Ngumbar Konflik Rumah Tangga di Medsos Berbahaya
- 05 Jul 2026 08:01 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Mengunggah persoalan rumah tangga ke media sosial dinilai dapat memicu dampak negatif yang lebih besar daripada manfaatnya. Selain berpotensi memperkeruh konflik, tindakan tersebut juga dapat merusak martabat pasangan, memengaruhi hubungan dengan keluarga besar, hingga meninggalkan jejak digital yang sulit dihapus.
Hal itu disampaikan Pengurus LKKNU, Mahshusatul Hasanah, dalam sebuah diskusi mengenai fenomena semakin maraknya pasangan muda yang mengekspos konflik rumah tangga di media sosial demi mencari simpati, validasi, atau sekadar mengikuti tren.
Menurut Mahshusatul, persoalan keluarga seharusnya diselesaikan secara pribadi dan tidak dijadikan konsumsi publik. Ia menilai informasi yang disampaikan di media sosial umumnya hanya berasal dari satu sudut pandang sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan merugikan pihak lain.
"Kalau kita punya persoalan dengan pasangan, jangan langsung diposting di media sosial. Jagalah wibawa dan cinta pasangan dengan tidak mengunggah persoalan rumah tangga ke ruang publik," ujar Mahshusatul.
Ia menjelaskan, banyak orang mengunggah konflik rumah tangga karena ingin meluapkan emosi, mencari validasi, atau berharap mendapatkan dukungan dari warganet. Namun, langkah tersebut justru dapat membuka peluang munculnya komentar negatif hingga campur tangan pihak lain yang memperumit penyelesaian masalah.
Selain itu, Mahshusatul mengingatkan bahwa jejak digital tidak mudah hilang. Meski pasangan telah berdamai, unggahan yang pernah dibuat tetap dapat diakses, disimpan, atau disebarluaskan kembali sehingga berpotensi memengaruhi citra keluarga di kemudian hari.
Menurutnya, konflik rumah tangga sebaiknya diselesaikan melalui komunikasi langsung dengan pasangan. Apabila kondisi emosional belum memungkinkan, ia menyarankan agar perasaan terlebih dahulu dituangkan dalam bentuk tulisan atau disampaikan melalui pesan singkat sebelum berdiskusi secara tatap muka.
"Kalau belum bisa berbicara langsung karena emosi masih tinggi, tuliskan dulu apa yang dirasakan atau sampaikan melalui pesan kepada pasangan. Yang terpenting, tujuan komunikasi adalah mencari solusi, bukan mencari pembenaran," katanya.
Mahshusatul juga menekankan bahwa apabila persoalan sudah menemui jalan buntu, pasangan dapat melibatkan pihak ketiga yang dipercaya, seperti keluarga, tokoh masyarakat, atau konselor. Namun, hal itu harus dilakukan dengan tujuan mencari jalan keluar, bukan untuk mempermalukan pasangan.
Ia menilai keterbukaan di media sosial sering kali justru memperlebar konflik karena memancing penilaian publik. Bahkan ketika pasangan telah rujuk, komentar dan stigma dari masyarakat belum tentu ikut berhenti.
Di sisi lain, konflik yang diumbar ke ruang publik juga dapat berdampak kepada keluarga besar. Orang tua maupun kerabat dapat ikut terbebani secara emosional setelah mengetahui persoalan rumah tangga anaknya melalui media sosial atau dari cerita orang lain.
Mahshusatul mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih bijak menggunakan media sosial dan mampu membedakan antara kebutuhan membangun citra diri dengan menjaga privasi keluarga.
"Jagalah muruah, martabat, dan kehormatan pasangan. Keutuhan rumah tangga jauh lebih berharga daripada kemenangan sesaat di media sosial," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....