Inflasi Sumenep Juni 2026 Hanya 0,01 Persen, Terendah di Jawa Timur

  • 05 Jul 2026 17:20 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep - Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep mencatat inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) pada Juni 2026 sebesar 0,01 persen, menjadikan Kota Keris sebagai daerah dengan angka inflasi bulanan terendah di Jawa Timur.

Kepala BPS Kabupaten Sumenep, Handoyo Wijoyo, mengatakan capaian tersebut menunjukkan pergerakan harga barang dan jasa di Sumenep relatif stabil. Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) hingga Juni 2026 tercatat sebesar 2,08 persen, atau menjadi yang terendah kedua di Jawa Timur setelah Kota Surabaya.

"Inflasi merupakan indikator yang menggambarkan perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Pada Juni 2026, inflasi bulanan Sumenep sebesar 0,01 persen, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 2,08 persen," ujar Handoyo, Minggu 5 Juli 2026.

Menurutnya, angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen, sehingga mencerminkan kondisi harga yang relatif terkendali.

Handoyo menjelaskan, inflasi Juni 2026 terutama dipicu oleh kenaikan harga pada tiga kelompok pengeluaran, yakni transportasi yang memberikan andil inflasi sebesar 0,08 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,04 persen, serta pakaian dan alas kaki sebesar 0,01 persen.

Dari kelompok transportasi, komoditas yang paling besar mendorong inflasi adalah bensin dengan andil 0,07 persen, disusul angkutan udara sebesar 0,01 persen.

Sementara itu, pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, kenaikan harga emas perhiasan menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,04 persen, diikuti pembalut wanita sebesar 0,01 persen.

Sedangkan pada kelompok pakaian dan alas kaki, kenaikan harga seragam sekolah wanita turut memberikan andil terhadap inflasi, meski nilainya masih di bawah 0,01 persen.

Di sisi lain, Handoyo mengungkapkan sejumlah komoditas pangan justru mengalami penurunan harga sehingga mampu menahan laju inflasi pada Juni.

Komoditas tersebut meliputi cabai rawit, daging ayam ras, kangkung, sawi hijau, bayam, kacang panjang, ketimun, bahan bakar rumah tangga, cabai merah, serta telur ayam ras.

Ia menilai stabilnya inflasi menunjukkan keseimbangan antara permintaan masyarakat dan ketersediaan barang di pasar. Meski demikian, pemantauan terhadap perkembangan harga tetap perlu dilakukan mengingat inflasi berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat dan biaya hidup.

"Inflasi menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi. Karena itu, stabilitas harga perlu terus dijaga agar daya beli masyarakat tetap terpelihara," ucap Handoyo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....