Zuhud: Ketika Hati Belajar Pasrah Tanpa Dikuasai Dunia

  • 23 Mei 2026 18:35 WIB
  •  Sumenep

Makna Zuhud di Tengah Kehidupan Modern, Bukan Menolak Dunia tetapi Mengendalikan Hati

RRI.CO.ID, Sumenep – Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh persaingan, istilah zuhud masih sering dipahami secara keliru. Tidak sedikit yang menganggap zuhud identik dengan kemiskinan, hidup serba kekurangan, atau menjauh dari urusan dunia. Padahal dalam ajaran Islam, zuhud lebih menekankan pada sikap hati yang tidak bergantung pada kenikmatan dunia.

Zuhud bukan berarti meninggalkan pekerjaan, harta, maupun kehidupan sosial. Seseorang tetap dapat bekerja, memiliki usaha, dan hidup berkecukupan. Namun seluruh pencapaian tersebut tidak menjadi pusat kecintaan dalam hidupnya. Dunia dipandang sebagai titipan sekaligus sarana untuk beribadah kepada Allah SWT.

Penyuluh Islam Kemenag Sumenep, Washilur Rahman, menjelaskan bahwa sikap zuhud membuat seseorang lebih tenang dalam menghadapi perubahan hidup.

Menurutnya, orang yang memiliki sifat zuhud akan tetap bersyukur ketika memperoleh rezeki dan tetap sabar ketika menghadapi kehilangan atau musibah. Sikap tersebut melahirkan ketenangan batin karena seseorang menyadari bahwa seluruh yang dimiliki berasal dari kehendak Allah SWT.

Dalam dialog bersama RRI pada Sabtu 23 Mei 2026, ia mencontohkan sejumlah tokoh dalam sejarah Islam yang dikenal memiliki sifat zuhud. Salah satunya adalah Hasan al-Basri yang dikenal sederhana dan tidak silau terhadap kemewahan dunia.

“Hasan al-Basri menekankan bahwa manusia sebaiknya tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama, karena kehidupan akhirat jauh lebih kekal,” ujarnya.

Tokoh lain yang dikenal dengan nilai kezuhudan adalah Rabi'ah al-Adawiyah. Ia mengajarkan pentingnya mencintai Allah secara tulus tanpa mengharapkan pujian manusia ataupun kenikmatan dunia. Menurut pandangannya, ketenangan hidup lahir ketika hati sepenuhnya berserah kepada Tuhan.

Nilai zuhud juga tercermin dalam kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz. Meski memegang kekuasaan besar, ia dikenal tidak hidup berlebihan dan memilih menggunakan amanah kepemimpinannya untuk melayani rakyat.

Washilur Rahman menilai konsep zuhud tetap relevan diterapkan di masa sekarang. Ketika banyak orang merasa lelah mengejar pengakuan, jabatan, atau gaya hidup mewah, zuhud hadir sebagai pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari materi.

Meski demikian, zuhud bukan alasan untuk berhenti berusaha. Islam tetap mengajarkan umatnya bekerja keras dan mencari rezeki yang halal. Hasil usaha tersebut hanya tidak boleh menjadikan manusia sombong ataupun melupakan nilai-nilai spiritual.

Pada akhirnya, zuhud adalah tentang bagaimana seseorang menempatkan dunia di tangannya, bukan di hatinya. Ketika hati tidak diperbudak oleh ambisi duniawi, seseorang akan lebih mudah menemukan rasa cukup, ketenangan, dan kedekatan dengan Sang Pencipta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....