Literasi Digital Minim Picu Gangguan Mental Anak Signifikan
- 10 Feb 2026 12:32 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Praktisi psikologi klinis dan forensik Jawa Timur, Riza Wahyuni, menyoroti perubahan pola pengasuhan anak yang kini cenderung berbasis layar atau gawai. Fenomena ini menyebabkan ponsel dianggap sebagai instrumen pemberi hadiah atau reward yang justru menjauhkan anak dari pola interaksi sosial yang sehat.
Anak-anak saat ini memiliki akses informasi yang sangat luas melalui dunia digital tanpa batasan ruang dan waktu. Kondisi tersebut menjadi bumerang ketika literasi digital tidak dipahami dengan baik oleh orang tua maupun anak itu sendiri.
Riza mengungkapkan bahwa minimnya pengawasan menyebabkan banyak anak menerima informasi secara mentah tanpa filter yang tepat.
"Informasi itu tidak ada batas, bahkan ajakan bunuh diri pun masuk melalui dunia digital," katanya saat mengisi acara di Sumenep Menyapa RRI Sumenep, Selasa 10 Februari 2026.
Kurangnya literasi digital ini tambah Riza, berisiko tinggi memicu perilaku ekstrem serta gangguan kesehatan mental pada anak usia sekolah. Fakta di lapangan menunjukkan banyak anak mulai terpapar perilaku seksual menyimpang sejak duduk di bangku kelas 1 dan 2 SMP.
Banyak anak belajar dari internet secara membabi buta tanpa memahami esensi dan konsekuensi dari informasi yang mereka terima. Hal ini berdampak pada meningkatnya kasus gangguan mental di mana anak-anak mengetahui cara menyakiti diri sendiri melalui tutorial di dunia maya.
Riza menekankan pentingnya peran orang tua untuk menjadi pendengar utama agar anak tidak mencari pelarian ke dunia digital yang berbahaya.
"Tempat curhat terbaik bagi anak-anak kita adalah orang tuanya," katanya.
Masyarakat diharapkan memiliki kesepakatan bersama untuk menjaga keamanan anak-anak dari paparan informasi digital yang bersifat destruktif. Penguatan konsep perlindungan anak secara kolektif menjadi kunci utama dalam menjaga generasi muda tetap sehat secara mental di era digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....