SOMA Hadirkan Semangat Pelestarian Keris

  • 26 Jun 2026 04:14 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep: -"Saya berharap Keris Ini menjadi Budaya yang Harus Dipertahankan" Faruq Hanafi, S.Sos., M.Si., Kepala Disbudporapar Kabupaten Sumenep.

Kalimat itu terucap di tengah suasana yang hangat, saat SOMA: The Spectrum of Madurese Arts resmi berkolaborasi dengan Jamasan Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi, Selasa, 23 Juni 2026. Dalam sebuah acara yang mengangkat keris sebagai pusat perhatian.

Kolaborasi ini bukan sekadar pertemuan dua pihak, melainkan sebuah upaya nyata untuk mendekatkan generasi muda pada warisan budaya yang telah lama hidup di tanah Madura.

Acara berlangsung dengan tertib dan dipandu oleh Master of Ceremony (MC) sejak awal pembukaan. Hadir dalam kesempatan ini Dekan FISIP Universitas Wiraraja, Kepala Program Studi DKV, dosen Prodi DKV, serta Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Sumenep, yang turut menyaksikan langsung jalannya kegiatan.

Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan nyata terhadap kolaborasi antara dunia akademik dan tradisi budaya lokal.

Sambutan resmi disampaikan oleh Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Sumenep, Faruq Hanafi, S.Sos., M.Si. Dalam pesannya, beliau tidak hanya meresmikan acara, tetapi menitipkan sebuah tanggung jawab kepada para mahasiswa untuk terus mengenal dan menjaga apa yang telah diwariskan.

Sambutan ditutup dengan sesi foto bersama dan pemotongan pita sebagai tanda dimulainya rangkaian acara secara resmi.

Ruang pameran menjadi panggung bagi mahasiswa DKV untuk berbicara lewat karya. Sketsel-sketsel berjejer rapi menampilkan hasil eksplorasi mereka terhadap tema keris, mulai dari Nirmana 2D, Nirmana 3D, ilustrasi, hingga lukisan yang masing-masing punya cara tersendiri dalam memaknai benda pusaka itu. Setiap karya dijaga oleh panitia yang siap menyambut siapa pun yang ingin bertanya lebih jauh.

Yang paling mencuri perhatian di antara semuanya adalah sebuah cerita digital yang hadir dalam wujud poster. Cukup arahkan kamera ke kode QR yang tertera, dan cerita pun terbuka langsung di genggaman. Sebuah cara yang segar untuk menghadirkan tradisi dalam bahasa yang akrab bagi anak muda.

Audiens bergerak pelan di antara karya-karya itu. Ada yang berdiam lama di depan satu sketsel, ada yang berdiskusi, ada yang langsung mengarahkan kamera ponselnya ke barcode. Semua bermuara pada satu hal yang sama, yaitu keris, dan cerita panjang yang tersimpan di baliknya.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....