Lentera Ramadan Bersinar dari Pesantren Umajati Pagerungan
- 06 Mar 2026 16:41 WIB
- Sumenep
RRI.CO.ID, Sumenep - Di ujung timur Kabupaten Sumenep, tepatnya di Pulau Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken, perjalanan laut selama sekitar 13–14 jam dari daratan Madura seolah terbayar dengan sebuah pemandangan sederhana penuh makna. Di pulau yang jauh dari hiruk pikuk kota itu, lentera ilmu pengetahuan memancar dari Pondok Pesantren Umajati, menjadi cahaya kecil yang menerangi kehidupan para santri.
Setiap pagi selama Ramadan, suasana pesantren dipenuhi gema kajian ilmu fiqih dan bimbingan tajwid Al-Qur’an. Para santri duduk bersila di ruang belajar sederhana, menyimak penjelasan dengan penuh khidmat. Meski berada di pulau terpencil, semangat belajar mereka tak pernah surut.
Memasuki sore hari, kegiatan keagamaan kembali bergulir. Seusai salat Asar, para santri membaca Ratibul Haddad, dilanjutkan tadarus Al-Qur’an dan yasinan yang dipersembahkan untuk para donatur. Menjelang waktu berbuka, para santri menyimak kultum singkat sebelum menikmati hidangan buka puasa bersama.

Menariknya, seluruh menu buka puasa dan sahur bagi para santri disediakan secara gratis. Hal itu terwujud berkat kepedulian para donatur yang dengan ikhlas bergotong royong membantu kebutuhan pesantren. Para donatur tidak hanya berasal dari masyarakat setempat dan daratan Madura, tetapi juga dari luar negeri, termasuk Malaysia.
Pengasuh Pondok Pesantren Umajati, Kiai M. Yunus, menuturkan bahwa rangkaian kegiatan Ramadan di pesantren berlangsung sederhana, namun sarat makna.
“Setelah buka puasa bersama, para santri melaksanakan salat Tarawih berjamaah. Kemudian ba’da Subuh diadakan pengajian kitab Ta’limul Muta’allim yang saya isi langsung,” ujarnya.
Pada hari pertama kegiatan Pondok Ramadan atau yang biasa disebut “Pondan”, acara buka bersama juga dihadiri para wali santri. Kehadiran mereka menambah kehangatan kebersamaan di pesantren yang berada jauh dari pusat keramaian.
“Kegiatan Pondan ini berlangsung selama 10 hari, mulai 7 hingga 17 Ramadan,” katanya menambahkan.
Kiai Yunus juga menceritakan bahwa pada awalnya lembaga pendidikan di Umajati hanya berupa madrasah diniyah. Namun seiring waktu, pesantren membuka lembaga pendidikan formal tingkat SMPI. Sejak saat itu, para siswa mulai menetap di pesantren agar proses pembelajaran lebih optimal.
Meski demikian, fasilitas yang tersedia masih sangat sederhana. Asrama santri masih berupa rumah panggung, sementara santri putri sementara waktu tinggal di rumah pengasuh yang disekat.

Nama Umajati sendiri memiliki makna khas. Istilah itu berasal dari dua kata dalam bahasa Mandar, Sulawesi: uma yang berarti kebun atau lahan, dan jati yang merujuk pada pohon jati. Nama tersebut dipilih karena area pesantren memang dipenuhi pepohonan jati.
Secara filosofis, Umajati juga mengandung harapan besar. Pesantren ini diibaratkan sebagai lahan tempat tumbuhnya generasi yang memiliki jati diri kuat sebagai santri serta penerus ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.
“Di pulau yang jauh dari keramaian ini, kami ingin Pondok Pesantren Umajati tetap menyalakan cahaya ilmu. Meski fasilitasnya sederhana, semangat belajar, kebersamaan, dan harapan untuk masa depan generasi muda harus terus hidup,” kata Kiyai Yunus.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....