Keseruan bermain pletekan ini tidak memerlukan biaya sepeser pun. Anak-anak cukup berjalan-jalan di sekitar rumah, mencari semak-semak tempat tanaman ini tumbuh, lalu memetik buahnya yang sudah mengering dan berwarna kecokelatan. Beberapa anak bahkan menjadikannya semacam permainan adu cepat, siapa yang buahnya paling cepat meletup ketika disiram air, atau berlomba mengumpulkan buah pletekan sebanyak-banyaknya sebagai "amunisi" permainan.

Meski terdengar sederhana, permainan ini sebenarnya aman dimainkan oleh anak-anak. Letupan yang dihasilkan oleh tanaman pletekan sangat kecil dan tidak berbahaya, sehingga orang tua zaman dulu pun cenderung membiarkan anak-anaknya asyik bermain dengan tanaman ini tanpa perlu khawatir berlebihan. Justru dari permainan sederhana semacam inilah anak-anak belajar mengenal alam sekitar secara langsung, sesuatu yang mungkin sudah jarang dialami anak-anak masa kini.

Menariknya, di balik statusnya sebagai "mainan alami" anak-anak, pletekan ternyata bukan sekadar tanaman tanpa manfaat. Tumbuhan ini juga dikenal memiliki berbagai kandungan fitokimia seperti alkaloid, flavonoid, triterpenoid, steroid, dan saponin, yang di beberapa daerah bahkan dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan tradisional untuk berbagai keluhan kesehatan. Jadi, selain menjadi sumber keceriaan bagi anak-anak, pletekan juga menyimpan nilai guna yang lebih dalam bagi masyarakat sekitarnya.

Sayangnya, seiring perkembangan zaman dan menjamurnya gawai serta mainan digital, semakin sedikit anak-anak masa kini yang mengenal permainan sesederhana ini. Padahal, momen mencari dan memainkan pletekan dulu bukan hanya soal hiburan, tetapi juga cara anak-anak belajar bersosialisasi, mengenal lingkungan, dan menciptakan kegembiraan dari hal-hal kecil di sekitar mereka tanpa bergantung pada teknologi.

Kini, pletekan tetap tumbuh liar di banyak sudut kota maupun desa, meski mungkin tidak lagi dilirik anak-anak sebagai teman bermain seperti dulu. Namun bagi mereka yang pernah merasakan serunya menunggu buah pletekan meletup di tangan, tanaman kecil berbunga ungu ini akan selalu menjadi bagian tak terlupakan dari kenangan masa kecil, pengingat sederhana bahwa kebahagiaan tidak selalu perlu dibeli, kadang ia tumbuh liar begitu saja di pinggir jalan. (RIA)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....