Di Balik Pernikahan Dini, Ada Dampak Berat yang Dialami Perempuan

  • 12 Mei 2026 13:55 WIB
  •  Sumenep

RRI.CO.ID, Sumenep : Gender Mainstreaming atau pengarusutamaan gender merupakan upaya untuk menciptakan kesetaraan hak dan perlindungan bagi laki-laki maupun perempuan dalam kehidupan sosial. Salah satu persoalan yang masih menjadi perhatian adalah pernikahan dini, khususnya bagi perempuan yang menikah di bawah usia yang telah ditentukan dalam undang-undang perkawinan. Pernikahan pada usia terlalu muda dapat memberikan dampak negatif terhadap masa depan perempuan.

Pernikahan dini sering terjadi karena faktor ekonomi, budaya, lingkungan, dan rendahnya pendidikan. Dalam beberapa kasus, perempuan menikah karena tekanan keluarga atau adat yang masih kuat di masyarakat. Padahal, usia remaja merupakan masa penting untuk belajar, mengembangkan kemampuan, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Menurut anggota Srikandi Keris Sumenep Anisa Novi Liniawati, salah satu kerugian terbesar bagi perempuan yang menikah dini adalah terhambatnya pendidikan. Banyak perempuan yang akhirnya berhenti sekolah setelah menikah atau hamil di usia muda. "Akibatnya, kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang baik menjadi lebih kecil sehingga dapat memengaruhi kondisi ekonomi mereka di masa depan", ujarnya, Selasa 12 Mei 2026.

Selain berdampak pada pendidikan, pernikahan dini juga berisiko terhadap kesehatan perempuan. Tubuh remaja umumnya belum siap menjalani kehamilan dan persalinan. Risiko seperti anemia, gangguan kesehatan reproduksi, hingga komplikasi saat melahirkan lebih besar terjadi pada perempuan yang menikah dan hamil di usia muda.

Dari sisi psikologis, perempuan yang menikah terlalu muda sering belum memiliki kesiapan mental dalam menghadapi tanggung jawab rumah tangga. Kondisi ini dapat menimbulkan stres, konflik keluarga, hingga tekanan emosional. Tidak sedikit perempuan muda yang kehilangan masa remajanya karena harus memikul tanggung jawab sebagai istri dan ibu dalam waktu cepat.

Pernikahan dini juga dapat menyebabkan perempuan mengalami ketergantungan ekonomi terhadap pasangan. Kurangnya pendidikan dan keterampilan membuat sebagian perempuan sulit mandiri secara finansial. Dalam perspektif pengarusutamaan gender, perempuan seharusnya memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, bekerja, dan menentukan masa depan mereka sendiri.

Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama dari keluarga, masyarakat, sekolah, dan pemerintah untuk mencegah pernikahan dini. Pendidikan, pemahaman tentang kesehatan reproduksi, serta dukungan terhadap hak perempuan sangat penting agar perempuan dapat tumbuh dengan baik dan memiliki masa depan yang lebih sejahtera.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....